Aku tidak menyangka hari itu akan datang secepat ini.
Tiga hari setelah aku mengubah ruang tamu menjadi museum, kontenku mulai menyebar. Bukan seperti sebelumnya. Bukan 10.000 views dalam 24 jam. Tapi lebih dari itu. Jauh lebih dari itu.
Aku membuka ponselku pada pagi hari dan melihat angka yang tidak pernah kulihat sebelumnya: 50.000 views. 3.000 likes. 1.200 komentar.
Aku menatap layar. Aku mengucek mata. Angkanya tetap sama.
Infografis tentang Proyek Irigasi Maju Lancar. Yang kubuat dari catatan Pak Harto. Telah dilihat oleh puluhan ribu orang. Dan di dalam komentar-komentar itu, ada sesuatu yang membuat dadaku berdebar lebih cepat:
"Aku tinggal di daerah itu. Tidak ada irigasi. Tidak pernah ada."
"Kakekku dulu kerja di proyek itu. Katanya anggarannya 'hilang'."
"Ini baru pertama kali aku lihat data ini. Kenapa tidak pernah ada yang memberitahu?"
Aku membaca komentar-komentar itu berulang kali. Bukan karena aku mencari validasi. Tapi karena aku melihat sesuatu di dalamnya. Sesuatu yang seperti kesadaran. Orang-orang mulai melihat. Orang-orang mulai bertanya. Orang-orang mulai tahu.
Aku teringat Kakek. "Jangan diam, Na."
Aku teringat Pak Harto. "Aku ingin seseorang tahu bahwa aku pernah mencoba."
Aku teringat Ayah. "Aku bisa membantu."
Dan kemudian, aku mendengar suara dari dapur, suara piring jatuh.
Aku berlari ke dapur.
Ibu berdiri di tengah ruangan, di hadapannya pecahan piring yang berserakan di lantai. Tangannya gemetar. Di tangannya yang lain, ponselku, ponsel yang tertinggal di meja dapur semalam, yang tanpa sengaja ia buka.
"Bu, kau tidak apa-apa?"
Ia tidak menjawab. Ia hanya menatap layar ponselnya. Layar yang menampilkan infografis yang kubuat, yang kunggah semalam, yang kini dilihat oleh puluhan ribu orang.
"Na..." Suaranya pelan. Nyaris berbisik. "Apa ini?"
Aku berjalan mendekat. Aku melihat layar ponsel. Infografis tentang Proyek Irigasi Maju Lancar, dengan angka-angka yang jelas, dengan visual yang tajam, dengan stempel merahku di sudut kanan bawah:
"TELAH TERCATAT."
"Itu konten yang kubuat, Bu. Dari catatan Pak Harto."
"Pak Harto?"
"Pensiunan pegawai negeri. Dia menyimpan catatan selama 40 tahun."
Ibu menatapku lama, rahangnya sedikit mengeras, seperti menahan sesuatu yang belum siap ia ucapkan.
"Kakekmu juga menyimpan catatan selama 40 tahun."
"Aku tahu, Bu."
"Dan sekarang, kau..." Ia berhenti. Menelan sesuatu. "...kau melakukan apa yang tidak pernah mereka lakukan. Kau membagikannya."
Aku tidak menjawab. Aku hanya berdiri di hadapannya, menunggu.
Ibu menatap layar ponselnya lagi. Ia membaca komentar-komentar. Ia membaca kata-kata orang-orang yang mengatakan bahwa mereka melihat, bahwa mereka tahu, bahwa mereka tidak lagi bisa berpaling.
Air mata jatuh dari matanya.
Bukan air mata sedih. Bukan air mata takut. Tapi air mata bangga. Air mata yang sudah ia tahan bertahun-tahun, yang akhirnya tidak bisa ia tahan lagi.
"Aku takut, Na," katanya pelan. "Aku takut kau akan terluka. Aku takut kau akan mengalami apa yang Kakek alami. Aku takut..." Ia berhenti. Menarik napas. "...aku takut kehilanganmu."
"Aku tidak akan pergi, Bu."
"Aku tahu." Ia menatapku. "Tapi aku tetap takut."
Aku melangkah mendekat. Aku memeluknya. Tangannya yang gemetar meraih punggungku.
"Aku tidak akan pergi, Bu," bisikku. "Aku hanya akan mencatat."
Malam itu, Ibu memasak makan malam yang berbeda dari biasanya.
Bukan nasi goreng. Bukan lauk yang sederhana. Tapi makanan lengkap. Sayur, ikan, sambal, dan teh melati yang masih mengepul. Meja makan disusun rapi, seperti untuk acara khusus, padahal hari itu bukan hari apa-apa.
Aku duduk di kursiku. Ayah duduk di kursinya. Ibu duduk di kursinya, kursi yang selama ini kosong di pagi hari, karena ia selalu sibuk di dapur.