GENG SKENA

Diki Tawadi
Chapter #7

Senin Pagi dan Konspirasi Buku Tugas

Hari Senin di SMA Kita-Kita selalu diawali dengan pemandangan yang lebih mencekam daripada film horor manapun: barisan siswa yang berjalan gontai dengan mata merah akibat begadang, seragam yang disetrika asal-asalan karena listrik mati tadi subuh, dan yang paling horor adalah kehadiran Pak Kumis yang sudah berdiri di depan gerbang sambil memegang penggaris kayu sepanjang satu meter. Pak Kumis bukan cuma guru Matematika, beliau adalah kurator kedisiplinan yang punya indra keenam untuk mencium bau keringat murid yang belum mandi atau murid yang tasnya enteng karena nggak bawa buku pelajaran.

Bagas berjalan menyusuri koridor dengan langkah yang tidak lagi melompat-lompat seperti kemarin sore di Pensi. Kepercayaan dirinya yang setinggi langit saat jalan bareng Nadin, kini merosot tajam hingga sejajar dengan aspal parkiran motor. Dia mengenakan seragam putih yang warnanya sudah mulai "kuning-kuning gading" karena itu adalah seragam cadangan terakhir yang ada di lemarinya. 

"Jo! Jojo! Jangan jalan cepet-cepet! Tungguin variabel pengganggu lo ini!" Bagas berteriak tertahan sambil mengejar Jojo yang sedang berjalan santai dengan tas ransel yang ditarik talinya sampai menempel ketat di punggung, persis tempurung kura-kura ninja yang mau ujian nasional.

Jojo berhenti di depan pintu kelas 11-2, membetulkan kacamatanya yang sedikit melorot akibat gravitasi. "Bagas. Secara statistik, frekuensi lo manggil nama gue dengan nada memelas di hari Senin pagi memiliki korelasi 100% dengan keinginan lo untuk melakukan tindak plagiarisme terhadap tugas Matematika gue."

"Aduh, Jo! Lo kalau ngomong jangan tinggi-tinggi kenapa sih? Plagiarisme itu istilah buat penulis keren, kalau gue ini namanya 'studi banding jawaban'!" Bagas menyodorkan buku tulisnya yang masih kosong melompong, bersih, suci, dan tanpa noda tinta sedikit pun. "Bagi dong, Jo! Gue semalam beneran nggak sempet ngerjain. Otak gue masih penuh sama rekaman slow-motion Nadin yang lagi ketawa pas gue kena bakso. Gue nggak bisa mikirin limit kalau hati gue lagi nggak terbatas begini!"

"Antre, Gas! Budayakan budaya antre yang tertib sesuai sila kedua!" tiba-tiba Lala muncul dari balik pintu kelas, langsung merampas buku Jojo dari tangan Bagas dengan kecepatan yang hanya dimiliki oleh ibu-ibu yang lagi berburu diskonan flash sale.

Wajah Lala terlihat sangat lelah. Lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa ditutupi oleh concealer seharga jatah jajan seminggu sekalipun. "Gue nggak sempet ngerjain karena sibuk membalas pesan di direct message (DM) yang jumlahnya melebihi murid sekelas kita! Orang-orang pada nanya, 'Kak Lala, gimana cara dapet vibe Sport-Skena Nihilism yang otentik?'. Gue harus menjaga reputasi gue sebagai ikon fashion kecamatan, tahu nggak!"

"Mana ada berat! Lo tinggal bikin thread aja di X!" sahut Bagas kesal sambil mencoba merebut kembali buku Jojo.

Suasana di pojok kelas 11-2 mendadak berubah menjadi bursa saham yang sedang crash. Lala dan Bagas berebutan mengelilingi meja Jojo. Lala menyalin dengan tulisan yang miring-miring karena panik, Bagas menulis lamban sambil sesekali bertanya, "Jo, ini angka delapan apa simbol tak hingga? Kok bentuknya kayak kacang atom?", sementara Dika baru saja masuk dengan langkah terseret-seret.

Dika tidak membawa tas yang berisi buku-buku berat. Dia malah membawa kantong kresek hitam berisi bubur ayam yang plastiknya sudah berkeringat. "Guys... Pak Kumis udah di parkiran. Gue liat tadi beliau baru aja standar dua motor bebeknya, terus sempet benerin kumis dulu di kaca spion. Kita punya gak punya banyak waktu sebelum bel masuk berbunyi dan kiamat dimulai!"

"Dika! Lo bukannya bantuin nyalin malah bawa bubur! Baunya bikin fokus gue buyar ke kerupuk!" protes Bagas sambil tangannya bergerak secepat kilat menyalin angka-angka Jojo.

"Lho, sarapan itu penting, Gas! Energi buat mikir itu datang dari karbohidrat!” sahut Dika santai sambil menyuap satu sendok bubur.

Tiba-tiba, Nana muncul. Entah dari mana asalnya, tahu-tahu dia sudah duduk di atas meja sambil memperhatikan buku Jojo dengan tatapan mistis. "Kalian tahu nggak?" Nana berbisik. "Sebenernya angka-angka ini adalah kode koordinat untuk menghubungi pangkalan luar angkasa. Pak Kumis sengaja ngasih tugas ini buat nyaring siapa di antara kita yang punya potensi jadi agen rahasia galaksi."

"Nana, gue mohon, untuk hari ini aja... simpen dulu teori alien lo. Gue lagi fokus nyalin nomor 9 yang rumusnya panjangnya kayak gerbong kereta api ekonomi!" keluh Bagas.

Jojo yang sedari tadi cuma diam memperhatikan buku tugasnya yang obrak-abrik massal, tiba-tiba mengangkat telunjuknya. "Tunggu. Gue baru sadar ada satu variabel yang salah di nomor 8."

"Yang mana?" teriak Bagas dan Lala serempak sampai-sampai bubur Dika hampir tumpah.

"Harusnya simbol infinity mendekati tak hingga (infinity), tapi gue nulisnya x mendekati kenyataan. Gue rasa sistem kognitif gue masih mengalami bug gara-gara memori Rina yang bawain gue bekal roti isi selai cokelat pas Pensi kemarin," Jojo membetulkan kacamatanya yang sedikit melorot, sementara ada semburat merah yang muncul di pipinya yang biasanya sedatar papan tulis. "Secara nutrisi, roti itu sangat standar, tapi secara psikologis, efeknya lebih dahsyat daripada dapet nilai seratus di ulangan harian."

"JOOOO! JANGAN BUCIN DI SAAT KRITIS GINI!" Bagas panik setengah mati sampai suaranya melengking kayak suara ban mobil yang ngerem mendadak. Dia mulai menghapus tulisannya dengan tipe-x pelan-pelan. "Cepat, Jo! Mana pembetulannya?! Roti selai cokelat nggak bakal bisa nyelametin gue dari hukuman jemur Pak Kumis!"

"Bentar, Gas. Gue lagi mencoba melakukan sinkronisasi ulang antara logika dan perasaan," gumam Jojo sambil menarik napas panjang.

Teeeeeet! Teeeeeeet!

Lihat selengkapnya