Generasi Nozzel: Stempel di Meja Makan

Tourtaleslights
Chapter #4

TEORI DI KAMAR

Aku tidak keluar kamar sepanjang hari.

Bukan karena aku marah pada Ibu. Bukan karena aku ingin mengurung diri. Tapi karena ada sesuatu di dalam buku Kakek. Sesuatu yang tidak bisa kutinggalkan, sesuatu yang seperti menarikku masuk ke dalam dirinya sendiri, seperti pusaran air yang tidak bisa kuhindari.

Di lantai kamarku, di bawah sorot lampu yang berkedip lelah, aku duduk bersila dengan buku catatan Kakek di pangkuanku. Halaman-halamannya sudah menguning, pinggirnya rapuh, dan baunya. Baunya seperti perpustakaan tua, seperti tempat yang tidak pernah dikunjungi siapa pun selama bertahun-tahun.

Di luar, aku mendengar langkah kaki Ibu mondar-mandir di depan pintu. Ia berhenti. Aku mendengar napasnya. Lalu ia pergi. Tidak mengetuk. Aku tidak tahu apakah itu lega atau kecewa.

Aku membalik halaman demi halaman.

Kakek tidak hanya mencatat. Ia menganalisis. Setiap masalah yang ia temui, ia urai seperti seorang ahli bedah yang membedah pasien. Ia menggambar diagram-diagram kecil. Panah yang saling menunjuk, kotak-kotak yang mewakili "pemain" di kantornya: atasan, rekan kerja, bawahannya, dan "rakyat" yang dilayani. Di bawah setiap diagram, ia menulis catatan dengan huruf kecil yang rapi. Huruf seseorang yang sudah terbiasa menulis di ruang sempit, di antara kata-kata yang tidak boleh terlihat oleh siapa pun.

Di sela-sela halaman, aku menemukan sebuah foto yang terjepit. Foto lama, hitam-putih, sudah lusuh di bagian pinggir. Di dalamnya, ada sekelompok pria dan wanita muda dengan seragam PNS, berdiri di depan gedung tua. Di baris paling belakang, aku mengenali Kakek. Masih muda, rambut masih hitam, dan ia tersenyum. Senyum yang berbeda dengan senyum yang kukenal di masa tuanya. Senyum yang masih penuh harapan.

Aku menatap foto itu lama sekali. Lalu aku melanjutkan membaca.

Di salah satu halaman, aku membaca:

"Di kantorku, setiap orang punya insentif. Atasan ingin laporan yang bagus, karena laporan yang bagus berarti promosi. Rekan kerja ingin tidak terlibat masalah, karena masalah berarti risiko. Bawahan ingin patuh, karena patuh berarti selamat. Dan aku? Aku ingin melakukan hal yang benar. Tapi di sini, melakukan hal yang benar adalah hal yang paling berisiko."

Aku menatap kata-kata itu.

Insentif.

Kakek menggunakan kata itu seperti seorang ekonom. Atau seperti seseorang yang sudah terlalu lama mengamati perilaku manusia dan menyadari bahwa tidak ada yang bergerak tanpa alasan.

Aku membalik halaman berikutnya. Di sana, Kakek menulis dengan huruf yang lebih besar, seperti ia sedang berdebat dengan dirinya sendiri:

"Aku pikir ini permainan Zero-Sum. Aku menang, mereka kalah. Tapi aku mulai bertanya: kalau aku mencatat data yang benar, dan suatu hari seseorang menemukannya. Aku sudah mati, tapi orang yang menemukannya menang, dan rakyat yang dilayani data itu juga menang. Ini bukan Zero-Sum. Tapi aku tidak tahu apa nama permainan itu."

Aku menutup buku itu. Tenggorokanku mengeras, seperti ada sesuatu yang tersangkut di sana dan menolak turun.

Kakek tahu. Ia tahu bahwa sistem ini tidak adil. Ia tahu bahwa ia adalah bagian dari mesin yang menghancurkan orang-orang yang seharusnya dilayaninya. Tapi ia tidak tahu bagaimana keluar dari mesin itu. Ia tidak tahu bagaimana menjadi lebih dari sekadar roda gigi.

Aku menatap langit-langit. Cahaya redup berkedip sekali, dua kali, seperti sedang mengedipkan mata padaku, seperti mengatakan sesuatu yang tidak bisa kudengar.

Di luar, hujan mulai turun. Suara air di atap seng, seperti ketukan jari yang gelisah di atas meja, tidak teratur, tetapi terus-menerus. Aroma tanah basah masuk melalui celah jendela yang tidak pernah kuganti karetnya.

Aku membuka buku itu lagi. Kali ini, aku mencari sesuatu yang spesifik, sesuatu tentang Permainan itu, tentang teori yang Kakek sebutkan di suratnya.

Aku menemukannya di halaman 47.

"Ada teori yang kupelajari dari buku yang kusembunyikan di bawah tumpukan arsip. Teorinya disebut 'Teori Permainan'. Katanya, manusia membuat keputusan berdasarkan apa yang orang lain akan lakukan. Katanya, ada sesuatu yang disebut 'Keseimbangan Nash'. Di mana tidak ada yang bisa mendapatkan keuntungan dengan mengubah strateginya sendiri, selama orang lain tidak mengubah strateginya.

Di kantorku, Keseimbangan Nash-nya adalah: semua orang patuh. Jika semua orang patuh, tidak ada yang dipecat. Tidak ada yang dirugikan. Tidak ada yang mendapat masalah. Tapi ada satu masalah: rakyat yang dilayani. Mereka tidak ada di dalam permainan. Mereka adalah 'eksternalitas'. Mereka yang menanggung biaya dari keseimbangan yang kita ciptakan."

Aku membaca paragraf itu tiga kali.

Eksternalitas. Kata itu seperti pisau yang menusuk perlahan. Aku membayangkan Ibu mencuci piring yang sudah bersih, menahan tangis di dapur. Aku membayangkan Kakek duduk di kursi rotan, meminum teh pahit, menatap jalanan kosong. Aku membayangkan semua orang yang mengantre di gedung pelayanan, semua orang yang menunggu, semua orang yang tidak pernah disebutkan dalam laporan.

Mereka adalah eksternalitas. Mereka tidak ada di dalam permainan. Mereka hanya menanggung biayanya.

Aku menutup buku itu. Aku memegangnya di pangkuanku. Buku itu terasa lebih berat dari yang seharusnya, seperti berisi lebih dari sekadar kertas dan tinta. Seperti berisi semua yang tidak pernah dikatakan Kakek, semua yang tidak pernah ia lakukan, semua yang ia harapkan tetapi tidak pernah ia capai.

Aku meraih ponselku. Layarnya masih menyala, menampilkan notifikasi yang tidak pernah berhenti. Aku membuka X. Aku menggulir.

Satu cuitan tentang menteri yang salah ucap.

Satu utas tentang kebocoran anggaran.

Satu video tentang demonstrasi mahasiswa yang bubar.

Aku menggulir ke bawah. Lalu ke bawah lagi. Lalu ke bawah lagi.

Aku berhenti.

Aku menatap layar ponselku. Kemarahan yang familiar mulai muncul. Kemarahan yang sudah menjadi teman setiaku, yang sudah kukenal sejak SMA, yang sudah menjadi bagian dari diriku seperti tangan atau kaki. Kemarahan yang mengatakan: "Lihat, dunia ini kacau. Tidak ada yang bisa kau lakukan. Jadi mengapa kau harus peduli?"

Tapi kali ini, ada suara lain di kepalaku. Suara yang lebih pelan, tetapi lebih keras. Suara yang seperti suara Kakek, tetapi juga seperti suaraku sendiri.

"Kemarahan tanpa catatan hanyalah kebisingan."

Aku mematikan ponsel. Aku meletakkannya di atas meja.

Lihat selengkapnya