Aku terbangun keesokan paginya dengan perasaan yang berbeda.
Bukan perasaan hampa yang biasa kurasakan setelah begadang. Bukan perasaan cemas yang selalu menyertai setiap pagi. Tapi perasaan ringan, seperti ada sesuatu yang berat sudah terangkat dari dadaku, seperti ada angin segar yang masuk melalui celah jendela yang selama ini tertutup.
Aku duduk di tepi tempat tidur. Di atas meja, poster-poster yang kubuat semalam masih terbentang. Tiga lembar kertas A3 dengan desain yang tajam, dengan angka-angka yang jelas, dengan stempel merahku di sudut kanan bawah. Di sampingnya, map cokelat dari Direktur Kusuma masih terbuka, catatan-catatan baru yang belum sempat kubaca.
Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan dengan poster-poster ini. Tapi aku tahu satu hal: aku tidak akan menyimpannya di dalam kamar. Aku akan membagikannya. Aku akan menempelkannya. Aku akan membuat orang-orang melihat.
Aku turun ke lantai bawah. Ibu sedang di dapur, menyiapkan sarapan. Ayah sudah pergi bekerja, seperti biasa, seperti setiap pagi. Tapi ada sesuatu yang berbeda di udara pagi itu. Sesuatu yang seperti harapan.
"Na, kau mau sarapan?"
"Nanti, Bu."
Aku berjalan ke ruang tamu. Museumku. Di dinding, infografis-infografis yang sudah kubuat masih terpampang. Di atas meja, map cokelat Pak Harto masih terbuka. Di sudut ruangan, papan kayu dengan tulisan "Museum Birokrasi Nasional" masih berdiri. Di atas meja lain, poster-poster baru yang kubuat semalam.
Aku berdiri di tengah ruangan. Aku melihat sekeliling. Aku melihat semua yang sudah kubangun. Dan aku menyadari bahwa meskipun akunku diblokir, meskipun kontenku hilang, ini masih ada. Ini nyata. Tanganku bisa menyentuhnya. Kertas, tinta, stempel kayu yang beratnya kukenal di telapak tangan. Tidak ada yang bisa memblokir itu.
Aku menghabiskan pagi itu dengan merapikan museumku.
Aku menambahkan poster-poster yang kubuat semalam ke dinding. Aku mengatur ulang infografis-infografis yang sudah ada. Aku menulis label-label kecil untuk setiap pajangan, seperti museum sungguhan, seperti tempat di mana orang-orang bisa datang dan melihat.
Aku sedang menempelkan poster terakhir ketika aku mendengar suara truk di depan rumah.
Suara mesin yang dimatikan. Suara pintu yang dibuka. Suara langkah kaki yang berat di teras.
Aku menoleh. Ayah berdiri di ambang pintu ruang tamu. Ia tidak seperti biasanya. Biasanya ia langsung masuk ke kamar, berganti pakaian, lalu duduk di teras sambil membaca koran. Tapi hari ini, ia berdiri di ambang pintu, memegang ponselnya dengan kedua tangan, seperti sedang membawa sesuatu yang berharga. Seragamnya masih basah oleh keringat dan gerimis pagi.
"Na," katanya. "Aku pulang lebih awal."
Aku melihat jam di dinding. Masih jam dua siang.
"Ada apa, Yah?"
Ia tidak menjawab. Ia hanya melangkah masuk dan mengulurkan ponselnya. Layar ponsel tua yang retak di pinggir. Retak yang sudah ada sejak bertahun-tahun, yang tidak pernah diperbaiki karena "masih berfungsi." Di layar itu, ada puluhan foto.
Foto jalan rusak. Foto lubang di aspal. Foto jembatan yang hampir roboh. Foto trotoar yang hancur. Foto saluran air yang tersumbat. Foto-foto yang diambil dari berbagai sudut, dari berbagai waktu, dari berbagai tempat yang ia lewati setiap hari.
"Ini," katanya. "Aku ambil foto-foto ini selama bertahun-tahun. Aku tidak tahu untuk apa. Aku hanya..." Ia berhenti. "...aku hanya ingin seseorang melihatnya."
Aku mengambil ponselnya. Aku menggulir foto-foto itu. Satu per satu. Jalanan yang hancur. Lubang yang tidak pernah diperbaiki. Jembatan yang sudah berkarat. Semuanya adalah bukti, bukti bahwa sistem ini tidak peduli, bukti bahwa orang-orang kecil selalu menjadi korban.
"Yah..." Suaraku serak.
"Hari ini," katanya, "aku berhenti di pinggir jalan. Aku melihat seorang bapak tua hampir jatuh karena lubang di aspal. Aku teringat kontenmu. Aku teringat semua yang kau katakan tentang mencatat."
Ia menatapku.
"Jadi aku mulai memotret. Tidak hanya hari ini. Tapi selama bertahun-tahun. Aku tidak tahu mengapa aku menyimpannya. Mungkin karena... aku berharap suatu hari nanti ada gunanya."
"Aku tidak bisa membuat infografis," katanya. "Aku tidak bisa menulis seperti Kakekmu. Tapi aku bisa memotret. Aku bisa menunjukkan apa yang kulihat."
Ia menatapku.
"Aku bisa membantu."
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku hanya memeluknya. Untuk kedua kalinya, ia membalas pelukanku, lebih erat dari sebelumnya.
Kami duduk lama di lantai ruang tamu, menggulir foto demi foto. Di suatu titik, tanpa kusadari kapan mulainya, suara Ayah berubah, lebih pelan, sedikit berat di ujung setiap kalimat.
"Foto ini," katanya, menunjuk sebuah gambar jalan berlubang di dekat sekolah dasar, "diambil hari kau ulang tahun ke sepuluh. Aku ingat karena aku terlambat pulang membelikanmu kue, gara-gara ban motorku kena lubang ini."
Ia diam sebentar. Aku melihat matanya berkaca-kaca, meski ia buru-buru menyekanya dengan punggung tangan, pura-pura menggaruk pelipis.
"Aku selalu berpikir aku gagal jadi ayah yang baik, Na. Aku tidak pandai bicara. Tidak pandai menunjukkan kalau aku peduli. Yang aku bisa cuma bekerja, dan diam, dan berharap kau tahu tanpa aku bilang."
"Yah..."
"Ternyata," lanjutnya, suaranya nyaris pecah, "aku sudah mencatat juga. Selama ini. Aku hanya tidak tahu itu namanya mencatat."
Aku menggenggam tangannya. Untuk pertama kalinya sejak aku kecil, aku melihat Ayah menangis. Bukan tangis keras, hanya bulir-bulir kecil yang jatuh diam-diam, yang ia biarkan jatuh tanpa berusaha menyembunyikannya lagi.
Aku menghabiskan sisa sore itu dengan memilah foto-foto Ayah.
Ada puluhan foto. Mungkin lebih dari seratus. Beberapa di antaranya sudah tua, diambil bertahun-tahun lalu, dengan kualitas yang buruk dan pencahayaan yang redup. Beberapa di antaranya baru, diambil minggu lalu, dengan detail yang tajam dan warna yang jelas.
Aku mengelompokkannya berdasarkan lokasi, berdasarkan waktu, berdasarkan jenis kerusakan. Aku membuat katalog, seperti arsip, seperti catatan, seperti museum.
Di setiap foto, aku menambahkan keterangan:
● Lokasi