Aku terbangun keesokan paginya dengan perasaan yang berbeda.
Bukan perasaan hampa yang biasa kurasakan setelah begadang. Bukan perasaan cemas yang selalu menyertai setiap pagi. Tapi perasaan penuh, seperti ada sesuatu di dalam dadaku yang mulai terbentuk, seperti ada benih yang baru saja ditanam dan mulai tumbuh.
Aku duduk di tepi tempat tidur. Di atas meja, map cokelat Pak Harto masih terbuka. Tumpukan kertas usang yang berisi catatan selama 40 tahun. Aku tidak membaca semuanya tadi malam. Terlalu banyak. Terlalu berat. Tapi aku membaca cukup untuk tahu bahwa ini adalah sesuatu yang tidak bisa kusimpan di dalam kamar.
Cahaya pagi masuk melalui celah tirai. Cahaya yang berbeda dari biasanya. Lebih terang. Lebih hangat. Seolah-olah matahari juga ingin melihat apa yang akan kulakukan hari ini.
Aku turun ke lantai bawah. Ibu sedang di dapur, menyiapkan sarapan. Ayah sudah pergi bekerja, seperti biasa, seperti setiap pagi. Aku mendengar suara truknya menghilang di kejauhan.
"Na, kau mau sarapan?"
"Nanti, Bu."
Aku berjalan ke ruang tamu.
Aku berhenti di ambang pintu. Ruang tamu itu sama seperti biasanya. Sofa tua yang sudah kempes di bagian tengah, meja kopi kayu jati yang permukaannya penuh goresan, televisi yang jarang dinyalakan. Di sudut, rak buku yang hampir kosong. Dinding putih yang terlalu kosong. Tapi hari ini, aku melihatnya dengan cara yang berbeda. Aku melihatnya sebagai ruang kosong, ruang yang menunggu untuk diisi.
Aku teringat Pak Harto. "Catatan ini tidak akan berguna jika hanya disimpan," katanya. "Catatan harus dilihat, harus dibaca, harus dipajang."
Aku teringat Sekar. "Aku lelah berteriak," katanya. "Aku ingin mencoba cara lain."
Aku teringat Kakek. "Jangan diam," katanya. "Catatlah."
Aku berdiri di tengah ruang tamu. Aku melihat sekeliling. Sofa tua. Meja kopi. Rak buku yang hampir kosong. Dinding putih yang terlalu kosong.
"Ini," kataku pelan. "Aku akan mengubah ini menjadi museum."
Aku mulai bergerak.
Sofa tua kugeser ke sudut ruangan. Terdengar suara gesekan kayu di lantai keramik. Meja kopi kupindahkan ke tengah. Sebagai meja pajang utama. Di atasnya, aku meletakkan map cokelat Pak Harto, buku catatan Kakek, dan beberapa dokumen usang yang kudapat dari kotak Kakek.
Aku menggantung kabel-kabel lampu di langit-langit. Lampu kuning yang hangat, seperti lampu di museum. Aku menempelkan beberapa infografis yang sudah kubuat di dinding. Formulir kematian yang absurd, prosedur KTP yang berbelit, diagram alir yang rumit. Setiap infografis aku bingkai dengan "Kotak Kaca", garis emas tipis di sekelilingnya, seolah-olah setiap masalah adalah artefak bersejarah.
Aku menambahkan satu hal lagi di sudut ruangan: sebuah papan kayu kecil dengan tulisan tangan:
"Museum Birokrasi Nasional , Ruang Pameran #001"
Aku berdiri di tengah ruangan. Aku menatap hasil karyaku. Keringat mengalir di pelipisku. Tanganku gemetar, bukan karena lelah, tapi karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang seperti kegembiraan.
Ini bukan museum yang megah. Ini bukan museum yang besar. Tapi ini adalah museum. Tempat di mana masalah-masalah yang selama ini tersembunyi bisa dilihat. Tempat di mana catatan-catatan yang selama ini disimpan bisa dipajang.
Aku tidak tahu apakah ini cukup. Tapi aku tahu satu hal: ini adalah awal.
Aku sedang menempelkan infografis terakhir ketika aku mendengar langkah kaki di teras. Langkah yang berbeda dari langkah Ayah, lebih ringan, lebih cepat. Ibu pulang dari pasar.
Ia membuka pintu. Ia masuk. Ia berhenti.
Tangannya masih memegang keranjang belanja. Matanya bergerak perlahan, dari satu sudut ruangan ke sudut lainnya. Dari infografis di dinding, ke map cokelat di atas meja, ke papan kayu dengan tulisan "Museum Birokrasi Nasional."
"Na..." Suaranya pelan. "Apa yang kau lakukan?"
"Aku mengubah ruang tamu, Bu."
"Aku bisa melihat itu." Ia berjalan masuk, perlahan, seperti sedang memasuki tempat yang asing, seperti sedang memasuki ruangan di rumahnya sendiri yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. "Tapi kenapa?"
Aku menatapnya. Di matanya, aku melihat ketakutan yang sama. Ketakutan yang sudah ia bawa bertahun-tahun. Tapi di samping ketakutan itu, ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang seperti rasa ingin tahu.
"Kakek menyimpan catatannya selama 40 tahun," kataku. "Pak Harto menyimpan catatannya selama 40 tahun. Mereka diam. Mereka menyimpan semuanya di dalam kotak, di dalam map, di dalam laci yang tidak pernah dibuka. Tapi aku tidak mau seperti itu, Bu. Aku mau catatan-catatan ini dilihat. Aku mau orang-orang tahu bahwa ada yang mencatat. Aku mau..." Aku berhenti. Mencari kata yang tepat. "...aku mau membuat sesuatu yang nyata."
Ibu menatapku. Lama. Di tangannya, keranjang belanja masih tergantung, sayuran dan bumbu dapur terlihat di dalamnya.
Lalu ia berjalan ke meja kopi. Ia meletakkan keranjangnya di lantai. Ia mengambil buku catatan Kakek. Buku yang sudah menguning, yang baunya seperti debu dan waktu. Ia membukanya. Ia membaca beberapa baris. Tangannya gemetar, hanya sedikit.
"Kakekmu dulu juga ingin membuat sesuatu yang nyata," katanya pelan. "Tapi ia tidak pernah cukup berani."
"Aku tidak ingin menjadi seperti itu, Bu."
Ia menutup buku itu. Ia menatapku.
"Kau memang tidak seperti itu, Na."
Aku tidak tahu apakah itu pujian atau peringatan. Tapi aku melihat di matanya, sesuatu yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Sesuatu yang seperti pengakuan.
Ia meletakkan buku itu kembali di atas meja. Ia mengambil keranjangnya. Ia berbalik menuju dapur. Di ambang pintu, ia berhenti.
"Aku masak nasi goreng kesukaanmu," katanya tanpa menoleh. "Kau harus makan. Kau tidak bisa membuat museum dengan perut kosong."