Kasurku terasa seperti papan kayu malam itu.
Aku memejamkan mata, tapi suara isak tangis Ibu dari dapur terus merambat naik melalui celah-celah lantai, merenggut setiap kesempatan untuk tidur, suara yang sudah kukenal sejak kecil, tetapi tidak pernah bisa kuartikan.
Suara Ibu menangis.
Bukan tangis yang keras. Bukan tangis yang meminta perhatian. Tangis yang tertahan, seperti seseorang yang sudah terlalu sering menangis dan kehilangan kemampuan untuk melakukannya dengan suara. Tangis yang hanya bisa didengar di tengah malam, ketika semua pintu tertutup dan semua lampu padam.
Aku berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit. Di tanganku, ponsel masih menyala. Layar biru yang menerangi wajahku, menampilkan notifikasi yang tidak pernah berhenti. Aku bisa menggulir. Aku bisa melarikan diri ke dalam kemarahan yang familiar. Tapi suara Ibu, suara itu lebih keras dari notifikasi apa pun.
Aku mematikan ponsel. Aku meletakkannya di atas meja.
Aku tidak pergi ke dapur.
Pagi harinya, aku turun ke lantai bawah dengan langkah yang lebih berat dari biasanya. Aroma nasi goreng masih sama. Bawang goreng, kecap, telur mata sapi. Tetapi ada sesuatu yang berbeda di udara. Sesuatu yang tidak bisa kusebutkan. Sesuatu yang seperti keheningan yang lebih pekat dari biasanya.
Ibu berdiri di dapur, membelakangiku. Ia sedang mencuci piring. Piring yang sudah bersih, tetapi ia mencuciinya lagi, seperti sedang mencari alasan untuk tetap berada di sana, untuk tidak menghadapku.
"Bu," kataku.
Ia tidak berbalik. Tangannya berhenti sejenak, hanya sepersekian detik, lalu ia melanjutkan mencuci.
"Kau sudah sarapan, Na?" Suaranya datar. Terlalu datar. Seperti seseorang yang sedang berusaha keras untuk terdengar normal.
"Belum, Bu."
"Aku buatkan nasi goreng."
"Bu..."
Aku melangkah mendekat. Di meja dapur, cangkir teh melati. Cangkir yang retak di pinggirnya. Masih setengah penuh. Tehnya sudah dingin. Di atas kompor, panci kecil masih berisi teh yang tidak diminum.
Ibu akhirnya berbalik. Matanya merah. Bukan merah karena kurang tidur, tapi merah karena sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang sudah ia bawa sejak lama. Tangannya basah, dan ia mengeringkannya di celemek dengan gerakan yang terlalu cepat, terlalu terburu-buru.
"Aku dengar kau begadang lagi," katanya. "Aku dengar kau..." Ia berhenti. Menelan sesuatu. "...membaca buku Kakekmu."
Aku menatapnya. Di sudut ruangan, kursi rotan Kakek masih kosong.
"Bu, aku hanya..."
"Aku tahu apa yang kau lakukan, Na." Suaranya bergetar. Hanya sedikit, tetapi aku mendengarnya. "Aku tahu kau membuat sesuatu. Aku tahu kau..." Ia menatap tangannya sendiri. Tangannya gemetar. "...kau ingin mengikuti jejak Kakekmu."
"Bu—"
"Aku tidak mau kau terluka."
Kalimat itu keluar seperti desahan, seperti sesuatu yang sudah ia tahan bertahun-tahun dan akhirnya tidak bisa ia tahan lagi. Ia duduk di kursi dapur. Kursi yang sama dengan kursi di meja makan, tetapi di sini, di dapur, ia terlihat lebih kecil. Lebih rapuh.
Aku duduk di hadapannya. Di antara kami, cangkir teh melati yang dingin menjadi saksi bisu.
"Bu, aku hanya ingin..."
"Aku tahu apa yang kau ingin." Ia menatapku. Matanya basah. Bukan menangis, tetapi hampir. "Kau ingin mengubah sesuatu. Kau ingin memperbaiki sesuatu. Kau ingin menjadi seperti Kakekmu."
"Kakek tidak mengubah apa-apa, Bu. Kakek hanya mencatat."
"Itulah yang membuatku takut."
Keheningan. Di luar, burung-burung mulai berkicau. Suara yang terlalu ceria untuk suasana di dalam rumah ini. Aku bisa mendengar suara Ayah yang masih di kamar, bersiap-siap pergi bekerja.
Ibu menarik napas panjang. Lalu, perlahan, ia mulai berbicara.
"Ayahmu, Kakekmu, dulu pegawai negeri. Kau tahu itu."
Aku mengangguk.
"Tapi kau tidak tahu bagaimana keadaannya. Tidak benar-benar tahu." Ia menatap jendela. Matanya seperti melihat ke suatu tempat yang tidak bisa kulihat. Ke suatu masa yang sudah berlalu. "Dulu, ketika kau masih kecil, Kakek sering pulang dengan wajah yang... kosong. Seperti orang yang sudah kehilangan sesuatu."
"Kehilangan apa?"
Ia tidak menjawab. Ia hanya melanjutkan.
"Suatu hari, Kakekku. Ayahnya Kakekmu. Dipanggil atasannya. Ada data yang harus diubah. Data tentang proyek, tentang anggaran, tentang sesuatu yang tidak seharusnya diubah. Kakek menolak. Ia bilang, 'Saya hanya mencatat yang benar.'"
Aku menahan napas.
"Apa yang terjadi?"
"Ia hampir dipecat." Ibu menatapku. Matanya tajam. Tiba-tiba tajam, seperti pisau yang sudah lama tidak diasah. "Ia diseret ke ruang rapat. Diancam. Dimaki. Katanya, 'Kau hanya pegawai kecil. Kau tidak punya hak untuk menolak.'"
Aku tidak bisa berkata apa-apa.
"Kakek bertahan. Ia tidak dipecat. Tapi ia berhenti menolak. Ia memilih diam." Ibu tersenyum. Senyum yang pahit, senyum yang seperti luka yang sudah mengering tetapi tidak pernah benar-benar sembuh. "Kami selamat karena ia diam."
"Bu..."
"Dan sekarang," lanjutnya, "kau ingin melakukan hal yang sama. Kau ingin mencatat. Kau ingin menolak. Kau ingin menjadi seperti Kakek, sebelum ia berhenti."
Aku menatapnya. Di matanya, aku melihat sesuatu yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Bukan ketakutan, bukan kemarahan, tapi sesuatu yang lebih rumit. Sesuatu yang seperti cinta yang salah ekspresi. Aku melihat seorang ibu yang tidak tahu bagaimana melindungi anaknya kecuali dengan membuatnya diam.
"Aku tidak mau menjadi seperti Kakek, Bu," kataku pelan. "Aku mau menyelesaikan apa yang ia mulai. Bukan sendirian."
Ibu menatapku. Lama. Di luar, aku mendengar Ayah membuka pintu kamarnya.
Lalu ia berdiri. Ia mengambil cangkir teh melati di atas meja. Teh yang sudah dingin, yang tidak pernah sempat ia minum. Ia menuangkannya ke wastafel. Air teh mengalir perlahan, seperti waktu yang tidak bisa dihentikan.
"Aku tidak bisa menghentikanmu," katanya. Suaranya pelan, nyaris berbisik. "Aku tahu itu. Kau sudah besar. Kau sudah dewasa. Kau bisa memilih jalannya sendiri."
Ia menoleh ke arahku.
"Tapi aku tidak mau melihatmu terluka, Na. Aku tidak mau melihatmu mengalami apa yang Kakek alami. Aku tidak mau..." Ia berhenti. Menelan sesuatu. "...aku tidak mau kehilanganmu seperti aku kehilangan ayahku."