GENTA 2018

Rayasa Kherta
Chapter #17

PENTAS DRAMA

Di singaraja perkuliahan semester baru telah berlangsung semua dosen mata kuliah telah memberikan kontrak kuliahnya. Aku pasti akan disibukkan lagi tentang tugas-tugas semester ini. Aku juga akan disibukkan dengan pementasan drama. Aku bersama teman-teman yang lain sedang mencari referensi naskah drama. Kami akan latihan rutin di jam terakhir perkuliahan di wantilan kampus bawah diantara pohon kamboja. Sutradara yang akan memilih siapa saja yang terlibat menjadi tokoh-tokohnya. Pada malam itu telah disetujui bahwa Jay jadi pemeran utama, lawan mainnya ada Putri yang berperan sebagai gadis cantik. Lalu Edi menjadi peran satpam, Bombom, Segah dan Alit menjadi peran pembantu. Sedangkan Aku terlibat dalam penyeleksian naskah dan mengurus dekorasi panggung.

Pementasan drama ini nyentrik dengan tema-tema ringan seputar kehidupan di lingkup pedesaan. Bagaimana seorang perempuan desa menjadi rebutan lelaki. Hasrat laki-laki untuk memilikinya dengan cara mencari perhatiannya. Bahkan lelaki di desa itu paham betul di jam berapa perempuan ini akan mandi sehingga lelaki lainnya berebut untuk mengintipnya. Jay yang berperan menjadi salah satu dari lelaki penikmat senja amatiran ini tetap berusaha ingin melihat tubuh perempuan kembang desa ini. Namun selalu saja ketahuan oleh satpam dan pak lurah. Padahal mereka juga sedang ingin mengintip mandi.

Teman-temanku rela pulang larut malam untuk kejar tayang persiapan drama ini, melelahkan tapi menyenangkan juga sebab persahabatan kami menjadi erat saja. Kami sudah ditempa banyak hal tentang urusan kampus sehingga mereka sudah seperti saudaraku sendiri. Seusai latihan sudah biasa makan bersama walaupun hanya nasi jingo satu bungkus. Kami para laki-laki seusai makan tidak langsung pulang karena malam masih panjang. Malam ini harus kami rayakan dengan sedikit menuangkan alkohol sebagai penghangat tubuh didinginnya rindu itu. Bukan cuma Aku saja yang rindu dengan mantan, teman-temanku juga. Katakanlah mereka sudah punya pacar namun kenangan dengan mantan tidak bisa dilupakan begitu saja. Sehingga kami para lelaki merasa perlu mengenangnya dengan sedikit alkohol dan lagu-lagu kangen.

Bukan berarti kami suka minum alkohol sebab kami tidak pandai bersedih dalam diam. Apalagi bersedih lalu menangis karena cinta! itu bukan Aku dan sahabatku. Tapi tidak usah khawatir malam ini kami dibawah pengaruh alkohol, besok dalam perkuliahan kami tetap bertanggung jawab. Sewaktu presentasi Aku tetap menjadi pemateri makalah yang sopan. Jay, Bombom dan teman-teman yang lainnya tetap menjadi apa yang sudah ditentukan sehingga kehidupan kami para lelaki bisa seimbang.

Pentas drama akan diadakan akhir semester ini. Namun Aku bersama teman-teman kelas banyak terlibat dalam urusan pementasan lainnya. Ada musikalisasi puisi yang kami persiapkan untuk acara festival sastra ada pementasan dramatisasi puisi juga. Kami berproses bersama sehingga menyenangkan. Kalau dalam pementasan musikalisasi puisi Aku menjadi penata musiknya. Hampir sama dengan lagu-lagu yang kubuat hanya saja harus kuikuti alur puisinya. Namun untuk urusan bermain peran Jay jagonya. Dia memerankan tokoh begitu total rambutnya kala itu masih gondrong dan ceweknya masih banyak. Dia memainkan peran seolah sedang ada dalam kehidupan sehari-hari.

Pada saat malam latihan di kampus Aku kenal dengan perempuan jurusan lain. Namanya Anggun anak bahasa Inggris dari Surabaya. Anak bahasa Inggris juga latihan drama namun pakemnya lebih ke arah drama barat. Kalau dengan Anggun hanya pendekatan seminggu lalu kuajak pacaran. Entah kenapa dia mau, Aku juga heran mungkin ini dalam rangka menghayati peran dramanya. Bukan cuma Aku, teman-teman yang lainnya juga punya pacar karena latihan drama. Kami senang lama-lama diam di kampus sebab ada maunya. Walaupun Aku pacaran dengan Anggun, dia tidak boleh posesif sebab hubungan ini Aku yang mendominasi. Kalau Anggun tidak setuju silahkan pergi sebab cinta ini tak serius padanya. Anggun hanya pelampiasan perannya tidak lebih hanya hadir saat kuperlukan.

Namun begitu pementasan drama ini selesai Aku dan Anggun jarang bertemu di kampus. Dia sibuk dengan perkuliahannya, Aku juga begitu. Aku berkabar seperlunya, dia juga begitu. Dia sering marah-marah menuntut perhatian kepadaku. Aku tidak bisa memberikan maunya dia. Aku sudah bilang lagi sibuk kuliah dia tetap tidak mau mengerti. Ya sudah, siang itu di kantin FBS kuputuskan saja dia. Anggun menangis lalu pergi meninggalkanku. Seolah tidak terjadi apa-apa kuanggap sudah selesai, singkat padat dan mengecewakan mungkin bagi dia.

Lihat selengkapnya