Gending Hati

Sriasih (Asih Rehey)
Chapter #20

Bagian 20

Deburan ombak Pantai Kartini menemani langkah kakiku bersama Citra. Kami mencari tempat sarapan sebelum membeli tiket untuk menyeberang. Sebuah warung soto menjadi tempat sarapan kami. Entah kenapa kenangan bersama Wisnu tiba-tiba muncul dengan tiba-tiba. Dulu kami juga pernah sarapan di sebuah warung soto. Saat itu Mas Bayu datang secara tiba-tiba. Kehilangan dua orang yang dicintai, apa aku sanggup untuk menghadapinya? Sebelum nafsu makanku hilang, segera kubuang jauh-jauh pikiranku mengenai mereka berdua. Citra nampak lahap menyantap soto khas Jepara. Kami berjalan kaki menyusuri jalanan menuju Pelabuhan Kartini. Sesampainya di pelabuhan, kami segera menuju loket tiket. Hari ini kami akan naik KMP Siginjai. Waktu yang kami butuhkan untuk sampai di Pelabuhan Karimunjawa sekitar empat jam. Ah, pukul sebelas lebih kami bisa menginjakkan kaki di Pulau Karimunjawa. Rasa sedihku sirna setelah kami menaiki kapal. Semilir angin dan pemandangan laut lepas yang terlukis di sekeliling membuatku larut dalam suasana yang damai. Kami duduk di dek paling atas, Citra sangat antusias dia mengajakku berswafoto. Gadis ini memang tak pernah berubah. Entah sudah berapa jumlah foto di dalam memori ponselnya sepanjang perjalanan kami. Ponselku sudah mati, yang bisa kulakukan hanyalah menikmati suasana.

Saat ini bukan waktunya untuk bergalau ria. Percuma aku menghabiskan beratus-ratus ribu jika hanya tenggelam dalam rasa galau. Suara klakson kapal berpadu dengan deburan ombak menemani perjalanan kami. Setelah capek mengambil gambar, aku dan Citra memutuskan untuk tidur sebentar. Ternyata tidur di atas kapal tidak senyaman yang kukira. Mataku enggan terpejam, berbeda dengan Citra gadis itu sudah mendengkur dari tadi. Di dalam kapal ini banyak sekali kendaraan yang akan menyeberang. Sangat disayangkan kami tidak membawa sepeda motor. Mau tidak mau setelah sampai kami harus mengeluarkan uang untuk menyewa motor.

 Aku berdiri di sisi kapal mengamati Pulau Jawa yang kian terlihat semakin jauh dan juga Pulau Karimunjawa yang kian mendekat. Laut biru berpadu dengan hijaunya pepohonan nampak di depan mataku. Sesekali kulihat buih air laut yang tercipta di sekitar kapal. Lekuk setengah lingkaran menghiasi wajahku. Saatnya bersenang-senang. Dengan terpaksa aku membangunkan Citra. Dia tampak mengusap bekas air liurnya di sudut bibirnya. Aku tak kuasa menahan tawa. Gadis berzodiak Cancer itu tampak kesal melihatku.

Kapal yang kami tumpangi hanya melakukan penyeberangan selama dua hari sekali. Beruntung Citra selalu mencari informasi tentang sarana transportasi menuju Pulau Karimunjawa sebelum kami berangkat. Jiwa petualang kami memang hampir sebelas dua belas, sayangnya kami hanyalah mahasiswa dengan dompet pas-pasan. Ingin sekali menginjakkan kaki di seluruh bumi nusantara tapi apalah daya kami. Hanya terpendam dalam dreambook.

Setelah berlayar selama empat jam lebih, akhirnya aku dan Citra menginjakkan kaki di Pulau Karimunjawa. Kapal merapat ke dermaga secara perlahan. Mobil dan kendaraan roda dua turun dari kapal secara bergantian. Aku dan Citra larut dalam antrian pula. Wajah Citra tampak berseri-seri, sudah lama dia ingin sekali menikmati keindahan pulau ini. Setelah kami keluar dari Pelabuhan Karimunjawa gapura selamat datang menyambut kedatangan kami. Citra berteriak keras sambil meregangkan badannya.

It’s time to holiday!” pekiknya sambil menghembuskan nafas panjang.

Citra sudah memesan hotel sebelumnya. Sahabatku ini memang bisa diandalkan untuk masalah traveling. Kami menginap di hotel D’season. Hotel itu tidak jauh dari Pelabuhan Karimunjawa. Penampilan luar hotel tersebut cukup memanjakan mata. Aku dan Citra menuju resepsionis hotel tersebut. Setelah selesai check in, kami bergegas menuju kamar kami. Hotel tersebut dilengkapi dengan sebuah kolam renang yang cukup luas. Banyak sekali pohon kelapa yang tumbuh di hotel tersebut. Deretan kursi tertata rapi di sebelah kolam renang. Aku sudah tak sabar untuk melihat pemandangan di luar. Kubuka tirai kamar, nampak birunya laut terbentang di hadapanku. Citra sudah merebahkan badan di ranjang. Isi tas ranselnya memang cukup berat.

“Kita makan siang dulu, ya! Setelah itu aku akan tanya ke pegawai hotel tempat penyewaan sepeda motor,” ucap Citra sambil berguling-guling di atas kasur.

“Ya.”

Aku hampir lupa, ponselku masih kucolokkan di powerbank. Segera kuraih tas ranselku dan mengeluarkan ponselku. Dering tanda menyala sudah terdengar, perlahan layar dengan wallpaper gambar taburan bintang muncul. Aku menunggu ponselku berdering, tapi tak satu pun pesan yang berasal dari Wisnu. Ah, kenapa harus memikirkan lelaki itu di saat seperti ini? Bukankah aku berlibur agar bisa melupakan dia?

Aku kaget setelah Citra tiba-tiba terperanjat. Dia sibuk mencari peralatan mandinya dan bergegas ke kamar mandi. Aku masih sibuk dengan ponselku, sesekali aku melihat kontak Wisnu di layar. Aku ingin menghubunginya, tapi entah kenapa aku enggan melakukannya. Yang kulakukan hanyalah menikmati pemandangan dari balkon kamar kami. Untuk ketiga kalinya aku jatuh cinta, tapi untuk ketiga kalinya aku terluka. Aku tidak ingin jatuh cinta lagi. Ada banyak hal yang harus dilakukan selain memikirkan cinta. Biarlah dia datang dengan sendirinya, tapi aku tak akan memaksakan diri untuk jatuh cinta lagi. Citra nampak segar setelah mandi, dia menyuruhku untuk segera mandi. Setelah itu kami harus mencari makan di restoran hotel. Lalu, kami akan melanjutkan petualangan kami. Makanan di restoran hotel cukup memanjakan lidah. Nasi panas dan gulai ikan laut menjadi menu makan siang kami. Beruntung kami tidak usah repot-repot mencari tempat penyewaan motor, salah satu karyawan hotel tersebut bersedia menyewakan salah satu sepeda motornya kepada kami.

“Kami bawa dulu ya, Pak,” ucap Citra sembari menghidupkan sepeda motor matic berwarna biru dengan kombinasi warna putih tersebut.

“Hati-hati, Mbak,” balas Pak Imran. Dia adalah karyawan hotel. Rumahnya tidak jauh dari hotel yang kami singgahi.

Citra sudah ribut agar mengabadikan momen perjalanan kami ke Pantai Batu Topeng. Jalanan menuju tempat itu sudah cukup bagus. Deretan rumah penduduk berjejer di sekeliling jalan. Semilir angin menemani kami sambil bercerita pemandangan apa saja yang kami lihat. Tibalah kami sampai di Pantai Batu Topeng. Setelah memarkirkan sepeda motor, aku dan Citra segera berlari menuju pantai. Citra tampak santai dengan celana pendek dan kaos berwarna kuning. Sedangkan aku, aku memakai dress pendek tanpa lengan berwarna putih. Hamparan pasir berwarna putih dengan air lautan yang jernih menyambut kedatangan kami. Citra sudah tidak sabar, dia sudah berlarian menuju air. Tampaknya gadis itu benar-benar bahagia bisa sampai di tempat tersebut. Aku duduk mengamatinya dari kejauhan. Aku hanya melihat sekeliling sambil melihat tingkah lucu Citra. Dia memanggil-manggilku, tapi aku masih enggan menghampirinya. Hingga dia menyeretku. Kami berdua akhirnya bermain air layaknya anak kecil. Tawa tanpa beban menghiasi sore kami. Puas berlarian dan mengambil gambar, kami duduk di atas pasir putih sambil menikmati senja.

Citra meninggalkan aku sendirian, dia pamit ingin ke kamar mandi. Sebuah kejutan menghampiriku. Suara petikan gitar membawakan lagu Beautifull in white terdengar dari belakangku.

Not sure if you know this

But when we first met

I got so nervous I couldn’t speak

In that every moment

Lihat selengkapnya