GENTA 2018

Rayasa Kherta
Chapter #16

JALAN KENANGAN

Masih dalam rangka merayakan perpisahan kali ini libur semester membuatku harus pulang. Ibu dan Ayah menginginkanku menghabiskan liburan di rumah saja sambil menikmati banyak hal di desa. Namun itu akan mengingatkan Aku tentang Dea lagi. Halaman belakang yang masih belum pudar aroma kenangannya. Teras rumah yang masih lekat dengan dua cangkir teh manis yang biasanya kami nikmati bersama-sama. Lebih dari itu Ubud menjadi sepanjang jalan kenanan yang mesti kurelakan.

Bagiku di sepanjang Jalan Bisma, Ubud masih tersimpan rapi Aku dan Dea duduk berdua di kedai kopi pinggir jalan. Lalu sepanjang jalan di Bukit Campuhan belum surut keringat saat menemaninya olahraga sore. Ilalang masih tumbuh subur diantara bukit-bukitnya yang menjadi saksi juga antara Aku dan Dea. Hujan turun saat menjemputnya adalah hal lain yang disuguhkan semesta agar dalam setiap rintiknya yang jatuh menjadi perjalanan penuh kerinduan.

Apalagi malam menjelang di Ubud menjadi romantis dengan musik-musik café. Musik blues memang menenangkan hati dan iringan nada-nada folk begitu jujur berkata lalu Aku suka sekali malam di Ubud. Bahkan hanya sekadar ingin mendengarkan musiknya Aku rela mengajak Dea untuk berdiri dipinggir jalan menyaksikannya. Dea juga tidak masalah dengan ajakanku, kami menjadi suka malam minggu di Ubud saja. Lainnya tentang Ubud tentu tidak bisa kulupakan begitu saja. Bagiku Ubud menjadi kenangan bersama Dea selain Kintamani tentunya.

Kini bagiku Bali bukan cuma Ubud saja. Ada Tabanan yang alamnya mirip seperti Kintamani yang sejuk. Aku bolos kuliah hanya ingin menikmati kopi diantara luasnya sawah di Jati Luwih. Aku juga rela menempuh perjalanan satu setengah jam dari Singaraja hanya ingin menyaksikan embun pagi di kaki Gunung Batukaru. Aku ingin mengenal Tabanan lebih banyak lagi ke desanya yang sejuk dan tenang. Agar dalam benakku tidak lagi tertuju kepada Ubud yang menjadi nostalgia kerinduan.

Lihat selengkapnya