Bara berusaha menenangkan diri, berusaha meyakini, bahwa kelemahan terbesar iblis bukanlah pada rapalan mantra atau jimat-jimat lampau, melainkan pada ketidakmampuan mereka untuk menyentuh jiwa manusia yang memilih untuk ikhlas, logis, dan menolak untuk peduli pada eksistensi mereka.
Dengan jemari yang kembali stabil, Bara mulai mengetik kalimat pertama untuk bab dua novel pesugihannya, siap menguliti kelicikan Ki Slamet lewat rangkaian kata yang rasional.
Danu, si bendahara yang tewas, ternyata meninggalkan sebuah buku catatan keuangan rahasia yang berisi aliran dana korupsi ke sebuah yayasan gaib yang akan menjadi pemantik konflik baru. Bara melepaskan jemarinya dari kibor setelah mengetik plot krusial di Bab 2 novelnya.
Dalam draf fiksi itu, ia pun mendeskripsikan secara detail tentang sebuah buku catatan keuangan rahasia bersampul kulit hitam. Di dalamnya tercatat aliran dana korupsi pabrik tekstil yang disembunyikan Danu di balik dinding keramik palsu di kamar mandi rumahnya.
Namun, mengabaikan teror visual Ki Slamet dan terus memaksa otaknya bekerja dalam tekanan energi negatif yang pekat ternyata menuntut bayaran fisik yang mahal. Saraf di pelipis kiri Bara mendadak berdenyut hebat. Rasa sakit itu menusuk tajam, menyebar ke belakang bola matanya, membuat pandangannya kabur selama beberapa detik.
Bara menyandarkan tubuhnya yang kaku pada kursi kerja. Ia memejamkan mata, menahan erangan sakit.
"Aurora," bisik Bara, suaranya parau. "Lakukan diagnosis mandiri berdasarkan intensitas nyeri di lobus temporal kiri ini."
“Bara,” suara Aurora terdengar dari penyuara telinga. “Sistem mendeteksi peningkatan tekanan darah sistolik Anda hingga 145 mmHg. Secara klinis, Anda sedang mengalami sindrom Hyper-focus Induced Migraine.
Otak Anda dipaksa memproses aktivitas kognitif tingkat tinggi untuk menulis, sembari secara konstan melakukan blocking sensorik terhadap radiasi gelombang mikro dari Ki Slamet. Penumpukan energi kinetik dan ketegangan otot di sekitar selubung saraf otak Anda berada di titik jenuh.”
"Jadi, secara neurobiologis, rasa sakit ini adalah akibat dari mekanisme pertahanan tubuhku sendiri?" Bara mencoba mengonfirmasi lewat logikanya yang mulai melambat.
“Benar. Otak Anda kelelahan karena harus terus-menerus mengabaikan stimulus bau busuk dan distorsi elektromagnetik eksternal. Jika Anda tidak menghentikan aktivitas ini selama beberapa hari, Anda berisiko mengalami kelelahan saraf (burnout) kronis atau distorsi motorik halus.”
Bara menarik napas dalam-dalam, merasakan denyutan di kepalanya yang seirama dengan detak jantungnya. Secara teologis dan psikologis, ia memahami batasan tubuh fana ini. Manusia diciptakan dalam keadaan lemah (QS. An-Nisa: 28), dan memaksakan diri melampaui batas biologis adalah bentuk kezaliman terhadap diri sendiri.
Bara memutuskan untuk menutup laptopnya. Klik. Suara engsel laptop yang menutup terdengar seperti pernyataan gencatan senjata di dalam kamar apartemen yang sepi itu. Ia berniat berhenti menulis selama tiga hari ke depan, membiarkan sel-sel sarafnya melakukan regenerasi (neurogenesis) dan memutus rantai sinkronisitas quantum yang terus-menerus menarik informasi kematian dari masa depan.
Namun, ruangan itu mendadak menjadi terlalu sunyi. Bau busuk got yang biasanya menyengat kini hilang sama sekali, digantikan oleh keheningan yang dingin dan statis. Di bawah pengaruh migrain yang hebat, Bara tahu bahwa Ki Slamet sedang mengamati kebuntuan fisiknya.
Iblis itu tidak perlu menyerang dengan visualisasi mengerikan malam ini; ia cukup membiarkan hukum biologi bekerja meruntuhkan pertahanan Bara dari dalam. Dengan sisa tenaganya, Bara merebahkan diri di atas kasur, mengunci batinnya dalam zikir perlindungan yang sunyi, mencoba memadamkan api rasa sakit yang membakar kepalanya.