Hari berganti hari tak terasa aku bisa berbaur dengan masyarakat di negara ini. Dinar sering mengajakku melakukan kegiatan sosial di sebuah panti jompo. Setidaknya kegiatan ini bisa mengalihkan rasa rindu pada keluargaku di seberang samudera. Sore yang dihiasi gerimis tipis. Sebuah bianglala hadir di angkasa. Aku tertegun melihatnya, sudah lama sekali tak kulihat kilauan susunan cahaya berwarna. Sungguh Tuhan sedang berbaik hati menyuguhkan pemandangan nan cantik sore ini. Malam ini aku dan Laasya berlatih di sanggar milik Ki Anom. Beliau memintaku untuk membantu pementasan wayang untuk acara di sebuah kabupaten. Lakon yang harus kubawakan juga belum mendapat balasan dari pihak pemilik acara. Hal itu membuatku agak gundah. Tak bisa kupungkiri, sebagai seorang dalang harus mengerti jalannya sebuah lakon dan hafal di luar kepala segala percakapan di antara para tokoh.
Maka sebagai seorang dalang harus banyak prihatin agar Tuhan berkenan membantunya dalam kelancaran sebuah pementasan. Dalang dianggap orang suci karena kebanyakan dari mereka memiliki kekuatan spiritual yang tak dimiliki oleh kebanyakan orang. Hal tersebut adalah buah dari jerih payah mereka mendekatkan diri pada Tuhan. Walaupun dianggap makhluk suci, kenyataannya mereka juga manusia biasa yang punya sisi kekurangan. Manusia paling suci hanyalah Kanjeng Nabi.
Di bawah lampu temaram, kulihat Laasya dan anggota karawitan pengiring Ki Anom berlatih. Suara gamelan dan suara sinden menyatu menciptakan sebuah harmoni yang apik. Laasya sangat antusias dalam latihan ini. Tak bisa kupungkiri ia memang gadis yang senang mempelajari hal-hal berbau seni. Beberapa kali kulihat Mbak Wigati memberinya pengarahan. Ki Anom menepuk bahuku, ia menginginkan aku untuk ikut bersamanya. Kami berdua berjalan ke teras rumah yang penuh dengan tanaman hias. Mitha sudah duduk di kursi yang biasanya kami gunakan untuk diskusi. Gadis itu sepertinya memang sengaja menunggu kehadiran kami. Wajahnya berseri diterpa angin malam. Ia juga menyiapkan beberapa camilan dan dua gelas kopi untukku dan ayahnya. Sebuah kebiasaan baru yang dilakukan oleh keluarga Ki Anom. Biasanya asisten rumah tangganya yang menyiapkan kopi untukku. Entah kenapa setelah kepulangan Mitha, ia jadi menggantikan peran itu. Kami berdua berdiskusi tentang lakon-lakon yang mungkin akan kami bawakan, sedangkan Mitha hanya duduk dengan anteng mengamati kami berdua berdiskusi. Sesekali pandangannya mengarah kepadaku. Tak bisa kupungkiri gadis itu sepertinya tertarik padaku.
Wanita kesekian kali yang berusaha menarik perhatianku. Tapi sayang, ia akan bernasib sama seperti mereka yang kuabaikan. Walaupun ia putri guruku, itu tak berpengaruh sama sekali mengubah posisi Laasya di hatiku. Sekuat ia berusaha tak akan bisa mengubah sikapku padanya. Mitha mengikuti diskusi kami hingga selesai. Ki Anom memutuskan menghampiri para yogo dan sinden yang sedang berlatih. Aku terjebak dengan keadaan.
“Mas Wisnu, berarti ikut acara Bapak, kan?” tanya Mitha memastikan.
“Iya, Mith. Kalau tidak ada halangan.” Mataku masih sibuk mencari sosok Laasya yang duduk bersama para sinden.
Tabuhan gamelan mencapai ujung langgam. Setelah selesai, para yogo dan sinden bercengkrama satu sama lain. Kulihat Laasya juga larut dalam perbincangan di antara para sinden. Sedangkan dari kejauhan Pandu mengamatinya, seperti hal yang kulakukan sekarang. Ternyata pria itu juga menaruh hati pada Laasya sejak dulu. Sesekali Laasya tersenyum saat mendengar seniornya berbicara. Tak kusadari ternyata Mitha juga berdiri di sampingku. Pandangan Laasya mengarah ke arah kami berdua. Senyuman yang sedari tadi muncul kini berganti dengan wajah murung. Ada tatapan tak suka yang bisa kulihat dari wajahnya. Pandu menghampiri Laasya, ia berbicara dengan serius dan kulihat Laasya beberapa kali mengarahkan pandangannya padaku. Kuraih ponselku dan mengiriminya sebuah pesan untuk mampir ke sebuah taman. Kulihat ia juga membaca pesanku, tapi tak ada balasan sama sekali. Ia masih sibuk mendengarkan obrolan Mbak Wigati dan Pandu. Mbak Wigati pamit undur diri karena suaminya sudah menjemputnya.
Ada sebuah rasa cemburu yang berkecamuk di dalam dadaku. Jelas saja aku tak bisa menerima wanita yang kucintai beramah tamah pada lelaki lain. Kaki ini berjalan menghampiri mereka berdua. Tak kusadari ternyata Mitha juga mengekor kepadaku.
“Sya, yuk kita pulang!” ajakku padanya. Tatapan Pandu jelas-jelas menabuh genderang perang. Dengan sopan Laasya pamit pada Pandu dan Mitha yang ada di sampingku. Ada raut kecewa di wajah Mitha saat mengetahui aku pulang bersama Laasya. Ia masih memperhatikan kami dari kejauhan. Aku berusaha meraih tangan Laasya. Tapi, beberapa kali ia menepisnya.
“Kamu kenapa lagi?” tanyaku penasaran.
“Tak apa-apa. Capek,” balasnya dengan rasa cuek.
“Mau kupijitin?” Tanganku berusaha meraih pundaknya, tapi dengan sigap ia menangkisnya. Aku hanya terdiam, jelas sekali Laasya sedang marah dan bisa kutebak ia marah karena kedekatanku dengan Mitha. Gadis itu memang pencemburu. Sepeda motor kami keluar dari kediaman Ki Anom. Kami berdua memacu dua kuda besi ini ke arah sebuah taman di bantaran kali. Beberapa kursi berjejer rapi, pemerintah kota Solo menatanya dengan sangat bagus. Pemandangan malam di sini sungguh menakjubkan. Kami berdua duduk di sebuah kursi. Laasya masih menyelami dalam samudera pikirannya. Sedangkan aku hanya berusaha mencari celah agar bisa masuk ke dalam sebuah obrolan agar situasi dingin seperti ini bisa menghangat.
“Aku takut kamu kayak Mas Bayu, Nu,” ucap Laasya membuyarkan keheningan.
“Maksudmu apa?”
“Apa kamu tidak sadar, Mitha sangat tertarik padamu. Dia menempel kemanapun kamu pergi di sanggar itu. Para sinden yang lain juga mengamati kedekatan kalian dari kejauhan. Hanya manusia paling tidak peka yang tak bisa mengerti arti tatapan Mitha kepadamu.” Laasya menghela nafas panjang. Sesekali ia mengusap ujung matanya.
“Aku tahu. Tapi, aku tak akan meladeninya. Cukup kamu saja, Sya. Tak ada yang lain,” ucapku meyakinkannya. Tanganku meraih tangan mungil dengan hiasan cincin emas di jari tengahnya. Tiba-tiba Laasya sesenggukan. Aku membiarkannya menangis sepuasnya. Rembulan nan cantik bertengger di langit malam nan kelam. Cahayanya membiaskan suasana sendu nan menggelisahkan. Setelah puas menangis, Laasya menyenderkan kepalanya di pundakku. Tak ada obrolan di antara kami. Kami hanya menikmati suara air sungai yang deras dan pemandangan bulan di atas sana. Angin malam semakin dingin. Kulepas jaketku dan membalutkannya ke badan Laasya. Gadis itu hanya terpaku. Matanya sayu, jelas sekali ada rasa lelah setelah bergelut dengan kegiatan yang sangat padat dalam minggu ini. Ia harus mencari nafkah dari panggung ke panggung, mengikuti kuliah dengan tugas yang tak kalah banyak dengan tugasku.
“Jika kamu pergi, bagaimana bisa aku hidup, Nu?” Sebuah kalimat yang menyayat hati tiba-tiba muncul dari bibirnya.
“Aku tak akan pergi! Aku sudah janji akan membawamu kemanapun aku pergi!”
“Tapi, manusia hanya bisa berencana, Nu! Bagaimana kalau Tuhan punya rencana lain!”
“Aku akan merayu Tuhan agar tak memisahkan kita,” tegasku sambil mencium punggung tangan kanan gadis itu.