Mirah pacarku, sunguh ini Aku tulis agar kau tahu bahwa ingin sekali Aku bertatap muka dengan tanah kelahiranmu yakni Tabanan. Beberapa hari ini kau bercerita banyak hal tentang rumahmu dan halaman rumahmu. Aku jadi penasaran jalan yang seperti apa yang membuatmu kangen ingin pulang. Aku tahu jalan-jalan menuju kotamu sungguh indah nan menawan. Sepanjang jalan ada sawah di kanan kiri. Bahkan kau bercerita tentang Jati Luwih yang sesunguhnya Aku sudah pernah kesana tapi ingin lagi. Aku ingin punya rumah di desa yang ada sawahnya denganmu. Entah kenapa angan-anganku ingin hidup berdua denganmu mungkin Aku memang telah kau kunci dalam cinta yang begitu hebatnya.
Lalu dalam obrolan ini kau bertanya tentang rumahku di Gianyar. Kau bilang ada Ubud dan Tegallalang yang asik buat dikunjungi. Memang begitu adanya tapi Aku telah menganggapnya sebagai tempatku pulang ke rumah saja. Untuk masalah hati dan pikiran sudah kau dan kotamu yang kutuju. Jangan tanyakan kenapa begitu sebab tak ingin kuungkit-ungkit lagi tentang luka lama. Bahwa Aku siap mengantarkanmu pulang ke Tabanan sebagaimana yang kau ceritakan padaku.
Mirah bolehkah Aku curhat tentang kota dan daerahmu. Begini, memang sebelum kenal denganmu Aku ingin punya pacar orang Tabanan. Bahwa kemudian Aku punya keyakinan perempuannya cantik dan ayu. Bahwa itu yang terbesit dibenakku ketika perkenalan awal denganmu. Aku tidak salah memilihmu dan kau juga tidak salah mencintaiku. Seperti yang kau bilang bahwa minggu ini kau harus pulang ke Tabanan. Aku mengizinkan dan biar Aku yang mengantarkanmu. Nanti setelah dari mengantarkamu biar Aku pulang ke Gianyar sendiri. Kau jangan pikirkan jarak yang kutempuh Aku laki-laki bisa jaga diri. Tugasmu berkemas barang yang mana saja yang kau bawa pulang. Kita berangkat pagi agar tidak kepanasan di jalan. Aku bawa motor kesayanganku biar motor ini menjadi saksi bahwa kau benar-benar kuantarkan hingga ke rumahmu.
Aku sudah berangkat menuju kostmu di jalan A.Yani samping pom bensin. Aku sudah masuk gang lalu kau telah menungguku di depan kost. Kau telah memakai helm, jaket dan sepatu putih variasi pink kesukaanmu. Aku tahu kau belum sarapan maka kewajibanku mengajakmu makan di warung bu Anggi. Aku mau makan ayam isi kangkung dan sate ikan laut. Kau bilang tambah perkedel jagung dan kerupuk kulit. Sebenarnya Aku tidak suka perkedel jagung tapi buatmu apa yang tidak. Pantas saja lauknya sebanyak ini teryata kau ingin makan sepiring berdua denganku. Kau menyuapiku ayam dan Aku pura-pura sibuk bermain hp. Sengaja begitu biar kau protes dan menyuruhku menaruh Hp. Mirah pacarku tersayang, kukira kau tidak perhatian begini orangnya. Kau membuatku semakin jatuh cinta saja. Aku tidak sabar bertemu ibumu buat bilang terima kasih atas kehadiranmu di dunia ini. Sarapan ini menjadi sangat nikmat dan tidak usah bayar. Bu Anggi memang tahu kalau anak muda jatuh cinta tidak boleh dimintai uang melainkan harus diberikan uang. Begitu kataku sambil bercanda dengannya.
Kita lanjutkan perjalanan ini dengan melewati tugu tiga di Singaraja. Naik ke Git-Git hingga turun ke Pancasari. Lebih lanjutnya kau sebagai penunjuk arah. Tugasku hanya belok kanan atau kiri dan memperlambat laju kendaraan karena jalan turunan. Sepanjang perjalanan kau memelukku erat sehingga Aku merasa aman dan nyaman. Hingga sampai di suatu desa yang di kanan-kirinya banyak sawah. Ini yang Aku suka perjalanan ke rumahmu selain mengantarmu dapat pemandangan juga. Kau bilang beberapa kilometer lagi sudah sampai di rumahmu. Sejujurnya Aku grogi bertamu ke rumahmu tapi tidak usah dipikirkan biar Aku saja yang menyelesaikan. Aku parkirkan motor dihalaman rumahmu. Kita disambut oleh nenekmu sedangkan Ayah dan ibumu masih diluar. Aku dibuatkan teh oleh nenek dan diajak mengobrol sebentar. Lalu ibu dan ayahmu datang, kau kenalkan Aku berasal dari Gianyar.