Generasi Nozzel: Stempel di Meja Makan

Tourtaleslights
Chapter #2

ZOMBIE DI MEJA MAKAN

Pukul 06.30. Alarm berbunyi.

Suara dering itu menusuk, seperti jarum yang ditusukkan ke telinga. Aku meraih ponsel tanpa membuka mata, gerakan refleks, seperti bernapas atau berkedip. Jempolku menemukan tombol matikan. Senyap kembali.

Tapi aku sudah terbangun. Tidak sepenuhnya, tapi cukup untuk merasakan berat di kelopak mata dan kekeringan di tenggorokan. Aku membuka satu mata. Layar ponsel masih menyala, menampilkan wallpaper bergambar langit senja yang tidak pernah kulihat di dunia nyata. Aku membuka mata yang lain. Dan tanpa sadar, tanpa berpikir, jempolku sudah membuka X.

Itu terjadi begitu saja. Seperti perut yang lapar sebelum otak sadar. Seperti kaki yang berjalan ke dapur sebelum pikiran memutuskan ingin minum. Jempolku bergerak otomatis, dan aku membiarkannya, seperti kode program yang dieksekusi tanpa henti, tanpa perlu izin dari siapa pun yang seharusnya memegang kendali.

Aplikasi itu seperti cermin yang selalu menungguku. Setiap pagi, ia menampilkan wajahku yang kusut, mata sembab karena kurang tidur, dan bayangan hitam di bawah mata yang semakin dalam setiap minggu. Aku tidak tahu kapan terakhir kali aku benar-benar melihat wajahku tanpa layar di depannya. Tanpa cahaya biru yang menyorot tulang pipi, tanpa bayangan yang dihasilkan oleh sudut kemiringan ponsel.

Di cermin itu, ada juga orang-orang yang tidak kukenal. Mereka berteriak, berdebat, menangis, dan tertawa. Mereka membagikan kemarahan seperti membagikan roti. Dan aku, di sisi lain layar, mengambil semuanya.

Aku menggulir ke bawah.

Satu cuitan tentang menteri yang salah ucap. Videonya sudah diedit, dipotong, dan dibagikan ribuan kali dalam waktu satu jam. Di kolom komentar, orang-orang saling serang. Aku membaca beberapa baris, cukup untuk merasakan denyut nadi kemarahan yang familiar.

Aku menggulir lagi.

Satu utas tentang kebocoran anggaran, panjang sekali, aku menggulir lewat separuhnya karena terlalu banyak kata, terlalu sedikit kesimpulan.

Aku menggulir lagi.

Satu video tentang demonstrasi mahasiswa yang bubar. Rekaman goyang, suara teriakan, dan kolom komentar yang penuh kata-kata kasar. Aku menontonnya tiga kali. Marah. Tapi tidak tahu harus marah pada siapa. Tidak tahu harus melakukan apa.

Aku menggulir ke bawah. Lalu ke bawah lagi. Lalu ke bawah lagi.

Jempolku tidak lelah. Jempolku tidak pernah lelah. Aku yang lelah. Tapi aku tidak mau berhenti, karena berhenti berarti menghadapi keheningan. Dan keheningan, akhir-akhir ini, terasa lebih menakutkan daripada kemarahan.

Tiga puluh menit berlalu. Mungkin lebih. Aku tidak yakin.

Di atas kepalaku, cahaya temaram berkedip dengan ritme yang tidak teratur. Lampu itu sudah seperti itu sejak aku pindah ke kamar ini. Tiga tahun lalu? Empat tahun? Aku tidak ingat. Aku sudah terbiasa. Kerusakan yang tidak diperbaiki adalah hal yang paling normal di dunia ini.

Di luar jendela, matahari mulai terbit. Cahaya pagi masuk melalui celah tirai biru tua yang tidak pernah kuganti, membentuk garis-garis tajam di lantai yang berdebu. Aku masih berbaring di tempat tidur, dikelilingi oleh kemarahan yang tidak mengubah apa pun.

Aku belum mandi. Belum sarapan. Belum membuka laptop untuk pekerjaan yang seharusnya kukerjakan. Tapi aku sudah membaca dua belas berita, menyaksikan lima video, membagikan tiga cuitan, dan berdebat di kolom komentar dengan seseorang yang tidak kukenal tentang definisi "korupsi".

Aku tidak tahu namanya. Aku tidak tahu wajahnya. Aku tidak tahu apakah ia benar-benar percaya pada apa yang ia tulis, atau hanya sedang marah seperti aku.

Aku mematikan ponsel. Aku meletakkannya di atas dada. Aku menatap langit-langit.

Ini adalah rutinitasku. Ini adalah "aktivisme" generasiku.

Tapi ada suara kecil di kepalaku. Suara yang semakin keras setiap hari. Suara yang bertanya: "Kalau kau begitu marah, kenapa kau tidak melakukan sesuatu?"

Aku tidak punya jawaban. Aku tidak pernah punya jawaban.

Jadi aku menggulir lagi.

Aku akhirnya bangun dari tempat tidur pada pukul 07.10.

Kakiku menyentuh lantai yang dingin. Aku berjalan ke kamar mandi dengan langkah berat, seperti seseorang yang baru saja kembali dari perjalanan panjang, meskipun aku tidak pergi ke mana-mana. Di cermin, aku melihat wajahku. Mata sembab. Kulit kusam. Rambut yang tidak pernah disisir. Aku menatap mataku sendiri. Ada sesuatu di sana, sesuatu yang seperti kelelahan yang tidak bisa dijelaskan dengan kurang tidur.

Aku membuka keran. Air mengalir. Aku membasuh wajahku, tetapi ketika aku melihat ke cermin lagi, wajahku masih sama. Tidak berubah.

"Kau di sini?" bisikku pada bayanganku. "Atau hanya tubuhmu?"

Bayangan itu tidak menjawab. Hanya menatapku dengan mata yang sama.

Aku turun ke lantai bawah pada pukul 07.20.

Bau nasi goreng sudah menyebar dari dapur. Aroma bawang goreng dan kecap yang sudah menjadi bagian dari rutinitas pagi selama bertahun-tahun. Di meja makan, nasi goreng sudah tersaji. Telur mata sapi di atasnya, sedikit kecap di pinggir piring. Sama seperti kemarin. Sama seperti minggu lalu. Sama seperti tahun lalu.

Aku duduk di kursiku. Kursi yang sama, di tempat yang sama, di meja yang sama. Di hadapanku, Ayah sudah duduk lebih dulu. Ia membaca koran. Koran fisik, dengan tinta yang menempel di ujung jarinya. Ia tidak pernah percaya pada "berita digital," katanya. Katanya, berita digital hanya membuat orang bodoh dan marah. Aku tidak pernah membantahnya.

Di sebelahku, kursi Ibu kosong. Tapi aku bisa mendengar suara piring dari dapur. Suara yang sudah kukenal sejak kecil. Ibu selalu sibuk di pagi hari. Sibuk menyiapkan, sibuk merapikan, sibuk melakukan hal-hal yang tidak pernah terlihat tetapi selalu terasa.

Aku membuka ponsel. Aku mulai menggulir lagi.

"Na, kau sudah makan?" suara Ibu dari dapur.

Aku mengangguk, meskipun ia tidak bisa melihatku. "Belum, Bu. Sebentar."

Aku tidak mengangkat kepalaku dari layar.

Aku mendengar suara piring diletakkan. Lalu langkah kaki mendekat. Ibu muncul dari dapur dengan sebotol teh melati. Teh yang selalu ia buat setiap pagi, yang baunya sudah menjadi bagian dari rumah ini. Ia menuangkannya ke dalam cangkirku. Cangkir kesukaanku, yang sudah retak di bagian pinggirnya sejak dua tahun lalu, tetapi tidak pernah kuganti. Entah mengapa, aku tidak pernah menggantinya. Mungkin karena aku terbiasa. Mungkin karena aku tidak peduli.

"Kau begadang lagi," kata Ibu. Bukan pertanyaan. Pernyataan.

"Iya, Bu."

"Aku dengar kau masih di kamar jam dua."

"Aku sedang bekerja."

Ibu tidak menjawab. Ia hanya menatapku sebentar, lalu kembali ke dapur. Aku mendengar suara air mengalir. Ia mulai mencuci piring yang sudah bersih. Itu kebiasaannya. Ketika ada sesuatu yang ingin ia katakan tetapi tidak tahu caranya, ia mencuci piring.

Ayah mendengus pelan. Aku tidak perlu melihatnya untuk tahu ekspresinya, dahi berkerut, bibir sedikit mengerucut, mata yang mengatakan "Anak jaman sekarang" tanpa perlu mengucapkannya.

"Biar saja," katanya. Suaranya datar, seperti biasa. "Anak jaman sekarang."

Aku tidak menjawab. Sudah biasa. Kami sudah bertahun-tahun hidup seperti ini, berdampingan, tetapi tidak berbicara. Saling melihat, tetapi tidak melihat.

Aku menatap nasi goreng di hadapanku. Telur mata sapinya sudah mulai dingin. Aku mengambil sendok. Aku mulai makan. Tanpa rasa. Tanpa sadar. Seperti jempolku yang menggulir otomatis, mulutku mengunyah otomatis.

"Kau masih ingat kalau besok kita ke rumah sakit?"

Aku berhenti menggulir. "Rumah sakit? Kenapa?"

Ibu berhenti mencuci piring. Ia berdiri di ambang pintu dapur, tangannya masih basah, memegang spons yang sudah lusuh. Ia menatapku. Matanya lelah. Bukan hanya karena kurang tidur, tetapi karena sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang sudah ia bawa bertahun-tahun.

"Kakekmu, Na. Kau lupa?"

Aku terdiam. Kakek. Aku sudah dua minggu tidak mengunjunginya. Dua minggu sejak terakhir kali aku ke rumah sakit, duduk di samping tempat tidurnya, melihatnya terbaring dengan selang di hidungnya. Dua minggu sejak aku berjanji akan kembali, tetapi tidak pernah kembali.

"Besok kita ke sana," kata Ibu. Ia menelan sesuatu. "Dokter bilang kondisinya..." Ia berhenti. Menarik napas panjang. "...tidak baik."

Lihat selengkapnya