Aku tidak menyangka hari itu akan tiba secepat ini.
Tiga minggu setelah akunku diblokir, setelah Ayah menunjukkan foto-fotonya, setelah Ibu membagikan data dari teman-teman gurunya, kami memutuskan untuk melakukan sesuatu yang belum pernah kami lakukan sebelumnya: membuka pameran fisik.
Bukan pameran di galeri besar. Bukan pameran di museum ternama. Tapi pameran di sebuah ruko kecil di pinggiran kota. Ruko yang kami sewa dengan uang tabungan Ayah, yang kami bersihkan selama dua hari, yang kami ubah menjadi ruang pameran yang sederhana tetapi nyata.
Aku berdiri di tengah ruko itu, melihat sekeliling. Dinding-dindingnya sudah kukatupkan dengan infografis-infografis yang kubuat. Tentang formulir kematian, tentang proyek-proyek fiktif, tentang jalan-jalan yang rusak. Di sudut ruangan, ada meja pajang dengan map cokelat Pak Harto, dengan buku catatan Kakek, dengan daftar keluhan dari teman-teman Ibu. Di dinding lainnya, foto-foto Ayah. Puluhan foto jalan rusak, lubang di aspal, jembatan yang hampir roboh, terpajang dalam bingkai-bingkai sederhana.
Di atas meja utama, aku meletakkan sebuah buku tamu kosong dan sebuah stempel kayu yang kubuat sendiri, stempel dengan tulisan "TELAH TERCATAT."
Dan di pintu masuk, sebuah papan kayu dengan tulisan:
"MUSEUM BIROKRASI NASIONAL"
Aku menatap papan itu. Aku tidak percaya ini nyata. Aku tidak percaya kami berhasil mewujudkannya.
Hari pembukaan, aku datang lebih awal.
Aku ingin memastikan semuanya sempurna. Setiap infografis tergantung lurus, setiap foto terpajang rapi, setiap catatan terbuka di halaman yang tepat. Aku berjalan dari satu sudut ke sudut lainnya, menyesuaikan, memperbaiki, memastikan.
Pak Harto datang pada pukul sembilan. Ia berjalan masuk dengan langkah pelan, matanya bergerak perlahan dari satu pajangan ke pajangan lainnya. Ia berhenti di depan infografis tentang Proyek Irigasi Maju Lancar, infografis pertama yang kubuat dari catatannya.
"Ini," katanya pelan. "Aku tidak pernah menyangka akan melihatnya seperti ini."
"Seperti apa?"
"Seperti sesuatu yang nyata." Ia menatapku. "Seperti sesuatu yang tidak bisa diabaikan."
Aku tersenyum. Aku tidak tahu harus berkata apa.
Sekar datang pada pukul sepuluh. Ia membawa sekelompok teman. Aktivis-aktivis media sosial yang selama ini ia kenal. Mereka berjalan masuk dengan penuh semangat, melihat-lihat, mengambil foto, berbisik-bisik.
"Ini keren banget, Kirana!" kata Sekar. "Aku suka cara kamu membingkai semuanya. Kayak lagi lihat pameran seni, tapi isinya data."
"Itu maksudnya," kataku.
"Aku tahu. Itulah kenapa aku suka."
Pengunjung mulai berdatangan pada pukul sebelas.
Bukan banyak. Mungkin dua puluh orang di jam pertama. Tapi mereka datang. Mahasiswa, ibu-ibu PKK, birokrat muda, tetangga-tetangga yang penasaran. Mereka berjalan masuk, melihat-lihat, membaca, bertanya.
Aku berdiri di dekat pintu, menyambut setiap pengunjung. Aku menjelaskan infografis-informasifis, menceritakan cerita di balik setiap pajangan, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul.
"Ini data dari mana?" tanya seorang mahasiswa.
"Dari catatan seorang pensiunan pegawai negeri," kataku. "Dia menyimpannya selama 40 tahun."
"Kenapa baru sekarang dipamerkan?"
"Karena baru sekarang ada yang berani membukanya."
Mahasiswa itu mengangguk. Ia mengambil foto pajangan itu dengan ponselnya.
"Aku akan membagikan ini," katanya. "Biarkan teman-temanku melihat."
Aku melihat Sekar yang tersenyum dari kejauhan. Ia mengangkat ponselnya. Merekam semuanya, bersiap untuk membagikannya ke dunia yang lebih luas. Aku tidak tahu apakah ini akan cukup. Tapi aku tahu satu hal: ini adalah awal.
Ibu datang pada pukul satu siang.
Aku melihatnya dari kejauhan. Ia berdiri di pintu masuk, tangannya memegang tas kecil, matanya bergerak perlahan dari satu sudut ruangan ke sudut lainnya. Ia tampak gugup, seperti seseorang yang memasuki tempat asing, seperti seseorang yang tidak yakin apakah ia pantas berada di sana.
Aku berjalan mendekat.
"Bu, kau datang."
"Aku bilang mau datang," katanya. Suaranya pelan, sedikit bergetar. "Aku tidak mau mengecewakanmu."