Bara pun mereguk kopinya dengan gerakan tangan yang sangat stabil. Sebagai pria yang menolak segala bentuk bias kognitif, ia tahu bahwa pihak berwenang hanya sedang menjalankan fungsi logis mereka.
Secara hukum forensik, kesamaan detail yang terlalu presisi antara sebuah karya fiksi dan tempat kejadian perkara (TKP) pembunuhan atau kematian tidak biasa, memang wajib diselidiki sebagai potensi kebocoran informasi internal atau konspirasi.
"Tok! Tok! Tok!" Terdengar suara ketukan ke pintu apartemen, meskipun telah diduga sebelumnya, tentu tetap membuatnya terkejut.
Ketukan tiga kali di pintu depan apartemen yang dihuni Bara, terdengar kokoh, berat, dan beritme konstan. Nada ketukan yang hanya dimiliki oleh orang-orang dengan otoritas penegakan hukum resmi.
Bara pun meletakkan cangkir tehnya di atas meja kaca. Ia melangkah menuju pintu, membukanya dengan ketenangan seorang pria yang tidak bersentuhan dengan pelanggaran hukum formal.
Di balik pintu, berdiri dua orang pria berjas gelap rapi. Pria di sebelah kanan, berusia sekitar awal empat puluh tahun dengan sorot mata tajam yang terlatih melakukan interogasi forensik, mengeluarkan sebuah lencana penyidik berlapis perak.
"Selamat siang, Pak Arka," ujar pria itu, suaranya bariton dan profesional. "Saya Inspektur Satu Dirga dari Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya. Ini rekan saya, Ajun Inspektur Dua Bayu. Kami rasa, Anda sudah tahu mengapa kami berada di depan pintu Anda ini."
Bara pun mundur satu langkah, membuka pintunya lebih lebar sebagai bentuk kooperasi hukum yang legal,
"Selamat siang, Inspektur. Silakan masuk. Saya rasa ini terkait dengan sinkronisitas quantum antara Bab 3 novel saya dan kematian pak Haryo Subroto subuh tadi. Benarkah?"
Iptu Dirga sempat menghentikan langkahnya selama satu milidetik, alisnya bertaut mendengar istilah "sinkronisitas quantum". Ini sebuah istilah ilmiah yang sangat tidak biasa keluar dari mulut seorang terduga pelaku konspirasi pembunuhan.
Namun, ia segera menguasai ekspresi wajahnya. Ia kemudian melangkah masuk ke dalam apartemen hunian Bara yang bersih, dingin, dan bernuansa minimalis.
Saat kedua polisi itu melintasi batas koridor masuk, Bara mendeteksi adanya riakan udara tipis di sudut langit-langit dekat pendingin ruangan. Bau busuk belerang yang ditinggalkan Ki Slamet semalam mendadak memadat selama sekilas, mencoba menyusup ke dalam hidung Bara. Hal itu dilakukannya untuk memicu paranoia visual di depan para penyidik.
Namun, Bara mengunci fokus kognitifnya pada dasi biru yang dikenakan Iptu Dirga, sehingga ia bisa mengabaikan distorsi udara tersebut sepenuhnya. Sesuai dengan Surah Al-An'am ayat 59, tidak ada satu pun takdir yang bergerak di luar kendali pemilik langit.