Bagi sebagian besar siswa SMA Kita-Kita, Warung Mpok Ijah adalah tempat pelarian dari penatnya rumus trigonometri setelah pulang sekolah. Tapi bagi Dika, warung itu adalah sebuah medan pertempuran taktis di mana harga diri dipertaruhkan demi sepotong bakwan yang sudah sedikit melempem. Syukur-syukur dapat batch bakwan panas yang baru diangkat sama Mpok Ijah. Masalahnya, saldo di dompet Dika saat ini sedang dalam kondisi kritis; lebih tipis daripada selembar tisu yang dipakai Lala buat hapus eyeliner.
"Guys, gue punya teori," bisik Dika saat mereka berlima (plus Nana yang tiba-tiba muncul dari balik tong sampah) sedang duduk di pojok warung. Kali ini Dika terlihat normal aka tidak terlihat ngantuk seperti biasa. "Mpok Ijah itu sebenernya orangnya perasa. Semakin kita kelihatan butuh makan, semakin dia bakal pelit. Tapi kalau kita pakai teknik 'Psikologi Terbalik', beliau bakal luluh."
Bagas yang lagi asyik ngaca di layar HP-nya (yang layarnya masih agak kuning gara-gara kejadian "kompor" tempo hari) menoleh. "Psikologi terbalik apaan? Lo mau bilang bakwannya nggak enak biar dikasih gratis? Yang ada lo malah dilempar pake sutil, Dik!"
"Bukan gitu, Gas! Logikanya begini," Dika membetulkan letak duduknya agar lebih ergonomis. "Gue bakal pura-pura kenyang tingkat dewa. Gue bakal bilang kalau gue baru aja makan steak wagyu di kafe depan. Nah, pas Mpok Ijah liat gue 'menolak' gorengannya, ego beliau sebagai koki bakal terusik. Beliau pasti bakal maksa gue nyicipin bakwannya secara cuma-cuma demi membuktikan kalau masakan beliau lebih enak daripada steak!"
Jojo membetulkan kacamatanya, lalu mengeluarkan kalkulator saku. "Secara perilaku konsumen, probabilitas Mpok Ijah melakukan 'force-feeding' gratis itu cuma 5%. Sisanya, 95%, beliau bakal bersyukur karena nggak perlu ngeluarin stok gorengan buat lambung karet lo, Dik."
"Teori Jojo bener," sahut Nana datar. "Gue mencium bau kegagalan sistemik. Aura Mpok Ijah hari ini warnanya merah cabai, tandanya beliau lagi nggak mau diajak negosiasi."
"Ah, kalian mah nggak suportif! Liat nih, master at work," ucap Dika yang tumben hari ini penuh percaya diri.
Dika berjalan menuju meja depan dengan gaya sok borjuis. Dia menepuk-nepuk perutnya yang sebenarnya keroncongan sampai bunyinya kayak suara kendang dangdut.
"Duh, Mpok... kenyang banget saya," ucap Dika sambil menyeka mulutnya yang padahal kering kerontang. "Baru aja dari kafe sebelah, makan daging impor yang empuknya kayak kasur busa. Duh, liat gorengan Mpok aja saya udah nggak sanggup. Perut udah full banget nih."
Mpok Ijah yang lagi sibuk membalikkan bakwan di kuali panas cuma melirik sekilas. "Oh, syukur deh kalau udah kenyang, Dik. Berarti kamu nggak bakal ngutang lagi hari ini ya?"
"Eh... ya... ya bukan gitu juga, Mpok," Dika agak kaget, tapi tetap pada skenario. "Cuma ya itu, sayang banget ya bakwan Mpok yang warnanya kuning keemasan ini... kelihatan garing banget... tapi ya gimana, saya udah penuh banget. Kecuali kalau ada yang maksa saya buat 'nyobain' sepotong aja buat perbandingan rasa... itu pun kalau dipaksa lho ya."
Mpok Ijah berhenti sejenak, menatap Dika dengan tatapan yang sulit diartikan. Beliau mengambil sepotong bakwan paling besar, paling garing, dan paling menggoda iman. Baunya melesat masuk ke hidung Dika, memicu pemberontakan besar-besaran di usus halusnya.
"Kamu beneran gak mau nyobain?" tanya Mpok Ijah lembut.