GENTA 2018

Rayasa Kherta
Chapter #2

KINTAMANI

Aku sadar waktuku bersama Dea akan semakin terbatas sebulan lagi Aku sudah disibukkan dengan mengurus pendaftaran di kampus. Maka akhir pekan ini Aku berkewajiban mengajak Dea pergi. Aku mengajaknya ke Kintamani saja. Di kintamani kita akan menjadi mengerti bahwa betapa berharganya sebuah pelukan. Pelukan yang kumaksud adalah semacam memberikan jaket untuk perempuan yang disayangi agar suhu tubuhnya tetap terjaga.

Sepanjang perjalan ke Kintamani Aku sengaja tidak buru-buru. Dea juga tidak protes dalam hatinya pasti mengerti bahwa setiap momen harus dikenang. Aku pun begitu tidak diam sepanjang perjalanan. Aku bertanya apa Dea tahu jeruk yang dia beli di pasar dekat rumahnya berasal dari mana, Itu mungkin tidak penting baginya tetapi kuberitahu jeruk-jeruk itu berasal dari sini. Jeruk tumbuh di tanah Kintamani yang subur lalu ada ribuan hektar lahan untuk menanam jeruk supaya jutaan orang bisa menikmati segarnya jeruk kintamani. Aku yakinkan satu diantara jutaan orang itu adalah Dea pacarku. Aku bilang juga kepadanya kalau sawi, kembang kol, tomat dan kopi ada juga disini. Ibarat nusantara kita telah menemukan setengah jenis makanan disini.

Hingga akhirnya kami sampai di Penelokan tempat ini persis menghadap ke arah Gunung Batur. Awan yang mengelilingi gunung pun jelas kami lihat kata Dea awannya mirip bunga. Entah bunga apa yang dia maksud yang pasti ada tangkai dan kelopaknya. Terserah Dea mengimajinasikannya apa Aku cukup menyetujuinya saja. Setelah puas menikmati Kintamani dari Penelokan kuajak Dea menikmati kopi. Dea mau-mau saja meskipun dia tidak suka kopi. Kita duduk berdua menghadap ke Gunung Batur dengan dua cangkir kopi dan roti yang entah apa namanya itu.

Aku hanya beruntung bisa mengajaknya ke Kintamani sebab ibunya sangat cerewet. Aku yakinkan sebelum matahari terbenam Dea sudah berada di rumah sebab jika tidak begitu izin mengajaknya pergi tidak kudapatkan lagi. Maka setiap momen yang terjadi kuharap tidak tergesa-gesa. Kata Dea ternyata minum kopi di Kintamani enak baru pertama kali dia rasakan. Aku bilang kopi itu menjadi enak dinikmati karena ada Aku disampingnya. Dia bilang bukan karena Aku disampingnya tapi karena suasana dingin sehingga perlu kopi hangat. Aku bertanya seandainya kopi itu dinikmati sendiri apa masih senikmat itu. Dea akhirnya mengakui karena hadirnya Aku menjadikan semua baik-baik saja. Hanya saja Dea malu-malu mengatakannya akhirnya kami banyak berdebat soal siapa yang menjadikan kopi ini menjadi nikmat. Entah kenapa Aku senang melihat Dea kadang-kadang cemberut begini. Apalagi kalau dia kalah berdebat dalam hati kuberucap, ‘Tuhan pasti ini perempuan yang paling manis di Indonesia’

Dea bilang hari ini tidak akan dilupakannya katanya Aku orang pertama yang mengajaknya ke Kintamani sebelumnya dia lebih suka ke Denpasar atau ke Nusa Dua. Aku bilang padanya ini hanya kebetulan saja Tuhan mengizinkan Aku mengajak Dea kesini jika tidak mungkin kita asik bermain disekitar hal-hal yang kita tahu saja.

Aku tidak mau memperkenalkan Kintamani sampai disitu saja. Aku mengajaknya turun melihat lebih dekat gunung dan Danau Batur. Dia takjub kenapa ada banyak batu-batu besar disepanjang jalan. Dea minta Aku untuk mengajaknya ke batu-batu itu. Aku yakin Dea akan mengabadikan momen itu, Ada banyak foto yang berhasil kami simpan lalu beberapa foto ini akan dipajang di kamarnya dan dikamarku.

 Aku mengajaknya ke tepi danau disana Dea melihat dengan jelas ikan-ikan kecil warna merah. Dea ingin menangkapnya tapi tak satu pun yang dia dapatkan. Dea bilang airnya ternyata benar dingin Aku bilang kalau mau air panas ada disebelah sana dia penasaran lalu kuajak Dea kesana.

“Indah sekali disini” Kata Dea

“Ya dong baru pertama kali lihat kayak gini kan?” Tanyaku

Lihat selengkapnya