GENTA 2018

Rayasa Kherta
Chapter #23

TAMAN REKTORAT


Halaman kesekian ini buat Kak Mirah. Sejujurnya Aku telah berencana bilang cinta sambil kemah. Telah kurencanakan baik-baik dari pergi hingga pulangnya. Namun apa daya Aku hanya mahasiswa biasa yang banyak rencana tapi kurang gregetnya. Bukan salahmu hanya saja waktu belum memungkinkan. Sehingga entah kenapa pada siang di hari kamis setelah kuliah bareng, Aku memberanikan diri buat bilang cinta kepadamu. Aku mengajakmu duduk di taman rektorat. Beberapa saat kujelaskan perasaan ini dari awal sampai akhir yang intinya Aku telah mencintaimu dari pagi, siang, sore dan selanjutnya malam. Aku bilang pertemuan pertama adalah nasib sedangkan pertemuan selanjutnya adalah takdir. Sehingga Aku sebagai lelaki merasa beruntung dapat mencintaimu begini hebatnya.

Kau juga bilang cinta dan sayang denganku. Hal yang telah dilalui bersama adalah keberuntungan buat kita. Menurutmu, Aku laki-laki pertama yang mengajarkan bermain gitar sehingga merasa perlu untuk dicintai sebagaimana Aku padamu. Namun kenapa setelah kupertegas bahwa kita telah menjadi sepasang kekasih kau bilang belum. Katamu ada hal lain yang mesti Aku pahami. Aku tanya apa itu, kau bilang bahwa kau mencari sentana karena anak tunggal. Jadi, di Tabanan ada adat nyentana kalau anak perempuan tunggal harus tetap tinggal di rumah melanjutkan keturunan. Sampai saat ini adat nyentana masih dipegang teguh oleh keluarga Kak Mirah.

Aku begini saja soal cinta tak kupersulit sama sekali dan tidak peduli bagaimanapun alasannya. Kau telah bilang cinta dan sayang lalu itu cukup membuatku memperjuangkanmu. Sebab Aku yakin cinta itu harus terbalaskan kalau tidak bukan cinta namanya. Kau sebagai perempuan telah jujur mengatakannya dan Aku hargai itu. Tentang adatmu, Aku pribadi tak peduli sebab urusanku hanya mencintaimu.

Kau tidak menjawab beberapa pertanyaanku soal kepastian hubungan kita ini. Namun satu hal kau bilang padaku bahwa cintamu jangan sesekali diragukan. Kau minta waktu beberapa hari yang pasti tidak sampai seminggu katamu. Aku izinkan permintaanmu itu, dengan syarat kau jangan ego memendam rasa karena adatmu yang begini menempatkan perempuan yang kebetulan anak tunggal. Kita sudah saling mencintai itu makannya tidak ada diantara kita yang ingin berpisah. Ya sudah kuberi waktu buat berpikir tentang hubungan ini. Kupastikan tidak akan membiarkanmu sendirian sehingga keraguan menyelimuti hatimu. Urusanmu adalah kewajibanku juga sehingga Aku berhak menjagamu dengan perhatian. Tak setetespun air mata boleh jatuh ke pipimu karena cinta kita ini. Dosa kita membuat pertemuan yang telah dimaksudkan baik malah diartikan tidak baik.

Kau tenang saja Aku akan tetap menyanyikanmu banyak lagu dalam hari-hari ini sambil menunggu jawabanmu. Kau juga tidak usah khawatir tentang mengajarimu bermain gitar, itu tetap kewajibanku. Apalagi menjemputmu sepulang kuliah atau mengantarkanmu makan di warung Bu Anggi itu tetap tugas pokokku. Aku yakin hari-hari ke depan akan baik dan menyenangkan sebab kalau sudah sayang tidak bisa dikompromi. Sekuat apapun kita menahan yang datang akan datang juga. Pirasatku berkata tidak ada yang boleh menghalangi kebahagiaan ini. Semoga Tuhan selalu menyertai Aku dan kamu. Baik bagiku untuk bersabar dalam beberapa hari kedepan. Sebab Aku kau tidak akan kemana-mana separuh hatimu telah ada di Aku. Telah kukunci sehingga jalan pulangnya cuma satu yakni Aku sebagai rumahmu.

Lihat selengkapnya