GENTA 2018

Rayasa Kherta
Chapter #3

BUKIT CAMPUHAN

Kemarin sudah kuceritakan tentang Aku dan Dea di kintamani sekarang Aku ceritakan Dea seutuhnya. Dea tidak tinggi kira-kira ada sebahuku, Aku sering bilang kalau dia pendek tapi sambil bercanda. Bagiku puya pacar yang tidak lebih tinggi dari Aku banyak untungnya kalau marah gampang mengelus-elus rambutnya kalau dipeluk tidak repot bahkan wajahnya bersandar di dadaku apalagi kalau mencium keningnya dengan jelas Aku melihat matanya terpejam.

Dea mencintaiku dengan banyak perhatiannya Aku tidak boleh lupa mengerjakan PR, Aku tidak boleh keluyuran malam-malam, dan Aku tidak boleh terlalu asik bermain gitar. Baginya masa depanku harus tetap terjaga sebagaimana orang tuaku ingin melihatku berhasil nanti. Dea hanya ingin Aku belajar mandiri karena sebentar lagi akan merantau ke kota orang. Terkadang Dea bawel mengingatkanku hal-hal yang sudah sering dia katakan tetapi Aku tidak marah justru senang melihatnya bawel dan cemas begitu. Lalu hal lain tentang Dea adalah gampang kangen. Aku selalu saja berhasil membuatnya memeluk guling berkali-kali. Apalagi kalau Aku disuruhnya bernyanyi melalui telepon dia mendengarkan kata demi kata yang kuucapkan. Iringian gitar terdengar menggema dikamarnya saat itu juga dia ingin bertemu denganku. Dea berkali-kali mengatakan kata cinta kepadaku akhirnya kangen itu dibawanya sampai ke mimpi.

Besok pagi Dea menelponku katanya agar mendengar suaraku. Padahal Aku masih ngantuk sekali tetapi apa dayaku mendengar suaranya juga membuatku damai. Aku rasa tidak ada kata yang bisa mewakilkan perasan kami yang Aku dan Dea tahu hanya sedang jatuh cinta berkali-kali entah itu pagi, siang atau malam.

Lihat selengkapnya