Hari Senin itu seharusnya menjadi hari yang tenang, kalau saja Bagas tidak memutuskan untuk menjadi pahlawan konten. Bagas berdiri di depan gerbang sekolah, memegang HP-nya dengan sudut 45 derajat–sudut yang menurut riset pribadinya bisa membuat rahangnya terlihat setajam silet, padahal lebih mirip orang yang lagi nahan sakit gigi.
"Halo guys, back again with me, Bagas. Hari ini gue mau kasih lihat outfit of the day kelas 11 yang tetap slay meski kantong dry," ucapnya ke arah kamera.
Tiba-tiba, sebuah bayangan besar menutupi cahaya matahari yang sedang Bagas buru. Itu Dika. Dia berjalan gontai seperti zombi yang baru bangun tidur tapi sudah disuruh lari maraton.
"Gas, minggir. Lo menghalangi jalur distribusi gorengan Mpok Ijah," gumam Dika lemas. Perutnya berbunyi, bunyinya lebih mirip suara mesin traktor yang butuh oli.
"Dika! Lo ngerusak aesthetic konten gue! Ini lagi golden hour!" protes Bagas.
Lala muncul dari balik gerbang sambil mengibas-ngibaskan tangannya ke wajah. "Aduh, panas banget sih! Ini indeks UV-nya pasti lagi jahat banget. Sunscreen gue yang harganya setara jatah jajan seminggu bisa luntur dalam tiga detik kalau kita kelamaan di sini!" Lala kemudian menoleh ke Bagas. "Lagian Gas, OOTD apaannya? Seragam kita kan sama semua, cuma kaos kaki lo doang yang beda sebelah."
Bagas melihat ke bawah. Benar saja. Kiri hitam, kanan biru dongker. "Ini namanya asymmetrical fashion, La. Lo nggak paham skena."
Mereka akhirnya berkumpul di pojok warung Mpok Ijah. Jojo sudah duduk di sana, tapi dia tidak memesan apa-apa. Di depannya terbentang kertas instruksi yang sangat panjang.
"Jo, lo lagi belajar buat olimpiade fisika lagi?" tanya Lala sambil menyeruput Matcha Latte (yang sebenarnya cuma bubuk sasetan yang dikocok kencang).
Jojo tidak menoleh. "Bukan. Gue lagi baca syarat dan ketentuan garansi payung lipat yang baru gue beli semalam. Ternyata di poin 14 pasal B, payung ini nggak boleh dipakai kalau anginnya berhembus lebih dari 15 knot. Itu kan aneh secara statistik."
"Yang lebih aneh itu lo, Jo," sahut sebuah suara datar. Nana tiba-tiba sudah ada di samping Jojo. Padahal satu detik lalu dia tidak ada di sana. Nana sedang sibuk menatap layar HP-nya yang menampilkan gambar kucing mengenakan topi aluminium.
"Kalian tahu nggak?" Nana berbisik misterius. "Sebenarnya Mpok Ijah itu intel. Perhatikan cara dia masukin micin ke seblak. Itu kode morse."
Dika yang sedang mengunyah bakwan langsung tersedak. "Kode morse apaan? Itu mah emang Mpok Ijah tangannya lagi tremor aja!"
"EH COPOT!" Bagas tiba-tiba berteriak. Mukanya pucat pasi. Dia melihat layar HP-nya dengan tatapan seperti melihat hantu di siang bolong.