Mirah, ada apa ini? aku dengar berita buruk. Kenapa surat yang aku kirim tidak diterima olehmu. Kenapa dibuang di tong sampah depan rumahmu padahal didalamnya ada sore, lagu dan puisi. Lalu amplop putih dengan garis merah mudah pada setiap sisinya menjadi kotor dan tidak indah lagi. Bagaimana ini bisa terjadi apa kau tidak bisa bicara kepada orang tuamu kalau tidak suka denganku jangan membuang sore dengan amplop ke tong sampah. Tanyakan ke orang tuamu apa maksudnya? Padahal sudah jelas teruntuk Mirah kekasih hatiku kenapa orang tuamu tidak respect sedikitpun tentang yang bukan haknya dibuka lalu dibuang. Ini sudah keterlaluan dan aku kecewa kau diam saja. Kau, kuharapkan bisa bertindak lebih ternyata hanya menjaga pesanku saja tidak bisa.
Orang tuamu salah kenapa dibiarkan begitu saja jelas-jelas pesan itu teruntuk Mirah kekasih hatiku. Dimana pendirianmu, dimana banyak hal yang aku ajarkan di Singaraja padahal banyak buku yang selesai kau baca kenapa tidak berdaya begini sekarang. Apa mereka berhasil membuatmu ragu bahwa aku bukan satu-satunya orang yang mencintaimu. Apa kau mulai berpikir bahwa ada lelaki lain seperti orang tuamu bilang. Mirah tolong jaga perasaanku disini minimal kau bersikap atas amplop yang berisi sore, lagu dan puisi yang terbuang di depan rumahmu. Bilang kepada mereka bahwa mereka salah dan aku tidak akan pernah respect lagi ke mereka.
Seperti yang sudah aku tebak bahwa mereka mengajakmu mengobrol serius. Katanya, kau tidak boleh menikah ke luar dan kau harus tinggal di rumah melanjutkan keturunan keluargamu. Jangan sampai sekeluarga menjadi korban atas keegoisan dirimu. Harga mati Mirah harus berpisah denganku bagaimanapun caranya. Mereka telah menyiapkan calon penggantiku, dia masih dari keluarga dekat dan yang penting mau nyentana. Kalau dengan dia sudah pasti semua setuju soal cinta pasti bisa tumbuh seiring waktu berjalan. Kalau semuanya berjalan lancar dalam waktu dekat hari baik itu bisa dilakukan. Keluarga senang dan semua bahagia tinggal menunggu keputusan dari Mirah saja.
Mirah cerita semua kepadaku. Katanya dia sudah berargumen sekuatnya bahwa persepsinya tentang cinta sama sepertiku. Apa yang aku ajarkan sudah dia bilang begitu saja namun dalam obrolan itu kurang berimbang, Mirah hanya sendirian tidak ada yang mendukungnya sedangkan keluarga yang lain satu suara dengan ayahnya. Sedangkan Ibunya Mirah hanya terdiam yang sampai sekarang aku masih belum tahu sikapnya. Akhirnya Mirah menangis dipelukan ibunya disaksikan keluarganya. Aku tidak tega melihatnya berjuang sendirian maka aku ambil sikap hari itu juga. Aku ke rumahnya sendirian menemui orang tuanya, aku bilang bahwa Mirah milikku siapapun yang menganggu hubunganku dengan Mirah akan berhadapan denganku entah dengan jalan bagaimanapun aku siap meladeni. Kalau dengan perdebatan tidak bisa maka Mirah terpaksa aku bawa kemana saja terserahku.