GENG SKENA

Diki Tawadi
Chapter #3

Algoritma Cinta yang Malfungsi

Bagi Jojo, hidup adalah deretan angka dan probabilitas. Makan seblak Mpok Ijah? Ada probabilitas 40% sakit perut. Ujian Matematika? Peluang dapet nilai 100 adalah 99,9% (sisanya faktor tinta pulpen habis). Tapi ada satu hal yang bikin prosesor di otak Jojo overheat: Rina, si kutu buku dari perpustakaan yang selalu meminjam buku ensiklopedia di jam yang sama dengannya.

"Gas, gue butuh bantuan," ucap Jojo pelan saat mereka kumpul di gudang musik.

Bagas yang lagi sibuk nyisir rambut di depan layar HP yang mati langsung menoleh. "Hah? Jojo butuh bantuan? Dunia mau kiamat atau lo lupa cara ngitung 1+1?"

"Gue mau kasih ini ke Rina," Jojo mengeluarkan secarik kertas yang penuh dengan grafik dan koordinat Kartesius. "Ini adalah Grafik Fluktuasi Kekaguman gue terhadap dia selama semester satu."

Lala merebut kertas itu. "Jo... ini apaan? 'Sumbu Y adalah intensitas rindu, Sumbu X adalah durasi pertemuan dalam satuan detik'? Lo mau nembak cewek atau mau presentasi skripsi?!"

"Itu cara paling jujur untuk menunjukkan perasaan, La," bela Jojo kaku. "Secara empiris, data tidak pernah bohong."

"Data emang nggak bohong, tapi perasaan Rina bisa error liat ginian!" sahut Nana yang tiba-tiba muncul dari balik drum set sambil membawa magnet besar. "Mending lo kasih dia cokelat. Cokelat mengandung phenylethylamine. Itu kimia, lo pasti suka."

"Oke," Jojo mengangguk mantap. "Gue bakal kasih cokelat. Tapi gue harus menghitung massa jenis cokelat yang paling tepat agar memberikan tekanan psikologis yang positif."

"Nggak usah pake massa jenis, Jo! Beli aja yang harganya di atas sepuluh ribu!" teriak Bagas gemas.

Akhirnya, dengan dikawal keempat temannya, Jojo berjalan menuju perpustakaan. Di tangannya ada sebuah cokelat batang yang sudah ditempeli stiker hasil hitung-hitungan kalori dan nutrisinya.

"Ingat, Jo. Senyum. Jangan bahas soal hukum gravitasi dulu," pesan Lala.

Jojo masuk ke perpustakaan. Suasananya sepi, hanya ada suara AC yang berdesis. Rina sedang duduk di pojok, asyik membaca buku tentang sejarah peradaban Sumeria.

Jojo mendekat. Kakinya terasa berat, seolah-olah gravitasi di area itu mendadak naik jadi 20 m/s kuadrat.

"Hai, Rina," sapa Jojo. Suaranya patah-patah kayak robot kehabisan baterai.

"Eh, Jojo. Hai," Rina tersenyum.

"Rina, menurut riset, gula dapat meningkatkan hormon dopamin di otak. Oleh karena itu, gue membawakan benda padat berbasis kakao ini untukmu," Jojo menyodorkan cokelatnya dengan tangan gemetar.

Lihat selengkapnya