Rinai hujan semakin lama semakin deras. Aku bersama para sinden anggota karawitan terbagi dalam dua mobil. Suasana semakin membuat canggung karena aku belum bisa mengimbangi komunikasi yang terjalin di antara mereka. Apalagi Wisnu berada di mobil yang berbeda. Kulihat Mbak Okta sudah tertidur pulas. Mbak Wigati sesekali memancing aku untuk ikut dalam obrolan mereka, tapi entah kenapa aku masih canggung. Mobil melesat menyusuri jalan Boyolali-Magelang. Satu kilo meter dari Pasar Cepogo, sopir membanting stir belok ke arah kiri. Sebuah desa yang terkenal dengan sayuran daun adas. Kebanyakan penduduknya menjadikan tumbuhan obat itu sebagai komoditas utama yang bisa mencukupi kebutuhan harian mereka. Sebuah gapura kecil dengan tulisan desa tersebut menyambut kami, nampak di sisi kiri rimbun dengan kebun cengkeh.
Hingga akhirnya mobil kami sampai di rumah lurah desa tersebut. Rumah lurah tersebut berhadapan dengan masjid. Kami disambut dengan ramah oleh panitia bersih desa. Sebenarnya keluargaku memiliki beberapa kerabat di desa ini. Deretan pedagang menghiasi jalanan. Nampak beberapa anak kecil berkejaran sambil membawa jajanan. Setelah turun dari mobil, Wisnu menyeretku. Tangannya tak lepas menggenggam tanganku. Beberapa pasang mata menatap kami dengan perasaan curiga. Ingin sekali aku melepas, tapi tiap akan kulepas dia berhasil menggenggam lebih erat. Hingga ia terpaksa melepas karena Pak Lurah sudah menyambut kedatangannya. Kami masuk ke rumah tersebut untuk menikmati makan siang terlebih dahulu. Kemudian para yogo menyiapkan gamelan yang sudah datang terlebih dahulu. Wisnu menghampiriku yang sedang makan di sudut rumah tersebut.
“Kamu tidak gugup, kan?” tanyanya sambil menyodorkan segelas air putih. Aku menggelengkan kepala. Dia masih merapikan syal hitam pemberiannya yang melingkar di leherku sedari tadi. Senyum hangat terpancar dari wajahnya. Entah kenapa dia tak menghiraukan beberapa pasang mata yang menatap kami dari tadi. Begitu juga dengan Mas Pandu. Dia mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam rumah itu, ketika melihat Wisnu dan aku duduk bersebelahan. Hatiku sebenarnya dihinggapi rasa takut. Iya, aku takut terlalu cepat jatuh cinta padanya. Hubungan kami hanyalah sebuah hubungan pertemanan yang saling menguntungkan. Ya, dia memanfaatkanku sebagai kompas di kota ini, sementara aku memanfaatkannya untuk mendongkrak nilaiku saja. Aku takut semua berubah. Absurditas rasa ini terlalu rumit. Tapi, ada satu hal yang membuatku sadar. Dia terlalu membuatku nyaman.
Para sinden senior memberikan aba-aba agar segera mempersiapkan diri. Wisnu membawakan beberapa perlengkapanku. Hanya ucapan terima kasih yang bisa keluar dari mulutku. Mbak Okta menggodaku setelah Wisnu berlalu. Kepeduliannya membuat orang lain akan berpikir bahwa ada sesuatu di antara kami. Seiring dengan jam terbang yang semakin tinggi, aku tak lagi kesulitan memasang sanggul dan merias wajah sendirian. Setelah semua selesai, kami bergegas menuju panggung. Mbak Wigati menghentikan langkahku.
“Ada apa, Mbak?” tanyaku penasaran. Mbak Wigati menyodorkan aku sebuah benda yang tak terpikir sebelumnya. Sebuah benda berwarna merah muda dengan aksen renda-renda diberikan Mbak Wigati.
“Seorang sinden butuh benda ini,” jawabnya sambil berlalu membawa dingklik berwarna hitam di tangan kirinya dan tas jinjing berwarna coklat di tangan kanannya. Kami duduk berjejer di depan layar dan deretan wayang yang tertancap rapi.
“Titipan Wisnu,” bisik Mbak Wigati.
Aku benar-benar tak bisa berkata-kata ketika mengetahui hal tersebut. Irama gamelan terdengar mendayu-dayu menandakan petalon/talu segera di mulai. Gending ayak-ayakan slendro menyura dibawakan Mbak Wigati dengan sangat merdu. Jam terbang yang tinggi membuat suara Mbak Wigati semakin berkarakter. Setelah petalon selesai, Wisnu naik ke atas panggung. Tak kusangka, pria berkacamata yang sering mengganggu keseharianku menjelma menjadi sesosok dalang yang karismatik ketika naik ke panggungnya. Dengan beskap berwarna cream dan juga jarik serta blangkon yang serasi. Kehadirannya membuat mata penonton yang datang tak lepas darinya. Sesampainya di depan layar, dia menoleh ke arahku. Senyum hangat itu kembali merekah dari bibirnya. Entah kenapa hatiku berdebar ketika melihatnya. Antara gugup dan rasa yang tak pernah kutahu namanya itu berkolaborasi membuat keringat dingin mengucur dari tanganku. Wisnu akan membawakan lakon ”Sri Mulih” siang ini. Lakon ini berkisah tentang negara Amarta yang dilanda paceklik karena ditinggal pergi Dewi Sri. Sang Dewi pangan ini pergi karena merasa diabaikan oleh para elite negara tersebut. Mereka terlalu sibuk dengan masalah politik untuk menghadapi perang Bhatarayuda. Oleh saran Bodronoyo meminta memboyong Dewi Sri kembali ke Amarta. Puntadewa menyetujui usulan tersebut, dia memerintahkan Arjuna untuk mencari Dewi Sri. Aku mendengar detail lakon ini ketika bersama Wisnu beberapa hari yang lalu ketika kami bertemu di kampus. Dia juga menjadi pendengar pertamaku saat itu saat latihan terakhirku.