Generasi Nozzel: Stempel di Meja Makan

Tourtaleslights
Chapter #14

MEJA MAKAN BARU

Satu bulan setelah pameran dibuka, sesuatu berubah.

Bukan perubahan besar. Bukan revolusi, bukan pergantian sistem. Tapi perubahan kecil, perlahan, seperti air yang merembes melalui celah-celah dinding, seperti akar yang tumbuh di antara batu-bata yang retak.

Pengunjung terus datang. Bukan banyak. Mungkin dua puluh atau tiga puluh orang setiap hari. Tapi mereka datang. Mereka membaca. Mereka bertanya. Mereka mencatat.

Beberapa dari mereka mulai melakukan hal yang sama. Membuat catatan mereka sendiri, mengumpulkan data mereka sendiri, membagikan temuan mereka sendiri. Seorang mahasiswa mulai mendokumentasikan kondisi jalan di sekitar kampusnya. Seorang ibu rumah tangga mulai mencatat keluhan tentang layanan kesehatan di lingkungannya. Seorang pensiunan pegawai negeri, yang tidak pernah berani bicara selama 40 tahun, mulai menulis memoarnya.

Aku tidak tahu apakah ini akan mengubah apa pun. Aku tidak tahu apakah ini akan membuat sistem menjadi lebih baik. Tapi aku tahu satu hal: kami tidak sendirian lagi.

Malam itu, Ibu memasak semua yang pernah ia masak sepanjang cerita ini. Seolah ia sedang menyusun ulang setiap makan malam yang pernah menyimpan hal-hal yang tak terucap, dan kali ini membiarkan semuanya terucap sekaligus. Nasi goreng kesukaanku, sayur asem seperti yang Ayah suka, dan di tengah meja, poci teh melati baru, bukan cangkir yang retak, tapi cangkir baru yang belum sempat kami pakai bersama.

Meja makan disusun rapi, seperti untuk acara khusus, kali ini, untuk merayakan sesuatu yang tidak bisa kami beri nama.

Aku duduk di kursiku. Ayah duduk di kursinya. Ibu duduk di kursinya, kursi yang selama ini kosong di pagi hari, karena ia selalu sibuk di dapur.

Dan di sampingku, ada kursi kosong, kursi yang selama ini tidak terisi, kursi yang menjadi pengingat akan sesuatu yang hilang.

Tapi kali ini, aku tidak merasa sedih melihatnya. Aku merasa seperti Kakek ada di sana, tersenyum, mengangguk, berkata: "Akhirnya."

"Aku ingin mengucapkan terima kasih," kata Ibu. Suaranya pelan, tapi mantap, tidak gemetar seperti dulu.

"Untuk apa, Bu?"

"Untuk mengajariku bahwa ketakutan tidak akan pernah hilang," katanya. "Tapi kita bisa bertindak meskipun kita takut."

"Aku tidak mengajarimu apa-apa, Bu. Kau yang mengajariku."

Ia menatapku. Matanya basah, bukan menangis, tapi hampir.

"Apa yang kuajarkan padamu?"

"Kau mengajariku bahwa aku tidak sendirian."

Setelah makan malam, aku berjalan ke ruang tamu, museumku.

Sebelum aku sampai ke dinding pajangan, aku berhenti di depan kursi rotan Kakek. Sejak pameran dibongkar, kursi itu sudah dikembalikan ke sudutnya semula, bantal pipihnya sudah disikat bersih oleh Ibu, tapi belum juga diduduki siapa pun.

Aku berjongkok di depannya. Entah kenapa, malam itu tanganku bergerak sendiri. Meraba bagian bawah bantal, seperti mencari sesuatu yang tidak kutahu ada di sana. Jahitan di salah satu sudutnya terasa berbeda dari yang lain: lebih kaku, lebih tebal, seperti ada sesuatu yang diselipkan di baliknya bertahun-tahun lalu dan tidak pernah dibuka lagi.

Aku memanggil Ibu. Bersama-sama, dengan hati-hati, kami melepas jahitan itu.

Di dalamnya, sehelai kertas yang dilipat kecil-kecil. Kertasnya lebih tipis dan lebih lembut dari kertas di buku catatan Kakek, seperti kertas surat, bukan kertas kantor.

Aku membuka lipatan pertama. Lalu lipatan kedua. Dan entah kenapa, di lipatan ketiga, sebelum satu huruf pun terbaca, kepalaku sudah lebih dulu berlari—

Ke sebuah kotak kayu yang debunya belum sempat kuseka, di pagi ketika aku masih mengira hari itu akan sama membosankannya dengan kemarin.

Ke bunyi TAK pertama, kayu bertemu kertas, satu pukulan yang kukira hanya iseng, ternyata adalah awal dari segalanya.

Ke ruang tamu yang perlahan berubah, dinding demi dinding, dari tempat kami menonton televisi tanpa saling menatap, menjadi tempat orang-orang asing berdiri lama-lama membaca luka keluarga kami.

Ke peta Pak Harto yang menyerupai rasi bintang yang salah arah. Ke suara Sekar yang gemetar saat pertama kali berbisik, “Aku juga menyimpan sesuatu.”

Ke telepon yang berdering terlalu lama. Ke map cokelat yang didorong ke arahku di atas meja seorang direktur yang matanya sendiri basah, meski suaranya berusaha tetap dingin.

Ke layar ponsel yang tiba-tiba gelap, akun yang menghilang, dan Ibu yang untuk pertama kalinya berdiri di depanku, bukan di belakangku.

Ke surat perintah yang dibacakan dengan nada resmi di ruang tamu kami sendiri, dan ke keheningan sesudahnya, keheningan yang, anehnya, terasa seperti napas tertahan sebelum sesuatu akhirnya boleh keluar.

Ke meja makan malam ini. Ke kursi kosong di sampingku. Ke sini, ke tanganku yang gemetar memegang kertas yang belum juga selesai kubuka.

Semua itu berputar begitu cepat, begitu diam, seperti sedang menonton potongan-potongan hidup sendiri diputar ulang oleh seseorang yang menyayangiku dari jarak yang sangat jauh. Dan di ujung semua putaran itu, hanya ada satu titik untuk berhenti: kertas ini, di tanganku, malam ini.

“Na kecilku,

Lihat selengkapnya