Lima tahun kemudian.
Aku berdiri di depan kelas. Kelas yang sederhana, dengan dinding-dinding yang dipenuhi poster-poster, dengan meja-meja yang disusun rapi, dengan anak-anak muda yang duduk di hadapanku.
Dua puluh anak muda. Masing-masing memegang buku catatan. Masing-masing memegang stempel kayu kecil bertuliskan "TELAH TERCATAT."
"Selamat datang di Sekolah Stempel," kataku. "Kalian semua adalah Generasi Nozzel berikutnya."
Mereka menatapku. Mata mereka penuh rasa ingin tahu, seperti mata seseorang yang baru saja menyadari bahwa ada dunia di luar yang selama ini tidak mereka lihat.
"Apa yang akan kita pelajari?" tanya seorang anak perempuan di baris depan.
"Kalian akan belajar mencatat," kataku. "Bukan mencatat untuk menyimpan. Tapi mencatat untuk membagikan. Karena yang diucapkan bisa disangkal. Yang dituliskan tidak."
Aku membuka buku catatanku. Buku yang sudah usang, yang penuh dengan catatan-catatan dari perjalananku. Aku membacakan satu baris:
"Diam adalah pilihan. Dan pilihan untuk diam adalah pilihan untuk menjadi bagian dari masalah."
Aku menutup buku itu.
"Kalian semua punya pilihan. Kalian bisa diam. Kalian bisa berteriak. Atau kalian bisa mencatat. Tapi ingat: suara bisa dibungkam dalam satu telepon, satu ancaman, satu akun yang diblokir. Kertas ini tidak semudah itu dihapus. Dan suatu hari nanti, seseorang akan membaca catatan kalian. Dan seseorang itu akan bertanya: 'Kenapa?' Dan pertanyaan itu: pertanyaan sederhana itu, akan mengubah segalanya."
Di dinding kelas, foto Kakek tersenyum. Di sampingnya, foto Ibu, foto Ayah, foto Sekar, foto Pak Harto, dan foto Direktur Kusuma, yang kini menjadi konsultan tidak resmi untuk Sekolah Stempel.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tapi aku tahu satu hal: kami tidak akan berhenti. Kami akan terus mencatat.
Aku menatap deretan buku catatan yang mulai terisi di meja-meja mereka. Halaman-halaman kosong yang, satu per satu, tanpa mereka sadari, sedang berubah menjadi bukti bahwa kali ini, sesuatu akan bertahan.
Di luar jendela, hujan mulai turun.
Aku menatap murid-muridku. Mereka mulai menulis. Mereka mulai mencatat. Mereka mulai bertanya.
Aku tersenyum.