Minggu pagi di SMA Kita-Kita dimulai dengan aroma yang sangat spesifik: campuran antara bau cat panggung yang masih basah, parfum murah panitia OSIS yang disemprotkan secara brutal, dan aroma sate padang dari kantin yang mulai menjajah udara. Hari ini adalah hari Pensi, hari di mana kasta sosial di sekolah ditentukan oleh siapa yang datang bareng siapa, dan seberapa keren outfit yang mereka kenakan tanpa terlihat seperti sedang berusaha terlalu keras.
Bagas berdiri di depan gerbang yang sudah dihias sedemikian rupa hingga menyerupai gerbang masuk taman safari, lengkap dengan ranting-ranting pohon plastik yang sesekali nyangkut di rambut siswa yang lewat. Pagi itu, Bagas tampil habis-habisan. Dia mengenakan kemeja putih yang disetrika sedemikian licin sampai-sampai kalau ada nyamuk mau hinggap, si nyamuk bakal terpeleset dan mengalami gegar otak ringan. Rambutnya? Jangan ditanya. Kilapnya sudah menyaingi lantai mal yang baru dipel, berkat penggunaan pomade yang dosisnya mungkin bisa dipakai buat melumasi seluruh engsel pintu di sekolah.
"Gas, lo kalau berdiri di bawah lampu sorot panggung bisa bikin silau satu kelurahan, tahu nggak?" celetuk Lala yang muncul dengan gaya yang lebih manusiawi hari ini. Lala trauma berat setelah tragedi astronot di gerak jalan kemarin. Hari ini dia cuma pakai vintage dress bunga-bunga, yang menurut dia bisa memberikan kesan "Gadis Desa yang Terjebak di Kota tapi Tetap Estetik".
"Ini namanya aura bintang, La. Lo nggak paham sinarnya orang yang mau kencan," sahut Bagas sambil mengecek napasnya sendiri untuk yang ke-47 kalinya pagi itu. "Jo, mana analisis lo? Nadin udah masuk radar belum?"
Jojo yang berdiri di samping Bagas tampak sibuk dengan stopwatch di tangan kiri dan denah lokasi Pensi di tangan kanan. Hari ini Jojo juga tampil beda. Dia pakai kaos polo yang dikancing sampai ke paling atas, lengkap dengan jaket jeans andalannya, memberikan kesan "Anak Rajin yang Siap Menghadapi Resesi Dunia". "Menurut estimasi kecepatan rata-rata angkot jurusan rumah Nadin dan ditambah variabel macet karena ada pasar tumpah, Nadin akan muncul dalam t = 180 detik lagi. Toleransi keterlambatan cuma 0,5 persen."
"Nana mana?" tanya Bagas melihat sekeliling.
"Dia lagi di belakang panggung," jawab Dika yang muncul sambil membawa dua plastik es teh manis. "Katanya lagi riset tentang kenapa kabel sound system selalu bentuknya kayak mie goreng yang ruwet. Dia mau tahu apakah itu ada hubungannya dengan teori konspirasi alien."
Tepat saat Jojo memencet stopwatch-nya di angka nol, sebuah mobil ojek online berhenti di depan gerbang. Dan di sanalah dia. Nadin. Dia turun dengan gerakan yang menurut Bagas sangat slow-motion, lengkap dengan efek angin sepoi-sepoi yang entah datang dari mana (padahal sebenarnya itu cuma tiupan dari kipas angin pedagang balon di pinggir jalan). Nadin memakai kaos oversized warna pastel dan celana denim yang bikin dia kelihatan santai tapi tetap bikin jantung Bagas bergetar lebih kencang dari subwoofer panggung utama.
"Hai, Bagas! Wah, rapi banget hari ini. Nggak bawa kabel rakitan dari kulkas tua kan?" Nadin menyapa sambil tertawa manis, yang bagi Bagas suaranya terdengar seperti simfoni malaikat yang lagi main kecapi.
Bagas langsung memasang pose "Andalan Nomor 1": tangan masuk satu ke saku celana, badan agak miring 15 derajat, dan senyum yang dibuat-buat seolah dia baru saja memenangkan lotre triliunan rupiah. "Khusus hari ini, semua urusan kelistrikan gue serahkan ke PLN, Din. Gue mau fokus jadi pendamping lo di hari yang bersejarah ini."
"Bersejarah?" Nadin menaikkan alisnya.
"Iya, sejarah dimulainya kencan kita yang legendaris," jawab Bagas dengan tingkat kepercayaan diri yang melampaui atmosfer bumi.
Mereka pun berkeliling. Pensi itu ramai sekali, mirip pasar malem tapi versi lebih banyak anak muda yang sibuk cari spot buat bikin konten. Bagas mencoba segala cara untuk terlihat keren. Dia membelikan Nadin gulali, meskipun pas dia bayar, dompetnya sempat nyangkut di saku celana karena celananya terlalu ketat–membuat Bagas harus goyang-goyang dulu kayak orang lagi nari ular supaya dompetnya keluar.
"Kita foto di sana yuk, Gas!" Nadin menunjuk booth foto "Mirror Aesthetic" yang lagi viral. Booth itu sebenarnya cuma tumpukan kaca yang disusun sedemikian rupa biar orang bisa liat bayangan mereka dari berbagai sudut.
Bagas, yang haus akan pengakuan digital, tentu saja langsung setuju. "Ayo! Gue udah latihan pose 'Ganteng Tapi Bingung' semalam."