Generasi Nozzel: Stempel di Meja Makan

Tourtaleslights
Chapter #8

ANCAMAN DI TELEPON

Aku tidak menyangka bahwa konten yang membuatku bangga juga akan membuatku takut.

Tiga hari setelah kontenku viral, sesuatu terjadi. Sesuatu yang membuat bulu kudukku berdiri.

Aku sedang duduk di ruang tamu, mengedit video untuk Proyek #002, ketika aku melihat mobil hitam berhenti di depan rumah. Bukan mobil biasa. Mobil sedan hitam dengan kaca gelap, tanpa logo, tanpa nomor polisi yang terbaca jelas. Itu berhenti selama lima menit. Tidak ada yang keluar. Tidak ada yang masuk. Hanya berhenti, lalu pergi.

Aku mencoba mengabaikannya. Tapi ada sesuatu di dalam dadaku, sesuatu yang seperti firasat, seperti peringatan yang tidak bisa kuideteksi.

Keesokan harinya, ponselku berdering.

Nomor yang tidak kukenal. Aku mengangkatnya dengan setengah hati, mengira itu mungkin telemarketing, mungkin teman lama yang tiba-tiba muncul, mungkin seseorang yang ingin bertanya tentang kontenku.

"Kirana?"

Suara di ujung telepon berat, formal, seperti seseorang yang sudah terbiasa berbicara di ruang rapat yang dingin.

"Ya, ini saya."

"Saya Kepala Dinas Arsip dan Dokumentasi. Nama saya Direktur Kusuma."

Aku berhenti. Jantungku berdetak lebih cepat. Di luar, aku melihat bayangan mobil hitam yang sama melintas pelan di depan rumah.

"Saya ingin bertemu dengan Anda. Besok pagi. Datang ke kantor saya."

"Ada apa, Pak?"

"Kami ingin membicarakan konten Anda."

Telepon ditutup.

Aku menatap layar ponselku. Detak jantungku masih cepat. Terlalu cepat. Aku mencoba menenangkan diri, tetapi ada sesuatu yang menggelitik di kepalaku, sesuatu yang seperti peringatan yang tidak bisa kuideteksi.

Konten Anda.

Apa yang ingin mereka bicarakan? Apakah mereka ingin memuji? Apakah mereka ingin meminta kerja sama? Apakah mereka ingin...

Aku tidak ingin memikirkan kemungkinan lainnya.

Kantor Dinas Arsip dan Dokumentasi terletak di pusat kota. Gedung tua bergaya kolonial, tinggi, dengan jendela-jendela yang selalu tertutup tirai. Aku masuk melalui pintu depan yang berat, terdorong oleh angin yang membawa bau karbol dan kertas tua. Di dalam, cahaya pucat dari lampu tabung berkedip dengan ritme yang tidak teratur, menciptakan bayangan yang menari-nari di dinding.

Di kejauhan, mesin stempel berdentum: cap... cap... cap... , seperti detak jantung yang menolak mati. Aku mengikuti suara itu melalui koridor yang panjang, melewati deretan pintu yang semuanya tertutup. Di dinding, poster-poster usang tentang "Pelayanan Publik" dan "Transparansi" terlihat lusuh dan kusam.

Seorang petugas dengan seragam kusam mengantarku ke lantai tiga, ke sebuah ruangan dengan pintu kayu mahoni yang berat. Ia mengetuk, lalu membukakan pintu.

"Silakan masuk."

Di dalam ruangan, ada meja besar yang terbuat dari kayu jati. Meja yang sudah lama, yang permukaannya penuh goresan-goresan kecil, seperti bekas pena yang menekan terlalu keras. Di belakang meja itu, duduk seorang pria.

Dia tidak tua, tetapi tidak muda. Mungkin lima puluhan, dengan rambut yang mulai memutih di pelipis, dan kacamata baca yang tergantung di lehernya. Matanya tajam, seperti seseorang yang sudah terbiasa melihat banyak hal, tetapi memilih untuk tidak mengatakan apa pun.

Di dinding di belakangnya, rak-rak penuh dengan map merah dan cokelat. Ribuan map yang berjajar rapi. Aku teringat kata-kata Kakek tentang "arsip", tentang masalah-masalah yang dicatat dan disimpan, menunggu untuk ditemukan.

"Kirana," katanya. Bukan pertanyaan. Pernyataan. "Silakan duduk."

Aku duduk di kursi di hadapannya. Kursi itu keras, tidak nyaman, seperti kursi di ruang tunggu rumah sakit. Suara mesin stempel dari kejauhan masih terdengar, cap... cap... cap... , seperti mengingatkanku bahwa di sini, semuanya adalah prosedur.

"Saya Direktur Kusuma. Kepala Dinas Arsip dan Dokumentasi." Ia menatapku. "Saya sudah melihat konten Anda."

Aku menahan napas.

"Konten Anda tentang Proyek Irigasi Maju Lancar, dan beberapa yang lainnya," lanjutnya. "Data-data yang Anda tampilkan... menarik."

"Data itu benar, Pak."

Ia menatapku. Lama. Di tangannya, sebuah map cokelat yang sudah usang. Aku tidak bisa melihat apa yang tertulis di sampulnya.

"Benar atau tidak, data itu tidak resmi. Tidak ada stempel yang mengesahkannya. Secara administratif, data itu tidak ada."

"Tapi data itu benar, Pak."

"Di sini, Kirana, yang benar secara administratif lebih penting daripada yang benar secara substansial." Ia menatapku. "Kau tahu itu, bukan?"

Aku tidak menjawab.

"Kakekmu juga tahu itu," lanjutnya. "Tapi ia memilih diam. Dan ia selamat."

"Kakek saya tidak selamat, Pak. Ia mati dengan perasaan gagal."

Sesuatu di rahangnya mengeras. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, dan ketika ia bicara lagi, suaranya kembali menjadi suara pejabat yang membaca prosedur, bukan suara orang yang baru saja mendengar cerita tentang kakek yang mati merasa gagal.

"Saya beri Anda satu peringatan resmi, yang pertama dan terakhir," katanya. "Hentikan unggahan Anda dalam tujuh hari. Jika Anda tidak berhenti, saya akan mengambil tindakan resmi."

Aku menatapnya. Tanganku dingin di pangkuanku, tapi aku tidak membiarkan suaraku ikut gemetar.

"Silakan, Pak. Tapi saya tidak akan berhenti."

Ia menatapku, menunggu aku goyah. Aku tidak goyah.

Direktur Kusuma menatapku. Matanya berubah, bukan marah, bukan takut, tapi sesuatu yang lain. Sesuatu yang seperti pengakuan.

"Aku juga menyimpan catatan," katanya pelan. "Tapi bedanya denganmu, aku tidak cuma diam. Aku ikut menandatangani pemindahan orang-orang yang berani bicara ke pos-pos terpencil, supaya suara mereka tidak sampai ke mana-mana. Aku pikir waktu itu aku sedang menjaga kantor ini. Ternyata aku sedang menghukum orang-orang sepertimu, jauh sebelum kau lahir."

Lihat selengkapnya