GENTA 2018

Rayasa Kherta
Chapter #27

ACC JUDUL SKRIPSI

Ada kabar baik dari Mirah padahal Aku masih kuliah di telponnya berkali-kali. Sengaja tidak Aku angkat malah dia sudah menunggu di depan kelas BI 4. Aku tanya kenapa telpon terus Aku masih kuliah. Dia malah senyum-senyum tidak jelas. Aku tanya lagi, ada apa senyum-senyum begitu. Dia tiba-tiba memelukku untung tidak banyak orang di lorong kampus. Sambil berbisik dia bilang kalau judul penelitiannya di acc oleh ketua jurusan. Aku ikut senang dibuatnya tapi sedikit sedih kalau dia cepat buat skripsi berarti cepat wisuda dan kita akan berbeda kota.

Katanya judul penelitian sudah diterima oleh dosen pembimbingnya namun dikuatkan lagi alasan mengapa judul itu penting dan relevan. Aku tidak mengerti bagian yang itu sebab belum mendapat mata kuliah skripsi. Dia juga bilang akan banyak menghabiskan waktu mencari buku-buku yang relevan dengan penelitiannya. Aku tanya penelitiannya tentang apa, dia jawab tentang puisi dengan pendekatan kontekstual. Ya sudah nanti Aku temani ke perpustakaan untuk cari buku-buku yang dimaksud. Kata Mirah tidak usah buru-buru, teman-temannya yang lain juga belum banyak di acc judul penelitiannya jadi santai dulu.

Dia agak cemas pada pembagian dosen pembimbing. Dia tidak mau dosen yang killer menjadi pembimbingnya. Dia sebut beberapa nama dosen yang menurutnya killer tapi disini tidak enak Aku bilang. Pada intinya Mirah takut kalau skripsinya dicoret-coret dan mengulang untuk revisian terus. Pada saat Mirah bilang nama-nama dosen yang dikategorikan killer menurutku tidak sama sekali. Sebab pada mata kuliah dosen itu, Aku mendapatkan nilai yang baik terus. Aku berdebat dengan Mirah tentang kategori dosen killer, tapi Aku mengalah saja. Aku suruh dia untuk berdoa saja semoga mendapatkan dosen pembimbing sesuai harapannya.

Seminggu kemudian pembagian dosen pembimbing di depan ruang jurusan. Mirah sudah deg-degan dari kemarin katanya tidur tidak nyenyak. Ketika dibacanya pengumuman dosen pembimbing, Mirah sangat dilema. Dosen pembimbing 1 sesuai harapannya tapi dosen pembimbing 2 yang dia bilang killer itu. Aku ditelponnya berkali-kali padahal Aku masih nongkrong di kantin. Mirah menyuruhku untuk ke Banyuning ke kost Dewi temannya. Aku kesana dan melihat Mirah sudah menangis sambil memeluk boneka milik Dewi.

Aku menghampirinya lalu minta peluk. Aku tanya kenapa harus menangis dia malah diam saja. Lalu Dewi menceritakan kalau Mirah takut bimbingan dengan dosen pembimbing keduanya. Dalam hati Aku merasa, Mirah terlalu banyak mendengar persepsi buruk tentang dosen keduanya. Kalau bimbingan dengan dosen itu mesti tahan banting dan perlu kesabaran yang ekstra. Aku sebenarnya jengkel Mirah tidak percaya diri begitu hanya karena dosen pembimbing saja sampai menangis begini. Aku bilang padanya tidak usah terlalu dipikirkan yang penting paham akan penelitiannya. Malah Aku dibilang sok tahu dan nanti pasti akan tahu bagaimana susahnya skripsian. Aku jawab seandainya nanti dosen killer yang versi Mirah menjadi pembimbingku, Aku tidak akan takut sampai menangis begini.

Mirah melepas pelukannya kepadaku. Dia marah Aku bicara begitu padanya lalu Dewi yang membuat suasana kembali kondusif. Mirah sudah sedikit tenang lalu menyuruhku untuk mengelus-elus rambutnya. Itu artinya dia lagi manja dan ingin minta maaf padaku soal yang tadi. Namanya juga sayang dimanjain sedikit langsung minta peluk. Selain minta peluk dia juga minta ote-ote di Telkom. Kalau tidak mau Aku membelikannya dia mengancam akan nangis lagi. Aku bilang nangis saja sampai air matanya kering dia malah menjewer kupingku. Hanya dia yang berani menjewer kupingku lalu menyuruhku beli gorengan ke Telkom.

Sambil makan gorengan Aku bilang padanya jangan sedikit-sedikit menangis. Jangan mengeluh hanya karena dosen pembimbing tidak sesuai harapan. Lakukan yang terbaik dulu masalah revisi dan sabagainya Aku kira itu hal biasa. Aku bukannya mau bijak tapi kamu harus belajar menjadi tegar apapun yang terjadi. Aku ngomong begini sebagai pacarmu maka dengarkan baik-baik. Jangan sampai tiga kali Aku bilang maka yang keempat kalinya Aku anggap kamu tidak mengharagaiku.

Lihat selengkapnya