Setelah gagal menggunakan kematian Haryo Subroto, kini ia memanipulasi hukum fisika mekanika klasik di jalan raya sebagai upaya mengacaukan emosi Bara. Ia mencoba menciptakan ilusi bahwa Bara adalah pembawa sial atau "penulis maut" yang setiap ketukan jemarinya memakan korban jiwa di dunia nyata. Atau, Bara malah bercerita bahwa dirinya peramal masa depan yang jitu.
Secara teologis, Bara pun memotong bisikan destruktif tersebut dengan mengutip Surah At-Taubah ayat 51 di dalam batinnya, “Katakanlah: 'Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami...'”
Bara memahami secara rasional bahwa kecelakaan di bawah sana adalah akibat dari kelalaian mekanis pengemudi yang tidak merawat sistem rem kendaraannya. Hal itu secara kebetulan quantum frekuensinya tertangkap oleh otak hyper-focus miliknya sebelum benturan terjadi.
Itulah sebabnya, Bara kerap dianggap sombong oleh para wanita yang mencoba mendekatinya. Selain sebagai lelaki ia harus menundukkan pandangan jika ada penampilan yang menggetarkan gairahnya, ia pun tak ingin menatap terlalu lama lawan bicaranya.
Radar hyper-focus yang dimilikinya warisan DNA leluhur, akan dimanfaatkan Ki Slamet untuk memberikan informasi yang akan dialami lawan bicaranya. Informasi hasil mengintip buku nasib tentang usianya, lalu diteruskan kepada "antena" Bara. Selain informasi tersebut belum tentu benar, secara manusiawi, Bara tentu tak sanggup mendengarnya, karena pasti serba salah disampaikan atau tidak? Lalu ia tentu akan tertekan bahkan stress tanpa bisa berbuat apa-apa.
Bara tentu saja tak ingin terjebak dalam Guilt Complex atau rasa bersalah delusif yang dirancang oleh Ki Slamet. Dengan ketenangan total, ia menutup jendela pemantau CCTV tersebut dan membuka lembar kerja baru untuk Bab 5, membiarkan Ki Slamet semakin melemah dan frustrasi karena target generasi ketujuhnya tetap bergeming bagai dinding batu di hadapan teror fisik maupun mental.
Selanjutnya, Bara berdialog dengan Aurora untuk menganalisis mengapa struktur energi Ki Slamet semakin tidak stabil setiap kali Bara berhasil menolak rasa bersalah menggunakan penjelasan ilmiah dan dalil agama.
Layar monitor laptop Bara memancarkan pendar cahaya biru yang statis, menerangi ruang kerjanya yang kini diselimuti keheningan mutlak. Di luar jendela, sisa-sisa asap dari kecelakaan sedan hitam di jalan tol bawah apartemen perlahan menguap, ditiup angin malam Jakarta yang lembap.
Bara duduk bersandar, melipat kedua tangannya di atas dada. Di pergelangan tangan kirinya, jam digital menunjukkan pukul 21.00 WIB. Ini adalah malam penutupan untuk rangkaian panjang manuskrip Volume 4 miliknya.