Sabtu sore itu, matahari sedang berada di puncak kegarangannya. Sinar ultravioletnya turun ke bumi dengan dendam kesumat, seolah-olah punya misi pribadi untuk menguji seberapa kuat sunscreen mahal Lala bertahan sebelum akhirnya menyerah, kalah telak, dan luntur menjadi adonan putih lengket yang bikin wajahnya lebih mirip donat gula Pinkan Mambo daripada primadona sekolah.
"Ayo, pasukan! Tegakkan dagu, buat mata kalian sayu-sayu menderita, kayak abis menyantap menu MBG porsi balita imut. Jangan ada yang senyum!" perintah Lala saat mereka turun dari angkot di depan stadion.
Lala sendiri tampak seperti pengungsi dari masa depan yang nyasar ke tahun 90-an. Jaket varsity-nya begitu besar sampai tangannya tidak kelihatan, celana kodoknya bisa menampung tiga karung beras, dan sepatu Docmart KW-nya mengeluarkan bunyi gedebuk-gedebuk setiap kali melangkah.
"La, serius gue tanya," Bagas membetulkan kancing flanelnya yang sudah basah kuyup. "Baju lo ini nggak menghambat sirkulasi oksigen ke otak, kan? Gue ngerasa kita lebih mirip kru sirkus yang ketinggalan bus daripada anak indie."
"Diem lo, Gas! Ini namanya estetika! Lo liat tuh gerbangnya, udah rame banget!" Lala menunjuk sebuah kerumunan massa yang luar biasa padat.
Begitu mereka semakin mendekat ke gerbang, Jojo tiba-tiba berhenti, lalu melihat spanduk raksasa yang membentang di atas gerbang.
"Lala... secara data, ada anomali yang sangat signifikan di sini," ucap Jojo dengan nada datar yang mengkhawatirkan.
"Anomali apaan? Itu rame, berarti festivalnya sukses!" seru Lala bangga.
"Nggak, La. Coba lo baca spanduk itu pake kacamata koin lo," Nana menunjuk ke atas.
Lala membetulkan kacamata hitam kecilnya yang cuma menutup lubang hidung. Di sana tertulis: "GERAK JALAN SEHAT NASIONAL: DALAM RANGKA HUT KECAMATAN KE-45. START SEKARANG, HADIAH UTAMA: SATU UNIT KULKAS DAN KOMPOR GAS!"
Hening seketika.