GENTA 2018

Rayasa Kherta
Chapter #9

SINGARAJA-UBUD

Selamat pagi Dea Andriyanti pacarku seperti kemarin yang Aku bilang padamu bahwa minggu ini Aku tidak bisa pulang. Aku sedang mengikuti kegiatan mahasiswa di jurusan. Sudah kujelaskan juga begitu adanya namun kau marah padaku. Tidak apa-apa Aku bisa mengerti kau sangat rindu padaku. Aku juga rindu padamu sebab banyak malam yang kita lalui hanya melalui video call. Terkadang Aku atau Dea yang tidur duluan. Kalau Dea yang tidur duluan Aku yang rela hanya memandanginya sampai Aku tertidur juga.

           Aku sebenarnya ingin pulang bertemu denganmu dan melihat langsung wajahmu. Tapi kau tahu, jarakku denganmu kurang lebih 70 km menempuh 2 jam 15 menit perjalanan itu pun mesti melewati bukit dan danau. Memang Aku sering bilang padamu, kau selalu dekat dihatiku. Tapi itu filosofisnya gombal, nyatanya adalah Singaraja menuju ke Ubud rumahmu jauh. Tapi begini saja, kau sabar dulu jangan marah padaku nanti kalau misal di hari rabu dosen pengampu mata kuliah berhalangan hadir Aku akan pulang menemuimu. Pagi Aku berangkat sore sekitar jam 4 Aku balik lagi ke Singaraja. Kita punya 6 jam waktu untuk bertatap muka dan bercerita banyak hal tentang hari-hari yang terlewati. Jadi kau berdoa saja mudah-mudahan di hari rabu dosennya berhalangan hadir.

           Aku biasanya sama sepertimu menikmati sore terbenam dengan banyak harapan. Kau pasti berharap kita seperti dulu lagi dan Aku berharap kau baik-baik disana. Menahan rindu atau kangen itu tidak enak tapi itu cara satu-satunya agar kita tetap bersama. Kata orang titik rindu yang paling dahsyat adalah ketika dua orang tidak saling berkabar tapi diam-diam saling mendoakan. Aku tidak mau kau tidak berkabar padaku tapi Aku mau didoakan dalam diam olehmu. Sebenarnya Aku tidak menyimpan ragu padamu seharusnya kau pun begitu. Di awal sudah kusampaikan berulang-ulang tentang jarak yang memisahkan kita. Tapi semakin kesini Aku menjadi paham bahwa perempuan harus ditemui agar hatinya yang cemas menjadi baik-baik saja. Tidak cukup dengan kata-kata cinta perempuan perlu bukti dan kepastian kapan akan ditemui.

           Dea, ada kabar baik buatmu hari ini dosenku berhalangan hadir. Kabar ini sudah kupastikan kebenarannya dari korlas (koordinator kelas) yang kuhubungi pagi-pagi tadi. Dea, telponku tolong diangkat Aku ingin sampaikan ini kepadamu. Setelah lima kali kutelpon akhirnya kau angkat telponku. Semula jawabanmu begitu cuek hingga akhirnya kusampaikan akan menghampirimu ke Ubud dan kau senang bukan main. Seketika jawabmu baik-baik kepadaku, tidak cuek dan jutek lagi.

           Aku izin berangkat jam 07.45 wita mungkin akan tiba sekiranya jam 10.00 wita di depan rumahmu. Kau tunggu saja Aku disana doakan sampai ditujuan dengan baik-baik saja. Aku ke Ubud lewat jalan di Git-Git yang penuh lika-liku perbukitan. Truk-truk besar dari Jawa yang mengirim logistik juga melelaui jalan ini membuat perjalan mesti banyak sabarnya. Meskipun begitu laju motorku tetap terkontrol di belakang truk-truk itu. Hanya yang membuatku risih polusi yang dikeluarkan knalpotnya terkadang membuatku terbatuk-batuk.

           Sampai di puncak Bedugul Aku istirahat sejenak duduk di warung pinggir jalan. Aku memesan kopi dan menenangkan diri ini sebentar. Sambil kubasuh wajahku dengan air, ternyata asap knalpot itu membuat wajahku lusuh dan harus segera kubersihkan. Aku juga menyempatkan diri menelpon Dea lagi, Aku bilang baru sampai di puncak. Lalu kutanyakan padanya mau oleh-oleh apa dariku, katanya stroberi saja satu..

Lihat selengkapnya