Namun, kelegaan fisik itu segera digantikan oleh alarm sensorik yang mengerikan. Udara di dalam ruangan apartemennya memang tidak mengeluarkan bau bangkai tikus got seperti biasanya. Kali ini, penciuman Bara dihantam oleh aroma garam laut yang pekat, bercampur bau karat besi tua dan bahan bakar solar yang terbakar hebat. Bau itu begitu nyata, menempel di dinding tenggorokannya, memicu rasa sesak yang luar biasa.
“Ini bukan lagi sinkronisitas lokal,” batin Arka, mencengkeram pinggiran meja untuk sarana menopang tubuhnya. “Bau solar dan karat laut ini adalah manifestasi dari distorsi energi quantum berskala masif. Sesuatu yang besar sedang hancur di perairan, dan otakku baru saja mendokumentasikannya lewat kata-kata sebelum berita fisiknya sampai ke daratan.
Di sudut ruangan, siluet hitam Ki Slamet bermanifestasi secara samar dalam bentuk riakan udara yang terdistorsi. Iblis itu memancarkan aura kepuasan yang pekat. Ki Slamet tahu, meskipun Bara menolak berkomunikasi secara verbal atau batin, Bara tidak bisa menolak fungsi biologis tubuhnya yang telah disetel oleh garis darah leluhurnya sebagai penangkap takdir bumi.
Sesuai dengan dalil teologi tentang ketetapan kapan dan di bumi mana sebuah musibah terjadi adalah mutlak milik Tuhan. Bara tidak sedang mengutuk atau menciptakan bencana melalui puisinya; ia hanya menjadi saksi pertama dari takdir yang telah diputus di langit, dikirimkan ke bumi, dan terekam lewat ketukan jemarinya yang dingin.
Bara tidak kembali ke tempat tidur. Ia duduk diam di depan televisi layar datar di ruang tengahnya, menatap layar yang menampilkan siaran langsung berita kilat "breaking news" stasiun televisi nasional. Waktu menunjukkan pukul 04.30 subuh, hanya terpaut dua setengah jam sejak jemarinya mengetik puisi kematian itu.
"Breaking News: Kapal Feri KMP Jati Purba Tenggelam di Selat Sunda, Puluhan Penumpang Diduga Terjebak di Lambung Kapal."
Penyiar berita dengan suara bergetar melaporkan bahwa sebuah kapal feri antar-pulau yang mengangkut ratusan penumpang dan kendaraan dari Merak menuju Bakauheni mengalami kebocoran lambung akibat dihantam gelombang tinggi. Kapal tersebut terbalik dan tenggelam sepenuhnya ke dasar selat hanya dalam waktu kurang dari tiga puluh menit.
Bara merasakan rahangnya menjadi kaku. Ia menatap teks berjalan "unning text" di bawah layar televisi yang menampilkan detail kronologi musibah tersebut.
“...Saksi mata menyebutkan lambung besi kapal sempat berguncang hebat sebelum jerit histeris penumpang senyap tersedot arus laut yang pekat. Peristiwa naas ini terjadi di tengah kegelapan malam Selat Sunda...”
Bara menoleh ke arah laptopnya yang masih menyala di atas meja kerja. Kata demi kata dalam berita tersebut beresonansi secara simetris dengan bait puisi yang baru saja ia unggah ke platform digitalnya: Air yang hitam, memeluk lambung besi. Jerit yang senyap, tersedot ke dalam sepi...
"Aurora," panggil Bara, suaranya terdengar sedingin es di pagi buta itu. "Analisis korelasi semantik antara teks puisi 'Tenggelam' dengan data manifes kecelakaan maritim ini."
“Bara,” suara Aurora memantul dari sistem audio ruangan, membawa data analitis yang dingin. “Tingkat kemiripan diksi dan metafora spasial antara tulisan Anda dengan deskripsi saksi mata mencapai angka 94 persen. Berdasarkan garis waktu digital, puisi Anda dipublikasikan empat puluh lima menit sebelum lambung kapal benar-benar pecah di dunia fisik.”