Bara melangkah keluar dari lobi apartemennya, bersiap menghadiri acara peluncuran buku tahunan yang diselenggarakan oleh asosiasi penerbit digital nasional di sebuah hotel bintang lima di kawasan Segitiga Emas Jakarta. Sebagai salah satu penulis dengan pertumbuhan grafik pembaca paling masif di platform, kehadirannya merupakan kewajiban kontraktual yang tidak bisa dihindari.
"Aurora," panggilnya dengan suara rendah sambil menyesuaikan letak dasinya, berjalan menuju area parkir bawah tanah. "Aktifkan enkripsi penuh pada gawai dan pastikan semua data riset neuro-quantum kita terisolasi di peladen lokal."
“Bara,” respons Aurora bergema halus di penyuara telinga nirkabelnya. “Protokol isolasi data tingkat militer telah aktif. Saya juga mendeteksi adanya lonjakan suhu mikro pada area sekitar hotel tempat acara berlangsung. Ada konsentrasi fluks elektromagnetik yang tidak stabil di sana.”
Bara mengabaikan peringatan itu secara fisik, namun secara mental, ia memperketat pertahanannya. Maka, begitu memasuki aula utama hotel yang megah, kilatan lampu kamera dan riuh rendah obrolan para pelaku industri digital langsung menyambutnya.
Di tengah kemewahan interior berlapis emas dan hamparan karpet beludru merah, Bara melihat sesosok pria paruh baya bertubuh tambun yang sedang dikerumuni oleh jurnalis dan beberapa petinggi platform novel. Pria itu adalah Haryo Subroto, seorang politikus senior yang juga menjabat sebagai bendahara umum sebuah partai besar, sekaligus donatur utama acara peluncuran buku malam ini.
Tepat ketika Bara melangkah dalam radius lima meter dari posisi Haryo, indra penciumannya dihantam oleh sebuah ledakan sensorik yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Aroma parfum impor mewah yang melekat pada tubuh sang politikus mendadak lenyap dari reseptor penciuman Bara. Baunya berganti menjadi letupan aroma kotoran manusia yang sangat pekat, bercampur amis darah dan pembusukan bangkai got yang tersumbat lemak.
Baunya begitu busuk dan beracun hingga memicu refleks spasme pada diafragma Bara, membuatnya terpaksa menahan napas dalam-dalam untuk mencegah muntah secara spontan di depan publik.
“Ini adalah tingkat kepadatan energi negatif yang mengerikan,” analisis batin Bara, menggunakan logika psikologi forensik untuk menstabilkan detak jantungnya yang melonjak hingga 105 BPM.
“Secara psikologis dan spiritual, orang yang memegang kekuasaan finansial secara tidak sa, melalui korupsi atau khianat massal, memiliki tingkat stres bawah sadar dan akumulasi emisi energi atomik yang sangat kotor. Energi negatif ini berada di frekuensi paling rendah, beresonansi langsung dengan molekul bau terbusuk di hidungku.”
Bara menatap mata Haryo Subroto dari kejauhan. Di balik senyuman ramah sang politikus yang tersaji di depan kamera jurnalis, ia bisa mendeteksi adanya fluktuasi medan magnet lokal yang berguncang hebat.
Secara teologis, fenomena ini selaras dengan hadits sahih mengenai kondisi ruh orang-orang yang zalim menjelang ajalnya. Saat malaikat maut akan menarik ruh mereka dengan aroma yang lebih busuk dari bangkai paling busuk di muka bumi.
Maka, Bara tidak sedang melihat hantu di aula mewah itu. Ia sedang membaui aroma pembusukan ruh Haryo Subroto yang energinya sudah mendekati titik nadir "energy decay" . Ini menandakan bahwa perintah eksekusi takdir di Lauh Mahfuzh untuk sang politikus sudah diturunkan ke bumi dan tinggal menunggu hitungan waktu fisik.
Di balik pilar marmer aula, bayangan hitam Ki Karep tampak melintas cepat dalam bentuk distorsi optik yang samar. Iblis itu memancarkan getaran kepuasan yang pekat. Ki Slamet sengaja membawa Bara ke hadapan sang bendahara korup ini, meletakkan sebuah dilema moral yang berat di pundak sang penulis.
Apakah Bara harus menggunakan penjelasan ilmiah untuk memperingatkan pria itu tentang kematiannya yang sudah di ambang pintu, atau membiarkan hukum kausalitas takdir berjalan menjemput korbannya?
Ah, ini dia penulis kita yang sedang naik daun!" Suara bariton Haryo Subroto memecah keheningan batin Bara. Politikus tambun itu melangkah mendekat dengan senyum lebar yang tampak begitu simetris di depan jepretan kamera jurnalis.