Sabtu pukul 09.55 WIB. Jojo sudah duduk di Kafe "Pojok Nalar" dengan posisi tubuh tegak 90 derajat. Di depannya bukan hanya ada segelas air mineral (karena dia sudah menghitung kadar gula dalam kopi bisa merusak fokusnya), tapi juga sebuah penggaris, busur derajat, dan jam tangan digital yang sudah disinkronkan dengan jam atom dunia.
"Satu menit, lima belas detik lagi," gumam Jojo sambil menatap pintu kafe.
Bagas, Lala, Nana, dan Dika tentu saja tidak tinggal diam. Mereka sedang melakukan operasi intelijen di meja seberang, bersembunyi di balik menu kafe yang sengaja diangkat tinggi-tinggi.
"Lihat tuh Jojo, kaku banget kayak kanebo kering," bisik Bagas. "Dia mau kencan apa mau jaga ujian nasional?"
"Gue udah bilang suruh pake parfum gue, biar baunya kayak cowok-cowok di iklan mobil mewah. Dia malah pake minyak kayu putih katanya biar pernapasan optimal," keluh Lala sambil mengintip dari balik kacamatanya.
Tepat pukul 10.00.00 WIB, Rina masuk. Dia memakai gaun bunga-bunga sederhana dan membawa buku tipis. Jojo langsung berdiri, gerakannya begitu kaku sampai sendok di mejanya berdenting keras.
"Selamat pagi, Rina. Kehadiranmu tepat waktu menunjukkan tingkat disiplin yang sangat tinggi," sambut Jojo tanpa senyum, tapi matanya bergetar panik.
"Hai, Jo. Maaf ya kalau nunggu lama," kata Rina ramah.
"Tidak. Kamu sampai dalam waktu t = 0. Silakan duduk," Jojo mempersilakan Rina.
Alih-alih nanya "Kamu apa kabar?" atau "Udah makan?", Jojo malah mengeluarkan setumpuk kertas dari tasnya.
"Sesuai janji di chat, gue sudah menyiapkan modul 'Statistik untuk Kehidupan Sehari-hari'. Kita akan mulai dengan distribusi normal pada frekuensi jajan seblak di kantin," ucap Jojo serius.
Rina hanya bisa bengong. "Eh... Jo, kita beneran mau belajar sekarang? Aku pikir kita bakal... ya, ngobrol santai?"
"Ngobrol tanpa struktur itu tidak efisien, Rin. Dengan statistik, kita bisa memahami pola komunikasi kita ke depannya," jawab Jojo sambil menggambar kurva di kertas. "Lihat ini, ini adalah titik di mana kita sering ketemu di perpus. Gue sebut ini Point of Interest."
Di meja seberang, Dika sudah mulai mengunyah donat yang dia bawa sendiri dari luar. "Gas, gue nggak tahan. Gue mau interupsi. Jojo kelamaan ngomongin angka, keburu kiamat itu kencan."
"Jangan! Nanti algoritma Jojo berantakan!" cegah Nana sambil terus merekam momen itu buat bahan riset pribadinya.
Rina mencoba mencairkan suasana. Dia memesan es teh manis. Saat minumannya datang, Rina kesulitan membuka bungkus sedotan plastiknya yang terlalu rapat.
"Sini, biar gue bantu dengan prinsip tuas," Jojo mengambil sedotan itu. Dia menarik plastiknya dengan perhitungan tenaga yang luar biasa kuat, maksudnya biar kelihatan cool.
POP!
Plastik sedotannya lepas dengan kecepatan tinggi, meluncur melewati kepala Rina, dan mendarat tepat di atas kepala Bagas yang lagi ngintip di meja sebelah.
"ADUH!" teriak Bagas spontan sambil berdiri tegak. Menu kafe tebal yang dia pegang jatuh menimpa kaki Dika.
"WOI! Kaki gue!" teriak Dika nggak kalah kencang.