Aku tidak menyangka konten pertamaku akan sebesar ini.
Dua puluh empat jam setelah aku mengunggah infografis tentang "Formulir Kematian yang Harus Dibuktikan", notifikasiku meledak. Bukan ledakan yang keras. Bukan seperti bom, tapi seperti air yang mulai merembes melalui celah-celah dinding, perlahan tetapi pasti.
1.000 views. Lalu 5.000. Lalu 10.000.
Aku menatap layar ponselku, tidak percaya. Angka-angka itu terus naik, seperti suhu air yang perlahan mendidih. Aku tidak tahu bagaimana rasanya. Antara senang, takut, dan bingung. Selama ini, konten-kontenku hanya dilihat oleh beberapa ratus orang. Ini berbeda. Ini seperti aku tiba-tiba berbicara di ruangan yang penuh, dan semua orang mendengarkan.
Aku membaca komentar-komentar:
"Ini aku banget! Dulu waktu ngurus surat kematian nenek, aku sampai 5 kali bolak-balik!"
"Akhirnya ada yang membahas ini dengan cara yang gampang dimengerti."
"Infografisnya keren. Bikin yang lain dong!"
Aku menatap komentar-komentar itu. Ada sesuatu yang hangat di dadaku. Sesuatu yang tidak pernah kurasakan saat membuat konten-konten sebelumnya. Bukan kepuasan karena dilihat banyak orang. Tapi kepuasan karena didengar.
Dan kemudian, di antara komentar-komentar itu, ada satu yang menarik perhatianku.
"Halo, aku Sekar. Aktivis media sosial. Boleh DM? Aku pengen ngobrol tentang kontenmu."
Aku membuka profilnya. 50.000 pengikut. Konten-konten tentang demonstrasi, tentang kebijakan publik, tentang suara-suara yang tidak didengar. Aku sudah pernah melihat namanya sebelumnya, di linimasaku, di utas-utas yang viral, di video-video yang dibagikan ribuan kali.
Aku ragu sejenak. Lalu aku membalas.
"Boleh. Besok siang?"
Kafe itu terletak di sudut jalan yang tidak terlalu ramai. Cukup jauh dari hiruk-pikuk kota, tetapi cukup dekat untuk dijangkau dengan transportasi umum. Aku tiba sepuluh menit lebih awal, memesan segelas es kopi, dan duduk di sudut ruangan, di mana aku bisa melihat pintu masuk.
Di luar, jalanan mulai ramai. Sebuah mobil hitam melintas perlahan di depanku. Terlalu lambat untuk sekadar lewat. Aku melihat ke arahnya, tetapi kaca filmnya terlalu gelap. Mobil itu terus berjalan.
Aku mengabaikannya.
Aku tidak tahu seperti apa Sekar. Aku hanya tahu wajahnya dari foto profil. Rambut pendek, kacamata bulat, senyum yang tajam. Tapi di dunia nyata, orang sering berbeda dari foto mereka.
Aku menyesap kopiku. Pahit. Aku tidak tahu mengapa aku memesan kopi hitam. Mungkin karena aku ingin terlihat dewasa, atau mungkin karena aku tidak tahu apa yang harus kupesan.
Pintu kafe terbuka. Seorang perempuan melangkah masuk. Rambut pendek, kacamata bulat, jaket hitam yang sedikit kebesaran. Matanya bergerak cepat, seperti sedang memindai ruangan, mencari seseorang.
Aku mengangkat tangan. Ia melihatku. Ia tersenyum, senyum yang tajam, seperti pisau yang baru diasah.
"Kirana?"
"Sekar?"
Ia duduk di hadapanku, meletakkan tasnya di kursi sebelah, dan memesan segelas es teh tanpa gula. Gerakannya cepat, seperti seseorang yang tidak suka membuang waktu.
"Kontenmu keren," katanya tanpa basa-basi. "Aku suka cara kamu membingkai masalah itu. Kayak lagi lihat pameran museum."
"Makasih."
"Tapi aku penasaran: kenapa kamu bikin itu?"
Aku terdiam. Pertanyaan sederhana, tetapi jawabannya tidak sederhana.
"Kakekku meninggal," kataku akhirnya. "Aku mewarisi buku catatannya. Di dalamnya, ada catatan tentang bagaimana sistem ini bekerja. Tentang bagaimana prosedur dibuat rumit, tentang bagaimana orang-orang kecil selalu dirugikan. Aku ingin..." Aku berhenti. Mencari kata yang tepat. "...aku ingin melanjutkan apa yang ia mulai."
Sekar menatapku. Matanya tajam, seperti sedang mengupas lapisan-lapisan kata-kataku, mencari sesuatu yang tersembunyi di baliknya.
"Kakekmu seorang pegawai negeri?"
"Ya."
"Dia mencatat semua itu?"
"Ya. Selama empat puluh tahun."
Sekar bersandar di kursinya. Ia menatap langit-langit, seperti sedang memproses sesuatu.
"Kakekku juga pegawai negeri," katanya pelan. "Tapi ia tidak pernah mencatat apa pun. Ia hanya diam. Sampai akhir hayatnya, ia diam."
"Kenapa?"
"Karena takut." Sekar menatapku. "Dan karena ia tidak tahu harus bicara pada siapa."
Keheningan. Di luar, hujan mulai turun. Suara air di atap kafe, halus dan datar, seperti debu yang akhirnya jatuh setelah lama menggantung di udara.
"Aku sudah tiga tahun menjadi aktivis media sosial," kata Sekar. "Aku sudah ikut demonstrasi, sudah menulis utas panjang, sudah membagikan video-video yang viral. Tapi aku mulai lelah."
"Lelah?"
"Lelah karena tidak ada yang berubah." Ia menyesap es tehnya. "Setiap kali aku demo, berita hanya bertahan satu hari. Setiap kali aku menulis utas, orang-orang membaca, lalu lupa. Setiap kali aku membagikan video, orang-orang marah, lalu menggulir ke bawah. Aku merasa seperti sedang berteriak di ruangan yang penuh, tapi tidak ada yang mendengar."
Aku menatapnya. Aku melihat sesuatu di matanya. Bukan keputusasaan, tapi kelelahan. Kelelahan yang sama yang kurasakan setiap pagi saat aku membuka linimasa.
"Aku juga," kataku. "Aku juga merasa seperti itu. Tapi aku mulai berpikir... mungkin kita salah caranya."
"Salah?"
"Mungkin berteriak bukan satu-satunya cara. Mungkin..." Aku berhenti. Mencari kata yang tepat. "...mungkin kita perlu mencatat. Diam-diam. Seperti Kakekku. Menyimpan bukti-bukti, mengumpulkan data, membuat semuanya terlihat. Karena ketika sesuatu terlihat, ia tidak bisa diabaikan."
Sekar menatapku. Lama. Di luar, mobil hitam yang sama melintas lagi, lebih lambat. Sekar tidak memperhatikan, tapi aku melihatnya. Aku merasa ada yang mengawasi, tetapi aku tidak bisa memastikan.