GENTA 2018

Rayasa Kherta
Chapter #8

BU ANGGI

Aku ingin ceritakan tentang ibu keduaku di kota Singaraja namanya Bu Anggi. Bu Anggi adalah pemilik warung makan di depan kost Bombom. Aku, Bombom, Segah, Jay, Alit, Agung dan Edi sering nongkrong disana. Kalau makan tinggal ambil sendiri kalau bon tinggal catat sendiri Bu Anggi selalu percaya sama kami. Kami dianggapnya sudah seperti anaknya sendiri maka jangan heran kalau selesai makan kami langsung cuci piring. Masakannya enak-enak Aku paling suka syobak di makan bersama nasi hangat dan minum es teh. Kalau teman-temanku paling suka nasi campur isi sate ayam dan pepes ikan tuna sangat gurih. Terkadang kalau misalnya kami tidak ada jam kuliah pagi kami yang berbelanja ke pasar. Bu Anggi sudah memberikan kami catatan belanjaan kami tinggal mengambil barang belanjaannya saja. Tidak jarang setelah membantunya kami diberikan makanan gratis sebagai sarapan pagi itu lumayan sebab uang dihemat untuk keperluan yang lainnya.

           Bu Anggi orangnya baik kalau salah satu diantara kami tidak datang sehari saja maka akan ditelponnya. Bu Anggi selalu menanyakan bagaimana perkuliahan kami setiap kesempatan ia ingatkan kami untuk selalu bersama-sama. Jika salah satu diantara kami mengalami kesusahan maka tolong dibantu karena dirantau keluarga terdekat adalah teman kata Bu Anggi. Bu Anggi tidak pernah masalah kami ngebon asal ingat bayar. Itu sebabnya Aku dan teman-temanku bersepakat untuk menjadikan Bu Anggi ibu kedua kami. Banyak sore kami lalui disana, banyak hal kami bahas disana dan juga banyak tawa yang tercipta. Topik bisa jadi apa saja tetapi kalau sudah saling buli secara bergiliran dapat jatah yang sama. Mulai dari Aku yang dikatakan budak cinta hingga Alit yang kemarin mengajak perempuan ke kost. Hal-hal seperti itu kami kupas habis, istilahnya berandai-andai apa yang terjadi setelah fenomena perempuan diajak ke kost lelaki.

           Mulai sudah Bombom berimajinasi sampai ke akar-akarnya Alit di buli hingga mukanya merah. Begitulah kami yang satu kelas ini mengabadikan sore sampai malam di warung bahkan tidak jarang Bu Anggi menunda menutup warungnya ia ikut larut dalam obrolan itu. Bu Anggi tertawa mendengar candaan kami yang mungkin terlalu vulgar tetapi Bu Anggi tidak berpendapat itu benar atau salah yang pasti begitulah adanya.

Lihat selengkapnya