Tiba saatnya babak baru dalam hidupku akan dimulai dua hari lagi Aku sudah bukan anak rumahan lagi siap tidak siap Aku harus merantau ke kota orang. Aku harus mempersiapkan segala berkas-berkas untuk pendaftaran ulang. Sebentar lagi Aku akan menjadi mahasiswa di Kampus Undiksha Singaraja jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Entah kenapa Aku mengambil jurusan ini dan entah kenapa juga Aku menjadi warga Singaraja dalam beberapa tahun ke depan. Ketika Aku berdiskusi dengan Ayah dan Ibu tentang rencana kuliahku mereka hanya membolehkan saja asal Aku nyaman dan serius. Tapi jujur saja Aku mengatakannya bahwa saat itu Aku tidak tahu mau kuliah dimana dan mengambil jurusan apa. Hingga akhirnya temanku namanya Indra mengajakku kuliah di Undiksha saja. Aku tidak punya pilihan lain daripada Aku berdiam diri di rumah saja.
Setelah pendaftaran ulang selesai Aku baru tahu bahwa kampusku berbasis keguruan. Siapapun yang lulus dari sana layak mengajar dan menjadi guru yang mencerdaskan anak bangsa. Aku kaget jadi nanti saat Aku lulus bisa jadi guru. Aku tidak yakin bisa menjadi guru yang baik apalagi menjadi panutan untuk anak didikku jangankan mendidiknya, mendidik diriku agar lebih baik saja susah tetapi Aku mencoba menjalani saja dulu. Ini juga baru awal masalah kerja jadi apa nanti saja kupikirkan. Jadi berbekal ajakan Indra, Aku resmi menjadi mahasiswa Undiksha jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Singaraja bagiku kota yang tersembunyi berada di utaranya Bali. Dua jam perjalanan kuhabiskan waktu ke kesana. Melalui Kintamani yang dinginnya menusuk tulang apalagi kalau hujan kabut turun sehingga Aku harus berhenti sejenak menunggu kabut itu hilang. Sebenarnya Aku tidak nyaman tinggal di Singaraja karena cuacanya panas. Kalau dibandingkan dengan cuaca di rumahku bisa jadi dua kali lipatnya. Apa daya Aku hanya ingin kuliah meski tidak tahu mau jadi apa nantinya. Indra menyiapkan segala sesuatunya dari mencarikan kost dan mengajakku keliling Singaraja, darinya Aku baru tahu kalau Lovina ada patung lumba-lumbanya.
Kost pertamaku berada tepat di samping kampus di Jalan Wijaya Kusuma No 15. Dekat juga dengan markas tentara Angkatan Darat makannya Aku terbiasa mendengar suara tembakan dari tentara yang sedang latihan itu. Ukuran kamar tidak besar hanya cukup untuk diriku sendiri. Ayah sudah membelikan Aku segala perlengkapannya penanak nasi, gelas dan piring warna biru itu akan setiap hari Aku gunakan. Menjadi anak kost membuatku harus belajar memasak nasi sendiri. Ternyata itu tidak mudah beberapa kali Aku gagal mulai dari nasinya terlalu encer lalu nasinya masih mentah dan sering lupa menekan tombol memasak pernah Aku mengalaminya. Aku juga belajar tentang menghemat uang yang Ayah berikan mau tidak mau uang itu harus cukup untuk seminggu ke depan.
Benar kata Dea kalau sudah tinggal di kota orang harus belajar mandiri. Aku baru sadar kalau Dea bawel untuk kebaikanku. Sejak seminggu ini Aku tinggalkan Dea sejak itu pula Dea sangat khawatir kepadaku. HPku sering berdering mungkin selang sejam saja Dea selalu menelponku mengingatkan agar jangan sampai telat makan jangan keluyuran malam-malam apalagi tidak tahu situasi di kota orang. Aku yakin lebih dari itu Dea cemas Aku jatuh cinta dengan perempuan lain di Singaraja. Tapi berulang kali Aku yakinkan dia bahwa Aku hanya miliknya seorang. Wajar Dea cemas begitu ini pertama kalinya Aku jauh denganya pertama kali juga dalam beberapa hari ini Aku tidak bertatap muka dengannya. Itu alasanku kenapa kemarin-kemarin di Kintamani dan di Bukit Campuhan Aku ingin menghabiskan banyak kesempatan dengannya.
Hanya melalui telpon Dea banyak mengatakan rindunya denganku. Bertanya berulang-ulang kali kapan Aku pulang kalau sudah pulang harus langsung menemuinya dan mesti menyanyikannya banyak lagu. Aku bilang padanya kalau jumat sore Aku sudah di rumah. Sabtu sampai minggu Aku sudah libur dan bersedia menjadi apapun yang Dea minta. Aku bilang sabar saja menunggu kalau Dea rindu denganku itu tandanya dia benar-benar mencintaiku. Aku selalu berkata hal yang sama dengannya. Kita sudah pernah berjanji tentang kota yang memisahkan kita tidak akan berarti apa-apa jika melihat kembali foto-foto kita di Kintamani. Bukankah foto itu masih indah terpajang di kamarku dan kamar Dea. Tidak usah khawatir tentang foto kita sudah Aku pajang di kamar kostku foto itu kupajang menghadap ke wajahku saat terbangun dari tidur.
Sebenarnya Aku juga tidak nyaman tinggal di kota orang dan jauh dari Dea pacarku tetapi kata Ayah dan ibu masa depan perlu pengorbanan. Kami juga sepakat untuk merelakan raga yang berjauhan tetapi hati tetap akan sama. Ini hanya tentang waktu saja cepat atau lambat Dea juga akan pergi meninggalkan kota asalnya untuk mengejar masa depannya. Kami hanya saling mendoakan semoga cepat bisa ketemu. Dea hanya perempuan biasa yang bisa menangis ketika malam karena menahan rindu ingin bertemu denganku. Betapa dilema perasaanku mendengar tangisannya melalui telpon saat itu juga Aku ingin pulang dan memeluknya. Nanti jika libur harus menghargai setiap momen dan waktu yang ada demikian dia bilang kepadaku.
Hingga akhirnya semua urusan pendaftaran ulang selesai pada siang yang beranjak sore itu Aku mengabari Dea segera pulang. Empat hari berada di Singaraja cukup membuat batinku tersiksa bagaimana nanti kalau sudah kuliah Aku tidak bisa membayangkannya. Untung saja di Kintamani tidak hujan cuacanya sedang cerah sehingga Aku tidak banyak berhenti untuk menghindari kabut. Aku pulang dengan selamat, dua jam lamanya diperjalan, kumengendarai motor seorang diri berhenti ngopi pun tidak sempat dan makan hanya pagi saja.
Tiba di depan rumahnya kukabari dia. Dea dan adiknya menghampiriku wajahnya sama-sama ceria tanganganku di tarik Ana untuk diajaknya ke rumah. Aku diambilkannya makanan ada capcay, telur goreng dan perkedel jagung. Dea sendiri yang memasaknya. Aku lahap memakannya disuapi juga oleh Dea. Hingga sore terbenam kutepati janjiku banyak lagu yang kunyanyikan untuknya ada banyak obrolan yang ingin kami sampaikan selama empat hari Aku tidak berada disampingnya tapi lebih banyak Dea yang bercerita entah tentang sekolahnya atau tentang harinya tanpa diriku.
Aku lebih baik mendengarkannya saja kewajibanku membuatnya semakin cinta denganku walaupun hariku di Singaraja belum sempat kuceritakan. Aku bilang padanya agar jangan menangis karena menahan rindu ingin bertemu denganku tidak semua tangis yang ingin kusaksikan darinya. Apalagi hanya soal rindu tidak bertemu Dea harus kuat menjadi pacarku yang begini adanya. Aku seperti berdosa membuatnya menangis karena rindu kalau boleh kuminta simpan saja tangis itu agar bisa kubuatkan lagu atau mungkin puisi.