Berat hati ini menceritakan kembali tentang seseorang yang berjasa dalam kisah cintaku dengan Dea. Dia adalah mendiang nenekku ketika baru berpacaran dengan Dea, kabar itu Aku sampaikan pertama kali kepada Nenek. Dia ikut bahagia katanya Aku sudah dewasa dan menjadi kebahagiaan dikeluarga ini. Nenek kuperlihatkan foto Dea, Kata Nenek selain cantik Dea pasti baik orangnya. Katanya juga Dea pasti akan selalu membuat cucunya bahagia. Kalau sempat Aku disuruh mengajak Dea untuk bertemu dengannya.
Nenek selalu saja bersahaja denganku entah itu perlakuannya atau tutur katanya. Menjadi cucunya bagiku adalah anugrah Aku dicintainya dengan kasih sayang yang lembut dan Aku diasuhnya baik, bukan dengan amarah. Jujur saja Aku berkata bahwa Aku lebih nyaman cerita dengan Nenek ketimbang ayah dan ibu. Kalau dengan nenek Aku selalu dihampirinya ketika muram di kamar seorang diri ditanyainya apa yang bisa nenek lakukan untukku agar aku baik-baik saja. Kalau ayah atau ibu tidak pandai menjadi sahabat yang baik untuk anaknya.
Mungkin bagi nenek Aku adalah harta satu-satunya di dunia ini. Justru kalau bagiku nenek layaknya mutiara di hidupku ini. Sering kudengar cerita entah itu dari ibu, ayah, kakek ataupun sanak keluarga lainnya kalau Nenek selalu cemas dengan kesehatanku. Waktu Aku masih bayi Aku sering sakit berhari-hari lamanya di rumah sakit nenek setia menjagaku. Bahkan di saat keluarga tertidur Nenek menangis seorang diri melihat Aku yang tergeletak tak berdaya hatinya terasa hancur cucunya yang masih kecil harus menanggung sakit seorang diri.
Sejak kecil hari-hariku memang banyak dihabiskan dengan nenek. Ketika Aku ditinggal ayah dan ibu bekerja neneklah yang menjadi ibu keduaku. Menangis didekapannya, tertidur dipangkuannya dan terbangun dipangkuannya juga. Aku terbiasa dengan apapun yang Nenek lakukan hingga kini Aku sudah menjadi manusia dewasa tak sedikit pun Aku melupakan jasanya.
Nenek paling jago memasak. Masakannya yang paling Aku suka labu siam goreng. Labu itu diirisnya kecil-kecil seperti mie lalu akan dihadangkan bersama telur dan nasi hangat. Sampai sekarang pun masih tetap itu makanan kesukaanku walaupun sering kubuat sendiri. Entah kenapa labu siam menjadi nikmat bagiku yang pasti Aku selalu berterima kasih dengan nenek atas semua masakannya.