Badai keraguan kembali menyelimuti hatiku. Antara marah, senang, kesal, semua campur menjadi satu. Mereka telah berkolaborasi membuat hatiku kian galau. Aku menangis di dalam kamar. Bantal berwarna merah semakin basah dengan air mata yang masih terus mengalir. Aku mengamati cincin yang melingkar di jari manisku. Buat apa dia melukis kisah yang manis kalau akhir cerita sudah tertebak? Akhirnya dia akan meninggalkanku sendiri di sini. Dia akan kembali ke asalnya. Tempat yang entah terletak di mana. Sisi bumi yang belum pernah kupijak. Butuh berapa langkah untuk mencarinya di sana. Tapi, apa aku sanggup untuk mencarinya? Tangisku pecah. Entah kenapa semakin lama semakin sesak dada ini.
Sebuah pesan dari Citra membuatku menghapus air mata. Sebuah brosur paket wisata terpampang di layar ponselku. Tak ada keterangan dalam foto tersebut. Kulempar ponselku ke tumpukan buku. Tak disangka suara dobrakan pintu mengagetkanku. Citra datang, gadis cerewet itu masih mengenakan helm di kepalanya. Senyum cerianya langsung pudar ketika melihatku terpuruk di atas kasur.
“Ada apa, Sya?”
Aku menghapus air mata yang ada di sudut mata.
“Kayaknya aku butuh piknik,” jawabku sambil sesenggukan.
“Hum… selesai ujian kita ke Karimunjawa. Menginap di hotel tiga malam, siang harinya kita explore pantai di sana. Bagaimana?” ajak Citra dengan semangat. Aku hanya mengangguk. Seketika Citra mengetik sesuatu di ponselnya. Nampak dia begitu antusias. Memang sudah lama dia berencana mengajakku ke sana. Tapi, aku belum tertarik. Kali ini aku ingin pergi bersamanya. Citra satu-satunya teman kampusku yang bisa kupercaya. Seseorang bisa menjadi keras dan kejam bukan berarti karena sifat aslinya. Tapi, ada beberapa hal yang membuatnya bersikap seperti itu. Ada kalanya respon seseorang tergantung pada sikap yang diterimanya. Semua tergantung bagaimana kamu memulai. Begitu pula diriku, semester ini aku memilih hidup dalam kesendirian di balik riuhnya suasana perkuliahan. Aku merasa teman-temanku memandangku dengan tatapan kebencian. Hal tersebut yang membuatku lebih memilih untuk menyingkir. Apalagi akhir-akhir ini masalah datang silih berganti. Semua menguras tenaga, pikiran dan waktuku. Kedewasaanku benar-benar diuji.
Beberapa kali Wisnu mendatangiku di kos. Aku berusaha bersembunyi di kamar tetangga atau di kamar mandi. Yang terpenting aku tidak bertemu dengannya. Dia selalu datang menitipkan makanan pada teman kosku.
“Nih!” kata Mbak Nia menyodorkan plastik hitam, “dia itu cowok baik. Kenapa kamu terus menghindar? Sampai kapan?”
“Sampai dia pulang ke negaranya, Mbak. Terima kasih, ya,” jawabku sambil meraih plastik hitam tersebut.
Aku masuk ke dalam kamar. Kubuka plastik tersebut, sebuah kotak nasi tampak di dalamnya. Ada sebuah surat di atasnya. Kuraih kertas berwarna merah muda tersebut.
Aku tidak tahu alasan apa yang membuat kamu menghindariku. Tapi, ada satu hal yang harus kamu ketahui. Aku tidak main-main denganmu, aku serius. Kamulah satu-satunya alasan aku bertahan di sini. Jika kamu benar-benar tidak menginginkan aku, cintaku tak akan pergi. Tak usah kau ragukan cintaku kepadamu. Kau telah membangun istana megah di hatiku. Laasya, kumohon tetaplah bersamaku!
Mendung di hatiku kembali hadir. Aku tak tahu apakah yang kulakukan benar atau tidak. Wisnu hadir disaat aku baru patah hati. Aku takut perasaan ini hanyalah sebuah pelampiasan sesaat. Aku tidak ingin menyakiti siapa pun. Sebelum menuju Karimunjawa, aku ingin bertemu Paklik Haryanto dan juga Rinjani.
“Kalau menurut Paklik, asalkan pria itu mau bertanggung jawab, baik dan setia tidak masalah walaupun dia orang luar negeri,” ucap Paklik Haryanto sambil memotong wortel untuk makan siangnya.
“Tapi, jika aku harus dibawa ke negaranya bagaimana dengan Mamak?”
“Ada aku, Sya. Kamu masih ragu dengan Paklik?”
“Bukan begitu.”
“Paklik sudah bertemu dengan Wisnu sewaktu dia menginap di rumahmu. Kebetulan pas Paklik datang, kamu sudah tidur. Paklik sempat berbincang dengannya dan menurut Paklik dia anak yang baik.” Aku hanya diam tak mengomentari ucapan Paklik.
“Aku akan bantu bicara kepada Mamakmu,” ucapnya sambil meraih kembang kol yang ada di depanku, “percayalah padanya. Dia datang ke sini hanya untuk kamu. Apakah kamu mau menyia-nyiakan pria seperti itu?”
Aku menggeleng. Paklik tersenyum kepadaku, kemudian berkata, “Mulailah bergandengan tangan mengejar mimpi-mimpi kalian.”
Mimpi? Mimpiku sekarang hanya ingin segera menyelesaikan kuliah. Kemudian mencari pekerjaan yang lebih baik. Mungkin guru atau pelatih tari. Tak mungkin selamanya aku menjadi sinden dari panggung ke panggung.
Setelah membantu Paklik memasak, aku bergegas ke rumah Rinjani. Wajah sahabatku itu nampak pucat.
“Kamu kenapa? Sakit?” tanyaku penasaran.
“Aku hamil, Sya!” pekiknya sembari tersenyum. Ya Tuhan, yang kutahu Rinjani tak pernah mencintai lelaki yang menikahinya, tetapi kenapa sekarang dia hamil? Aku hanya melongo.