Aku ngobrol dengan Bu Anggi tentang pendekatanku dengan Kak Mirah. Aku bilang semenjak pertemuan tanpa sengaja di ruang kelas BI. 4 dia membuatku semangat lagi. Bu Anggi bertanya apa Aku menyukainya, Aku jawab memang Aku sudah menyukainya saat pertama bertemu. Namun Bu Anggi tak percaya, dia bilang Aku akan mempermainkannya lagi. Aku meyakinkannya bahwa ini beda tidak seperti mereka yang menjadi pelarian saja. Kupastikan ini semacam kasih sayang yang rela Aku melakukan apa saja untuknya.
Bu Anggi tanya sudah yakinkah perasaanku ini. Aku bilang sudah namun tidak tergesa-gesa kusampaikan padanya. Aku perlu momen yang tepat dan ingin melewati banyak hal dengannya. Bu Anggi meminta Aku mengajaknya ke warung untuk berkenalan dengannya. Bagaimanapun dia perlu tahu siapa perempuan ini yang mampu membuatku kembali tersenyum. Kujanjikan nanti setelah jam kuliah selesai akan kuajak dia ke warung sekalian makan. Aku minta ke Bu Anggi untuk menyiapkan masakan handalannya sebab ini momen penting.
Kebetulan Aku bertemu Kak Mirah di depan ruang kajur dengan membawa jurnal dan beberapa judul penelitian. Dia aku tanya, katanya sedang menunggu giliran konsultasi. Aku ganggu waktunya sebentar hanya ingin bilang nanti sore Aku ingin mengajaknya makan ke warung Bu Anggi. Dia bertanya Bu Anggi itu siapa, Aku bilang dia ibu keduaku disini. Awalnya dia ragu mungkin dia berpikir Aku akan mengenalkannya dengan keluargaku. Tapi kuyakinkan bahwa ini cuma makan saja dan Bu Anggi orangnya baik.