GENTA 2018

Rayasa Kherta
Chapter #14

PUTUS

Teruntuk Dea mantan pacarku sejak sore ini telah terucap dari bibirmu kata-kata perpisahan itu. Melalui telepon sore ini kau mengatakannya dengan sadar. Aku tidak peduli seberapa serius ucapanmu itu. Tetapi kau yakinkan Aku dengan menolak kedatanganku di rumahmu. Meskipun perjalananku jauh dari Singaraja menuju Ubud tak kau hargai sedikitpun. Aku bersama Bombom melewati bukit dan danau ketika kau memutuskan hubungan ini. Apapun tak kuhiraukan hanya ingin memastikan kebenaran ucapanmu itu.

           Aku tiba di rumahmu malam. Aku izin kepada ibu dan ayahmu untuk bertemu memang mereka mengizinkan tapi kau berdiam diri di kamar. Aku hanya bertemu adikmu, Ana. Dia senang Aku datang tapi ketika Aku jelaskan maksud kedatanganku dia menangis. Sebab Aku bilang Dea telah memutuskan hubungan ini. Aku tidak tahu harus bagaimana sebab yang terjadi begitu cepat. Di alun-alun Ubud kumenepi ditemani Bombom sahabatku. Tak banyak yang bisa kukatakan sebab lelaki lebih banyak menyimpan sedihnya dalam diam. Sampai dinihari Aku dan Bombom masih disini melihat jalanan yang semakin sepi. Sekali dua kali masih ada bule-bule yang baru pulang dari mabuk di bar sebelah.

           Lalu esoknya saat masih pagi kudatangi rumahnya lagi sambil membawa donat kesukaannya. Aku tunggu Dea di teras rumahnya, Dea keluar dari kamarnya lalu menghampiriku. Kutanya perihal ucapannya bahwa ingin mengakhiri hubungan ini. Dea membenarkan maskudnya karena hampir sebulanan ini komunikasi sudah semakin memburuk saja. Lebih dari itu, jarak dan pertemuan yang tidak bisa ia maklumi. Aku melihat banyak ego yang keluar dari ucapannya yang sebenarnya sudah dibicarakan di awal komitmen dengannya.

Aku berdebat dengannya perihal cinta yang kemarin-kemarin apa sudah hilang begitu saja. Lalu banyak kenangan yang begitu manisnya apa ikhlas dibuang begitu saja. Saat kau berjanji banyak hal ketika Aku mengajakmu ke Kintamani, apa menjadi sia-sia? Itu yang kutolak saat kau meminta Aku berjanji di Kintamani. Bukannya bagaimana saat bahagia apapun bisa terucap dari bibir seorang manusia. Tapi bagiku saat seperti inilah janji akan tetap bersama menjadi hal yang nyata dalam setiap hubungan.

           Obrolan di teras rumahmu panjang dan tragis. Beberapa kali pertanyaanku tak bisa kau jawab perihal yang dulu-dulu kita lalui bersama. Hanya tangis kau persembahkan untukku. Maaf, saat itu tak sedikitpun kumerasa perlu bersimpati denganmu. Perempuan hanya bisa memberikan tangisnya ketika rasa bersalah tak mampu diucapkan. Kalau kau memberikan Aku lautan tangis itu lalu dengan ucapan manalagi Aku harus sampaikan perihal cinta ini masih didiriku. Diakhir obrolan ini kubertanya lagi tentang kepastian hubungan ini. Kau bilang sudah selesai dan tidak ada yang mesti dipertahankan lagi.

           Aku pamit baik-baik denganmu. Begitu juga dengan bapak dan ibumu. Ana belum cukup mengerti tentang semua ini. Tapi dengan Ana, Aku berjanji akan bertemu pada kesempatan lainnya. Aku pergi ke Singaraja untuk merayakan kesedihan ini. Tentu sahabat-sahabatku tak akan membiarkan Aku sendirian. Mereka akan kuajak sama-sama menikmati ini.

Lihat selengkapnya