Kisah ini sebenarnya sudah lama kusimpan seiring waktu berlalu hari ini Aku dan Tuhan bersepakat agar kisah ini disampaikan saja. Kisah ini kuawali dari tahun 2014 ketika Aku akan lulus dari bangku SMA. Betapa bahagianya sebentar lagi akan menjadi mahasiswa yang kutahu menjadi mahasiswa bisa berpakaian bebas, celana jeans dan rambut panjang. Menjadi mahasiswa bisa kritis menyuarakan hak-hak kaum tertentu penuh dengan kreatifitas, idealis dan suasana belajar yang merdeka.
Tapi dibalik kebahagiaanku ini ada sosok perempuan yang bersedih dia sedih karena akan kutinggal kuliah di kota orang. Perempuan ini adalah pacarku namanya Dea atau nama lengkapnya Putu Dea Andriyanti. Sebelum kuceritakan lagi tentang Aku dan Dea, Aku ingin memberitahu namaku. Jauh kembali ke waktu ibu melahirkanku setelah Aku menangis sebagai bayi dan dimandikan bersih oleh perawat, Ayah dan Ibu sepakat memberikanku nama Genta, anak pertama dan terakhir yang ayah dan ibu cintai.
Kembali kuceritakan tentang Dea. Dea adalah adik kelasku saat aku kelas XII Dea menjadi siswa baru disekolahku. Awal kenal dengannya di parkir sekolah ketika itu Tuhan mengirimkannya untuk parkir motor disebelah motorku. Untung saja parkir penuh lalu Aku dimintainya tolong untuk menggeser motor yang lainnya agar Dea mendapatkan tempat parkir. Dea mengucapkan terima kasih Aku jawab sama-sama lalu Aku berkenalan dengannya.
“Kamu boleh panggil Aku Genta” Kataku
“Ya Kak Genta” Kata Dea
“Tidak usah pakai kak, Genta saja” Kataku
“Kenapa begitu?” Tanya Dea
“Biar kita lebih akrab saja.” Jawabku
“Kan baru kenal kak” Kata Dea
“Jangan panggil kak ya panggil Genta saja” Kataku
“Ya Genta” Kata Dea
“Nah gitu dong kan lebih enak kudengar” Kataku
“Tapi Aku punya sepupu namanya Genta juga” Kata Dea
“Lebih ganteng mana Aku apa dia?” Tanyaku
“Jauh ganteng Genta sepupuku” Kata Dea
“Tapi dia bisa main musik gak? Minimal piano atau gitar bisa?” Tanyaku
“Gak bisa dia hobinya otomotif” Kata Dea