Aku tidak menyangka hari itu akan tiba.
Tiga hari setelah pameran dibuka, surat resmi tiba di rumah. Amplop putih tebal dengan stempel merah di sudut kanan atas. Aku membukanya dengan tangan gemetar. Isinya singkat dan jelas:
"Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 47 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Pameran Publik, kami meminta agar pameran 'Museum Birokrasi Nasional' ditutup dalam waktu 3×24 jam karena tidak memiliki izin resmi."
", Dinas Arsip dan Dokumentasi"
Aku menatap surat itu. Aku membaca ulang. Aku membaca ulang lagi.
Direktur Kusuma telah bertindak.
Aku membawa surat itu ke ruang tamu. Di sana, Ayah sedang duduk di dekat pajangan foto-fotonya. Ibu sedang merapikan meja pajang. Mereka melihat surat di tanganku, melihat wajahku, dan, tanpa bertanya, mereka tahu bahwa sesuatu telah terjadi.
"Ada apa, Na?" tanya Ibu.
Aku menyerahkan surat itu.
Ibu membacanya. Wajahnya berubah, bukan marah, bukan takut, tapi serius. Ia menyerahkan surat itu ke Ayah.
Ayah membacanya. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap surat itu lama sekali. Di tangannya yang kasar, kertas itu terlihat rapuh.
"Kita tutup?" tanyaku pelan.
Ibu menatapku. Matanya tajam, tiba-tiba tajam, seperti pisau yang baru diasah.
"Tidak."
"Bu, tapi ini surat resmi—"
"Aku tidak peduli," katanya. "Pameran ini tidak akan ditutup."
Aku menatapnya. Aku tidak pernah melihat Ibu seperti ini, bukan marah, tapi tegas, seperti seseorang yang sudah memutuskan sesuatu dan tidak akan mundur.
"Bu, kalau kita melawan, kita bisa—"
"Aku tahu risikonya." Ia menatapku. "Tapi aku lebih takut jika kita menyerah."
Kursi rotan Kakek masih di sudutnya. Kosong secara fisik, tapi kehadirannya malam ini begitu padat, seolah ia sedang duduk di sana, menyetujui setiap kata berani yang keluar dari mulut Ibu.
Malam itu, kami duduk di meja makan.
Bukan seperti biasanya. Bukan dengan keheningan yang canggung, bukan dengan ponsel di tangan. Tapi dengan surat penutupan di atas meja, dengan map-map catatan di sekitarnya, dengan tekad yang baru terbentuk.
"Besok, Direktur Kusuma mungkin akan datang sendiri," kataku. "Aku harus siap menghadapinya."
"Kami juga," kata Ayah.
Aku menatapnya.
"Kami juga akan di sini," lanjutnya. "Kami tidak akan membiarkanmu menghadapi ini sendirian."
"Yah..."
"Aku sudah diam selama bertahun-tahun," katanya. "Kali ini, aku tidak akan diam."
Aku menatap Ibu. Ia mengangguk.
"Kakekmu gagal karena ia sendirian," katanya. "Tapi kau tidak sendirian. Kami di sini."
Malam itu, setelah rumah sunyi dan Ibu-Ayah akhirnya tidur, ponselku berdering. Pak Harto.
"Aku dapat kabar dari kawan lama di dalam," katanya, tanpa basa-basi. "Kusuma dipanggil atasannya sore ini. Dimarahi habis-habisan. Katanya pameranmu sudah jadi bahan pembicaraan di rapat pimpinan, dan mereka menyalahkan dia karena membiarkannya berlarut."
Perutku mengencang. "Jadi besok dia akan lebih keras?"
"Mungkin. Tapi ada satu hal lagi." Pak Harto berhenti sebentar, seperti menimbang apakah ini pantas dikatakan. "Kusuma punya anak perempuan. Kuliah semester akhir, umurnya kira-kira sepantaran denganmu. Kawanku bilang, minggu lalu anaknya menunjukkan salah satu unggahan tentang pameranmu ke Kusuma, tidak tahu kalau ayahnya sendiri yang mengurus penutupannya. Anaknya bilang, 'Ayah harusnya bantu orang kayak gini, bukan ngejar-ngejar.' Kusuma tidak menjawab apa-apa. Cuma diam, katanya."
Aku tidak tahu harus merasa apa. Kabar itu tidak membuatku kurang takut. Tapi entah kenapa, ia membuat Direktur Kusuma terasa kurang seperti tembok, dan lebih seperti orang.
"Kenapa kau ceritakan ini padaku, Pak?"
"Karena besok, kalau dia datang dengan wajah dingin, aku mau kau ingat: orang yang terpojok itu ada dua macam. Yang menyerang lebih keras, atau yang akhirnya berhenti berpura-pura. Aku tidak tahu Kusuma yang mana. Kau juga tidak akan tahu, sampai besok."
Aku berbaring lama malam itu, mata terpejam tapi pikiran menyala terang. Aku membayangkan seorang anak perempuan yang tidak kukenal, di suatu tempat yang tidak kutahu, tanpa sadar sudah ikut menaruh sesuatu di pundak ayahnya, sesuatu yang mungkin akan menentukan apa yang terjadi besok pagi di depan pintu rumahku.
Keesokan paginya, Direktur Kusuma datang.
Aku melihat mobilnya dari jendela. Mobil hitam yang berhenti di depan rumah, pintu yang dibuka, sosok yang keluar dengan langkah tegas. Aku menahan napas. Aku membuka pintu.
"Selamat pagi, Kirana."
"Selamat pagi, Pak."
Ia berdiri di ambang pintu. Di tangannya, map cokelat lain. Lebih tebal dari yang pertama, sampulnya masih baru, belum sempat lusuh seperti map yang sudah ia berikan padaku beberapa minggu lalu. Ia menatapku. Matanya tajam, seperti sedang mengukur, menghitung, memutuskan.
"Saya datang untuk memastikan pameran ditutup," katanya.
"Pameran tidak akan ditutup, Pak."
Sesuatu di matanya bergeser, sepersekian detik, sebelum kembali terkendali. Angin pagi berhembus di antara kami.
"Anda sudah menerima surat resmi."
"Saya sudah menerimanya, Pak."
"Dan Anda tetap tidak mau menutup?"
"Tidak, Pak."
Ia menghela napas. Ia menatapku dengan mata yang lelah. Bukan lelah fisik, tapi lelah yang lebih dalam, lelah yang sudah ia bawa bertahun-tahun.
"Saya sudah memperingatkan Anda," katanya. "Saya sudah memberi Anda kesempatan. Tapi Anda tetap memilih jalan ini."
"Ini satu-satunya jalan yang saya tahu, Pak."
"Jalan yang akan menghancurkan Anda."
"Saya tidak takut hancur, Pak."
Ia menatapku. Lama. Lalu ia melangkah masuk, tanpa izin, tetapi aku tidak menghentikannya.
Di ruang tamu, museumku, Direktur Kusuma berjalan perlahan.
Ia melihat infografis-informasifis di dinding. Ia melihat foto-foto Ayah. Ia melihat daftar keluhan Ibu. Ia melihat map cokelat Pak Harto yang terbuka di atas meja. Ia melihat Koleksi Keluarga, buku Kakek, surat Kakek, foto Kakek.