Mirah, sore ini orang tuamu mengundangku untuk bertamu ke rumahmu di Tabanan. Aku terima undangan itu aku akan kesana sendirian tidak usah orang tuaku ikut ini urusanku dan tanggung jawabku. Aku yakin obrolan ini akan seputar hubunganku denganmu. Tetapi apapun kata orang tuamu, aku bisa menjawab selayaknya anak muda yang punya idealisme. Pada sore yang gerimis itu aku duduk dengan ayah dan ibumu, mereka langsung bertanya perihal keseriusan hubunganku denganmu. Aku jawab hubunganku sangat serius karena cinta yang kami pelihara tidak usah ada karena-karena lagi. Kami tidak bermaksud menentang adat tapi kalau ini bertentangan biarkan saya tetap mencintai Mirah apapun yang terjadi. Bilamana nanti saya dianggap tidak hormat dengan keputusan keluarga besar maka yakinlah mereka jauh tidak hormat dengan menghalangi cinta dua manusia yang sangat ingin hidup bersama.
Aku juga bilang sejak bertemu denganmu, aku sudah jatuh cinta lebih detailnya ketika UAS di kampus saat itu ada rasa yang tidak bisa dijelaskan dengan logika saja. Hari-hari berlalu dan banyak hal yang terjadi seperti makan bareng, duduk di bawah pohon kamboja, menyaksikan teater, main gitar dan masih banyak yang lainnya. Kita paling suka pacaran ke Pantai Lovina menyaksikan lumba-lumba yang muncul kepermukaan. Kadang menyaksikan sore terbenam di sudut Kota Singaraja, semuanya gembira kami lakukan sebagai sepasang kekasih maka ini pasti cinta dan tidak usah diperdebatkan lagi.
Saat sedang asik-asiknya aku jelaskan tentang apa saja yang kita lakukan di Singaraja, ayahmu bilang kalau kau mencari sentana dan aku jawab sudah tahu! Justru itu semakin membuatku sayang dengan Mirah. Lalu ayahmu bilang hubungan ini tidak usah dilanjutkan karena kita sama-sama anak tunggal. Mendidih darah ini, seketika aku bilang kepada orang tuamu bahwa aku tidak ada hubungan dengan adatmu. Aku tidak peduli bagaimana adatmu memperlakukan anak tunggal di lingkungan keluargamu, sungguh aku tidak peduli! Kepentinganku hanya mencintai Mirah tidak lebih dan tidak kurang jika seandainya orang tuamu keberatan dengan sikapku silahkan saja itu urusan mereka!
Aku bilang apapun yang terjadi Mirah akan tetap menjadi kekasihku. Bahkan kalau seandainya Mirah dilarang bertemu denganku maka secara terus terang aku akan datang ke rumahnya hanya memastikan keadaan Mirah baik-baik saja. Bilang kepada orang tuamu, aku ini masih muda dengan idealisme cinta yang berapi-api tidak ada sepatah katapun yang mampu membuatku pulang sebagai pecundang! Sampaikan juga aku akan tetap menemuimu bahkan ke rumahmu bertamu hanya menemuimu. Catat! Hanya menemuimu bukan untuk orang tuamu.
Sudah aku jelaskan juga tentang perspektif cinta tidak usah ada karena-karena hanya cinta yang membuat pagi selalu menjadi pagi yang bergairah tetapi mereka tertawa menyepelakanku. Bagi mereka, aku hanya anak kemarin sore yang tidak usah diperhitungkan. Mereka ego sekali tidak mau menghargai apa saja kebahagiaan yang tercipta selama bersamaku. Dengan enteng mereka bilang diluar sana banyak lelaki yang mau denganmu yang lebih baik dariku. Aku tersinggung bukan karena aku direndahkan tetapi cinta diinjak-injak oleh persepsi orang tuamu itu.