Begitu Bara mengetik tanda titik pada kalimat kematian Bambang, lampu apartemennya mendadak berkedip padam. Pet! Ruangan itu seketika gelap gulita, hanya menyisakan daya baterai laptop Bara yang masih menyala.
Di tengah kegelapan yang pekat itu, sirkulasi udara di dalam kamar Bara mendadak tersumbat. Bau kotoran manusia yang bercampur dengan anyir darah. Bau yang tadi siang tercium dari tubuh Haryo Subroto kembali meledak di dalam ruangan. Kali ini dengan intensitas molekul yang jauh lebih padat dan busuk menusuk.
“Dia di sini,” batin Bara, menolak untuk mengalihkan pandangan matanya dari layar laptop. Melalui Hukum Termodinamika Dimensi, Bara tahu bahwa pemadaman listrik ini bukan sekadar akibat badai di luar, melainkan efek sekunder dari penyerapan energi listrik ruangan secara masif oleh Ki Slamet yang sedang memadatkan partikel energinya untuk bermanifestasi di dunia fisik. Iblis itu mencoba memanfaatkan ketegangan atmosfer badai malam ini untuk meruntuhkan nyali Bara.
Secara teologis, Bara mengunci jiwanya dengan merapalkan ayat terakhir dari Surah At-Taubah: “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal...” .
Ia tahu, apa yang baru saja diketiknya bukan sebuah sihir untuk membunuh Haryo Subroto, melainkan sebuah rekaman gelombang informasi takdir dari Lauh Mahfuzh yang sudah final, yang ditangkap jaringan saraf hyper focus miliknya sebelum peristiwa fisik itu benar-benar dieksekusi di dunia nyata.
Bara menutup laptopnya dengan tenang di tengah kegelapan. Ia dengan tegar mengabaikan getaran kemarahan Ki Slamet yang mendapati mangsanya tetap sedingin batu karang di tengah badai.
Ia kemudian menyalakan lampu darurat di mejanya setelah lampu padam. Bara menatap langit malam yang kian kelam, ketika awan kumulonimbus bergulung pekat seolah menelan sisa-sisa cahaya senja. Sebuah analisis dingin menyelinap di benaknya di tengah deru angin yang menderu kencang.
Sementara orang lain mungkin hanya melihat amukan cuaca, baginya kegelapan total ini adalah panggung taktis yang sempurna bagi entitas yang tengah dihadapinya. Sebuah strategi psikologis yang brilian sekaligus mengerikan.