Hari ini akan dilangsungkan serangkaian festival sastra yang kesekian kalinya di kampus bawah. Semua mahasasiwa dijurusanku wajib datang akan ada pementasan dari masing-masing kelas. Kelasku menampilkan musikalisasi puisinya Alm. Sapardi Djoko Damono yang berjudul Hujan Bulan Juni. Pada pementasan itu Aku pemain gitarnya. Aku sangat grogi karena dilihat oleh Kak Mirah. Dari tadi Aku telah curi-curi pandang dengannya. Aku kira dia akan pentas juga ternyata temannya yang mewakili, dia hanya menjadi penonton saja. Meski begitu hadirnya di acara ini cukup membuatku salah tingkah.
Tiba saatnya kelasku yang pentas. Aku naik panggung membawa gitarku yang warna hitam. Kurasa Kak Mirah memperhatikanku dari bawah pohon kamboja. Semua mata tertuju pada kami yang dipanggung. Pementasan musikalisasi puisi ini kami mulai dari pembacaan puisi seorang temanku yang Aku iringi dengan petikan gitar. Nada-nadanya pelan untuk menggairahkan indahnya puisi ini. Nyanyian yang bergema penuh dengan rintik rindu, kampus bawah kurasa saat itu penuh dengan lantunan doa-doa puisi.
Diakhir pementasan tepuk tangan mengiringi, Aku lega begitu juga teman-temanku. Kuperhatikan Kak Mirah, dia tersenyum padaku dan Aku balas senyumnya. Mulai saat itu dia tahu Aku bisa bermain musik. Aku tanya apa pendapat dia tentang lelaki yang bisa bermain musik, katanya lebih baik daripada tidak bisa sama sekali. Kuanggap itu pujian dan kusimpan dalam hati. Tidak cukup sampai disitu, sebagai anggota dari HMJ Aku juga ditunjuk untuk mengisi acara sambil menunggu merekap nilai dari dewan juri. Lagi, Aku naik panggung untuk bernyanyi.
Aku bingung bernyanyi lagu apa hari ini. Ada Kak mirah yang membuatku salah tingkah disini. Ada yang meminta Aku menyanyikan lau Iwan Fals – Yang Terlupakan. Mereka yang meminta dari kelasnya Kak Mirah. Aku nyayikan semampuku dan mereka juga ikut bernyanyi. Emosional sekali kurasakan dipanggung ini meskipun hanya sekelas pementasan di jurusan saja. Yang membuatnya tidak biasa adalah perasaanku ini, entah kenapa selalu tertuju pada sosok Kak Mirah. Sepertinya Aku bisa masuk pelan-pelan ke hati Kak Mirah. Terutama hari ini saat kunyanyikan lagu-lagu yang sesunguhnya kunyanyikan untuknya. Tapi tak kubilang padanya langsung nanti dikira Aku gombal. Tapi memang benar begitu adanya Aku bersedia menyanyikan banyak lagu asal mau duduk berdua disebuah sore denganku.