Teruntuk Dea pacarku agar kau tahu sore ini bagiku kau telah menjelma hujan datang ke kotaku. Tidak bisa kubendung derasnya air hujan ini sebagaimana rinduku padamu. Kita sama-sama sedang ada di kamar masing-masing, lewat telpon kita beradu pendapat siapa yang paling kangen diantara kita. Aku mengalah, tidak mau berdebat panjang tentang hal ini sebab Aku tidak menyimpan ragu sedikitpun tentang kau disana. Aku paham kau mengeluh begitu oleh karena dua minggu kita lalui tanpa pertemuan lagi. Seperti yang Aku bilang sebelumnya, perempuan butuh kepastian untuk ditemui tapi kali ini Aku belum bisa memberikan kepastian itu. Maaf telah membuatmu gelisah oleh karena kesibukanku menjadi mahasiswa ini. Aku harap kau maklum begini adanya.
Dea, kunyanyikan kau lagu-lagu saja lewat telpon ini. Tapi kau tidak boleh bosan mendengarkannya meski lagunya itu-itu lagi. Kau tidak boleh cemberut begitu. Aku sedang berusaha membuatmu tersenyum kembali. Bantu Aku agar hubungan ini selalu baik-baik saja. Aku yang salah sebab tak bisa mengatur waktu untuk menemui pulang. Tapi kalaupun kujelaskan rentetan kesibukanku menjadi mahasiswa, kau pasti tidak akan menerimanya. Aku mengerti sebab rindu tidak bisa diajak berkompromi.
Dea pacarku seorang diri, bantulah Aku agar kita menjadi sepasang kekasih yang kalau kangen atau rindu menjelma hal-hal berbagai rupa. Misal, kita berjanji tuk menyaksikan sore tenggelam bersama. Kau melihatnya dari rumah, Aku melihatnya dari sini. Berhayal seolah langit itu punya kita. Aku rela menjelma awan putih sedangkan kau boleh menjelma langit biru yang cerah. Bentukku sebagai awan putih akan menyerupai mata yang memandangimu tiada henti. Kau boleh menyerupai apapun asal jangan berubah menjadi mendung sebab Aku sebagai awan perlahan dihancurkan oleh gemuruh kilatan petir. Dea, kau sanggupkan begitu untuk kita? Aku yakin kita bisa melalui semua ini, terutama tentang jarak sedangkan tentang cinta tak sedikitpun kuragukan.
Menangislah secukupnya jika rindu meminta Aku untuk berada disampingmu. Bukan berarti sebagai perempuan kau lemah, tetapi kau sedang jujur dengan dirimu sendiri. Tapi kau perlu ingat satu hal dari Aku, pacarmu ini! tiada sekalipun Aku meninggalkanmu dalam sunyi apapun. Aku terus hadir meski melalui telepon atau pesan singkat terlebih lagi dalam doa-doa yang panjang. Kupastikan tiada satu malampun yang lupa kuberi kabar tentangku disini atau berucap selamat tidur untukmu. Kau tenang saja, Aku akan pulang tapi agar tak mengundang kekecewaan Aku tidak berjanji kapan menemuimu.