GENTA 2018

Rayasa Kherta
Chapter #15

PELARIAN

Hari ini 99 hari setelah perpisahan kita, Aku sedang di Singaraja tak berencana untuk pulang walaupun sekarang akhir pekan. Aku masih terbayang-bayang tentangmu di sepanjang jalan Bedugul – Ubud. Biasanya sepanjang perjalanan ini penuh dengan cinta. Biasanya juga perjalanan itu ditunggu-tunggu setiap akhir pekan. Diantara kabut Danau Beratan kita saksikan begitu dekatnya langit dengan kita. Sambil makan bakso dipinggir danau ada saja obrolan yang membuat kita semakin sayang ketika itu. Kini, Aku perlu waktu untuk menjadikan perjalanan Bedugul menuju Ubud menjadi perjalanan biasa saja selayaknya jalan pulang.

 Sejak perpisahan itu kumencoba baik-baik saja. Banyak tawa yang kucari hingga ke sudut-sudut Kota Singaraja. Namun tetap saja badai kesuyian itu menghampiriku. Lalu hal lainnya kumencoba membuka hati lagi dengan perempuan lainnya. Namanya Rahayu anak bahasa Inggris. Ia telah lama menaruh hati padaku. Sejak dia melihat Aku bermain gitar pada Expo yang diselenggarakan senat mahasiswa. Sepulang kuliah kuajak Rahayu ke Ex. Pelabuhan untuk makan. Namun disela-sela obrolan itu saat matahari perlahan terbenam kulihat bayang-bayang Dea pada diri Rahayu. Kusadari Aku masih belajar melupakan Dea namun dengan Rahayu akan kucoba perasaan ini lebih jauh lagi.

Singkat ceritanya, Aku mengajak Rahayu untuk pacaran. Rahayu kaget dengan ucapanku itu. Menurutnya ini terlalu cepat, meskipun begitu pada intinya dia mau menerimaku menjadi pacarnya. Rutinitasku sebagian kulalui bersamanya. Walaupun tiada jarak yang memisahkan tapi Aku tak sebahagia dengan Dea dulu. Aku tidak mengerti kenapa begitu yang pasti cintaku tak seberapa dengannya.

Akhirnya Aku paham bahwa Rahayu hanya pelarianku saja. Dia menjadi pacarku saat Aku kesepian dan ditikam kerinduan berkali-kali. Aku tambah merasa bersalah sebab Rahayu sunguh-sungguh mencintaiku. Kubiarkan saja itu bukan urusanku! Aku menjadi seseorang yang tidak mementingkan perasaan orang lain lagi. Merasa diri gampang tebar pesona karena sering manggung ke fakultas lainnya. Seenaknya kuucapkan kata cinta kepada siapa saja yang kuinginkan. Egoku menjadi lelaki yang kecewa dan patah hati membuatku pesimis kepada cinta yang setia.

Hubunganku dengan Rahayu hanya bertahan selama 2 bulan saja. Kita putus dengan alasan yang tidak jelas. Entah kenapa  Aku tidak peduli sebab Aku tidak mencintai sepenuhnya. Lalu selanjutnya perempuan yang aku pacari, Intan anak bahasa Jepang, Dewi anak ekonomi, Manda anak teknologi, Prisia adik tingkatku dan Anjani satu angkatan denganku tapi beda kelas. Mereka telah menjadi mantan-mantanku. Pada intinya mereka tak kucintai dengan benar-benar hanya menjadi pelampiasan saja.

Perjalanan cintaku kian berwarna. Tak kusangka menjadi seperti ini adanya. Sahabatku pun heran dengan sikapku ini. Dulu begitu setianya Aku dengan satu perempuan namun kini bisa saja Aku merayu beberapa perempuan. Bersama mereka sahabatku, kuajak mengarungi hati perempuan di kampus ini. Perlahan namun pasti perempuan-perempuan itu patah hatinya olehku. Aku tidak merasa bersalah ketika itu sebab oleh kaumnyalah lelaki menjadi begini.

Lihat selengkapnya