GENTA 2018

Rayasa Kherta
Chapter #13

MENGHABISKAN WAKTU

Rutinitas di Singaraja kujalani biasa-biasa saja. Kututupi rasa kecewa dengan banyak nongkrong dengan teman-temanku. Mulai dari nongkrong di Pantai Penimbangan hingga berpetualang ke air terjun di Sambangan. Sewaktu nongkrong di Pantai Penimbangan kami baru saja selesai kuliah. Jadi masih berpakaian mahasiswa lengkap dengan atribut-atributnya. Aku sengaja mengajak mereka langsung ke PP agar tidak saling menunggu lagi. Sebab jika ke kost kemungkinan tidak, di PP (Pantai Penimbangan) kami mengobrol kesana-kemari. Perihal tentang kuliah, perihal tentang cewek-cewek jurusan bahasa Inggris atau bahasa Jepang. Kalau Alit lebih senang dengan cewek-cewek jurusan bahasa Jepang. Sebab dia punya obsesi untuk liburan ke negeri sakura itu suatu saat nanti. Ketika ditanyai lagi kenapa mesti Jepang, dia tak menjawab tapi ekspresi wajahnya kami tahu maksudnya. Jadi kami sesama laki-laki tahu sama tahulah.

Sementara melihat ‘Jepang’ dari jurusan bahasa Jepang saja dulu atau pas kegiatan-kegiatannya mahasiswa jurusan bahasa Jepang juga menggelar semacam pawai budaya yang bertema budaya Jepang. Apalagi pas kegiatan exponya mereka, mahasiswi berpakaian khas jepang dan itu yang disukai Alit sehingga kami berenam harus ikut mengantarnya kesana. Beberapa kali Aku mengantarkannya ke expo, Alit tak mau pulang sampai dia puas melihat serba-serbi Jepang. Memori hpnya banyak digunakan untuk foto-foto entah dengan mahasiswinya atau yang lain-lainnya seputaran itu.

Kembali ke obrolan di PP, Bombom juga bercerita tentang banyak perempuan di Jurusan bahasa Inggris yang menawan baginya. Dia tidak tahu namanya tapi setiap berpapasan terasa semuanya terjadi pelan. Dia perhatikan bibirnya, matanya lalu alisnya. Menurut Bombom perempuan seperti ini jika ada lelaki yang menyia-nyiakan maka keterlaluan. Bombom berkata jika seandainya perempuan ini menjadi pacarnya sudah pasti dibahagiakannya setiap saat. Tugasnya cuma satu yakni memastikan hari-harinya menyenangkan. Atau minimal jika hari-harinya berat, maka Bombom bisa menjadi apapun yang dia inginkan. Tapi sayang, perempuan itu tidak akan memilih Bombom sebab mencintainya selalu ada maunya.

Bagaimana dia bisa memastikan membahagiakannya setiap saat dari tadi cewek-cewek yang lewat di depannya selalu digodanya. Obrolan semakin malam semakin asik saja. Hingga jam 12 malam kami masih di PP. Padahal angin pantai lumayan kencang tapi kami selalu bisa menghangatkan diri dengan obrolan yang kemana-mana, intim dan vulgar. Tidak apa-apa sebab dalam tongkrongan bersama kawan itu biasa saja. Saking tak terasanya waktu berganti, kami sampai disuruh pulang oleh pemilik warung. Warungnya mau tutup, pedagangnya capek jualan dari sore hingga dini hari. Kami hanya pindah tempat saja, belum ingin untuk pulang. Kami menuju Pantai Lovina tepat di bawah patung dolpin obrolan itu berlanjut sampai bosan.

Pada hari-hari selanjutnya kami bolos kuliah. Ada beberapa mata kuliah yang tidak kami senangi. Kami akan berpetualang ke Sambangan. Dari kota ke Sambangan haya 15 menit. Di Sambangan banyak air terjun dan alamnya masih asri. Aku sambil membawa gitar kesana sementara Edi dan Agung membawa makanan yang dipesan dari Bu Anggi. Kami turun menyusuri jalan setapak untuk menuju indahnya air terjun. Sampai dibawah kami bernyanyi lalu mandi dan menikmati kebolosan ini.

Lihat selengkapnya