Generasi Nozzel: Stempel di Meja Makan

Tourtaleslights
Chapter #9

JATUH KIRANA DI KAMAR

Aku tidak keluar kamar selama tiga hari.

Bukan karena aku ingin mengurung diri. Bukan karena aku marah pada siapa pun. Tapi karena ada sesuatu yang patah di dalam diriku. Sesuatu yang tidak bisa kuperbaiki dengan kata-kata, tidak bisa kusembuhkan dengan waktu, tidak bisa kulupakan dengan menggulir layar.

Semuanya terjadi begitu cepat.

Dua hari setelah pertemuanku dengan Direktur Kusuma, akunku diblokir. Bukan peringatan. Bukan teguran. Tapi blokir total, tanpa penjelasan, tanpa pemberitahuan, tanpa kesempatan untuk banding.

Aku membuka ponselku di pagi hari. Aku mencoba masuk ke akunku. Layar menampilkan pesan:

"Akun Anda telah dinonaktifkan karena melanggar kebijakan platform."

Aku menatap layar itu. Aku mengetik ulang kata sandiku. Sama. Aku mencoba lagi. Sama. Aku mencoba melalui perangkat lain. Sama.

Akunku hilang.

Infografisku hilang.

Semua yang sudah kubangun, hilang.

Aku tidak bisa menggambarkan perasaannya.

Bukan sedih. Bukan marah. Bukan kecewa. Ada sesuatu yang lebih dalam dari semua itu. Sesuatu yang seperti kekosongan. Seperti aku sudah berusaha keras untuk membangun sesuatu, dan dalam satu detik, semuanya hancur.

Aku duduk di lantai kamarku. Ponselku tergeletak di sampingku, layarnya masih menampilkan pesan blokir. Aku menatapnya. Aku tidak bisa bergerak.

Di luar, hujan mulai turun. Suara air di atap seng, seperti seseorang yang mencoba menahan tangis dan gagal sedikit demi sedikit. Suara itu tidak menenangkan. Suara itu seperti ejekan.

Aku teringat semua yang sudah kulakukan:

●      Infografis tentang formulir kematian.

●      Infografis tentang Proyek Irigasi Maju Lancar.

●      Infografis tentang Proyek Jembatan Harapan.

●      Map Pak Harto.

●      Buku Kakek.

●      Ruang tamu yang sudah kuubah menjadi museum.

Semuanya hilang. Tidak ada yang tersisa.

Aku teringat kata-kata Direktur Kusuma: "Jika Anda tidak berhenti, saya akan mengambil tindakan resmi."

Ini dia. Tindakan resminya. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa.

Hari pertama, aku tidak keluar kamar.

Ibu mengetuk pintu. "Na, kau sudah makan?" Aku tidak menjawab. Ia mengetuk lagi. "Na, ada apa?" Aku tetap diam.

Aku mendengar langkah kakinya menjauh. Aku mendengar suara dapur. Panci, piring, air mengalir. Aku mendengar ia menangis pelan, tetapi aku tidak bisa membuka pintu. Aku hanya berbaring di lantai, menatap langit-langit, mendengarkan suara hujan di luar jendela.

Hari kedua, aku masih tidak keluar.

Ibu mengetuk lagi. Kali ini lebih lama. "Na, buka pintunya. Aku tahu ada sesuatu yang terjadi." Aku mendengar suaranya bergetar. Aku ingin membuka pintu. Tapi tanganku tidak bergerak. Aku hanya bisa menatap langit-langit. Cahaya kuning yang sekarat di kamarku berkedip, seperti biasa, tetapi kali ini, aku tidak peduli.

Aku mendengar langkah kakinya menjauh lagi. Aku mendengar suara telepon, ia menelepon seseorang. Mungkin Ayah. Mungkin kerabat. Aku tidak tahu. Aku tidak peduli.

Hari ketiga, aku masih di sini.

Aku tidak mandi. Aku tidak makan. Aku hanya berbaring di lantai, menatap retak-retak halus di langit-langit. Kursi rotan Kakek di sudut kamar menatapku. Atau setidaknya, itulah yang kurasakan. Anyamannya yang gelap di sudut ruangan tampak seperti mata yang tak berkedip, mengingatkanku pada semua kata 'gagal' yang berputar liar di kepalaku, tentang kesendirian, tentang harapan yang tidak pernah terwujud.

Aku teringat Kakek: "Aku gagal karena aku sendirian."

Aku teringat Pak Harto: "Aku ingin seseorang tahu bahwa aku pernah mencoba."

Aku teringat Ayah: "Aku bisa membantu."

Aku teringat Ibu: "Aku takut kau akan terluka."

Mereka semua benar. Aku gagal. Aku terluka. Dan aku tidak tahu bagaimana harus bangkit.

Di dalam buku catatan Kakek, aku pernah membaca satu kata yang tidak pernah kumengerti sebelumnya. Aku tidak ingat persis di mana aku menemukannya. Tapi kata itu muncul lagi di kepalaku, seperti bisikan dari tempat yang tidak bisa kulihat.

Silombra.

Kakek menulis: "Mereka yang diam terlalu lama perlahan menjadi Silombra. Tubuhnya ada, tapi namanya hilang dari arsip. Ia hadir di meja makan, tapi tidak ada yang melihatnya. Ia hidup, tapi tidak lagi dicatat."

Aku menatap langit-langit.

Bukankah itu yang terjadi padaku? Bukankah itu yang terjadi pada keluargaku?

Aku berbaring di lantai, merasakan tubuhku seperti tidak ada. Aku menjadi Silombra. Aku hilang dari arsip. Aku tidak ada.

Hari ketiga, malam hari.

Lihat selengkapnya